Monday, October 26News That Matters

China Kuasai 74,8% Pasar Ekspor Bambu, Indonesia Masih 0,9%


Wacana Berita, Jakarta –

China mendominasi pasar ekspor bambu global dengan pangsa mencapai 74,8%, sedangkan Indonesia baru menguasai 0,9%. Kesenjangan tersebut menjadi tantangan bagi industri bambu nasional untuk meningkatkan daya saing, terutama ketika permintaan produk berbasis bambu di pasar dunia diproyeksikan terus meningkat.

Nilai pasar produk berbasis bambu global diperkirakan naik dari US$74 miliar pada 2024 menjadi US$118,3 miliar pada 2034, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk atau compound annual growth rate (CAGR) sebesar 4,8% selama periode 2025-2034.

Besarnya peluang pasar tersebut belum sejalan dengan posisi Indonesia dalam perdagangan internasional. Padahal, bambu merupakan salah satu sumber daya alam yang tersedia di berbagai daerah dan berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, mulai dari furnitur hingga material konstruksi.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai penguatan rantai pasok menjadi salah satu aspek penting untuk mengembangkan industri bambu nasional. Ketersediaan bambu dalam jumlah memadai saja tidak cukup jika kualitas dan standar bahan bakunya belum memenuhi kebutuhan industri.

Karena itu, pemerintah melanjutkan penyelenggaraan Akademi Komunitas Bambu (AKB) 2026 melalui Balai Diklat Industri (BDI) Yogyakarta pada 18-31 Oktober 2026. Program ini diarahkan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengelola pasokan bambu, termasuk melalui pembentukan pusat logistik di daerah potensial.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan, pengembangan industri bambu memerlukan tenaga terampil yang mampu mengelola rantai pasok, dari pengumpulan bahan mentah hingga pengolahan untuk menghasilkan bambu siap pakai.

“Bambu merupakan komoditas strategis yang tumbuh melimpah di Nusantara, namun potensinya baru dapat dioptimalkan apabila didukung oleh SDM yang andal dalam mengelola rantai pasoknya. Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) AKB ini, kami mempersiapkan SDM yang mampu mengelola pusat logistik bambu guna memenuhi kebutuhan bahan baku bambu siap pakai yang berkualitas,” ujar Putu.

Pasokan Bambu Jadi Tantangan Industri

Persoalan pasokan menjadi salah satu hambatan yang perlu diselesaikan agar pemanfaatan bambu dapat berkembang lebih luas. Industri membutuhkan bahan baku yang terstandar, awet, dan siap diolah, sedangkan kelembagaan penyedia bambu yang mampu memenuhi persyaratan tersebut dinilai masih terbatas.

Kondisi ini turut menjadi perhatian dalam pengembangan Cement-Bamboo Frame Technology (CBFT), teknologi konstruksi berbasis bambu yang berpotensi digunakan untuk pembangunan rumah sederhana tipe 36.

Teknologi tersebut memiliki karakteristik ringan sehingga dapat dirakit tanpa alat berat. Penggunaan bahan baku lokal juga berpotensi memperkuat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam ekosistem konstruksi modular nasional.

Peluang ini relevan di tengah program pembangunan 3 juta rumah per tahun. Namun, pemanfaatan bambu untuk konstruksi tetap membutuhkan kepastian pasokan bahan baku yang memenuhi standar dan tersedia secara berkelanjutan.

Melalui AKB, Kemenperin berupaya menyiapkan tenaga terampil yang dapat mendukung pembentukan Pusat Logistik Industri Bambu. Fasilitas tersebut dirancang untuk menjalankan fungsi pengumpulan, pengolahan, pengawetan, dan distribusi bambu sesuai kebutuhan industri.

Peserta AKB 2026 di Yogyakarta berjumlah 25 orang yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan Sumatera Barat. Mereka mendapatkan pelatihan teknis dan manajerial, termasuk proses penyimpanan, pengeringan, serta pengawetan bambu.

Sebelumnya, AKB tahap pertama digelar di Bali pada 22 September-3 Oktober 2026 dan diikuti 25 peserta dari tujuh provinsi. Program tersebut menghasilkan delapan proposal perencanaan pusat logistik bambu berdasarkan potensi daerah masing-masing.

Peluang Ekspor Tak Hanya Furnitur

Produk berbasis bambu memiliki pasar yang beragam. Dalam data yang disampaikan Kemenperin, furnitur menjadi segmen pemanfaatan terbesar dengan pangsa 28%, disusul scaffolding sebesar 17% dan engineered bamboo sebesar 16%.

Selain itu, bambu digunakan untuk pulp dan kertas dengan pangsa 13%, arang dan karbon aktif 10%, kerajinan tangan 6%, tekstil 6%, serta produk lainnya sebesar 4%.

Baca Juga: Terdesak Dominasi Mobil China, Jepang Pangkas Waktu Pengembangan Kendaraan Jadi 3 Tahun

Baca Juga: RI Pangkas Ekspor Gas, Singapura Tagih Komitmen Kontrak

Baca Juga: Singapura Tak Khawatir Indonesia Pangkas Ekspor Gas, Tan See Leng Ungkap Dampaknya

Keragaman penggunaan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan industri bambu tidak hanya bergantung pada produk kerajinan tradisional. Bambu juga dapat diolah untuk memenuhi kebutuhan sektor konstruksi, manufaktur, dan industri berbasis material lainnya.

Di tengah dominasi China dalam perdagangan global, penguatan kemampuan pengolahan dan standardisasi bahan baku menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan daya saing Indonesia.

Namun, peningkatan kapasitas produksi dan pembentukan pusat logistik perlu diikuti dengan akses pasar, pengembangan produk, serta kemampuan memenuhi persyaratan pembeli internasional.

Dengan pasar global yang diproyeksikan mencapai US$118,3 miliar pada 2034, peluang pengembangan industri bambu Indonesia masih terbuka. Tantangannya adalah mengubah ketersediaan sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar ekspor.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *