
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan teknikal pada perdagangan Jumat (23/10/2026). Namun, investor masih perlu mewaspadai volatilitas pasar di tengah aksi jual bersih investor asing yang telah mencapai Rp119,10 triliun sepanjang tahun berjalan, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian global.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta memproyeksikan IHSG berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan bearish hingga konsolidasi. Meski demikian, peluang technical rebound masih terbuka apabila tekanan jual mulai mereda.
Pada perdagangan Kamis (22/10/2026), IHSG ditutup menguat 1,11% ke level 5.387,905. Penguatan ini memperpanjang tren rebound menjadi tiga hari berturut-turut setelah indeks sempat tertekan hingga di bawah level psikologis 5.000, di tengah dinamika evaluasi MSCI dan penyesuaian regulasi batas penurunan harga saham atau auto rejection bawah (ARB) menjadi 7%.
Secara teknikal, pergerakan IHSG menunjukkan momentum penguatan setelah menyelesaikan bagian awal pola wave 5/(C)/Y. Indikator Stochastics K_D dan Relative Strength Index (RSI) juga memberikan sinyal positif, meskipun volume perdagangan mengalami penurunan.
“Level support IHSG pada 5.165 dan 5.111. Sementara itu, level resistance berada di 5.445 dan 5.597,” kata Nafan dalam riset hariannya, Jumat (23/10/2026).
Dia mengaku, penguatan indeks sebelumnya ditopang oleh saham-saham berfundamental kuat di sektor energi, transportasi, dan barang konsumsi. Aksi pembelian kembali saham (buyback) oleh sejumlah emiten besar, termasuk perusahaan perbankan, serta perburuan saham defensif turut menjadi katalis positif bagi pemulihan pasar.
Meski begitu, tekanan dari investor asing masih menjadi perhatian. IHSG mencatatkan net sell asing sebesar Rp1,47 triliun dalam perdagangan harian, sedangkan akumulasi net sell sepanjang tahun berjalan telah mencapai Rp119,10 triliun. Kinerja IHSG secara tahun berjalan juga masih terkoreksi 37,69%.
Dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah sebesar 0,21% ke level Rp18.060 per dolar AS menambah risiko bagi pasar saham. Apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut bersamaan dengan aksi jual asing, saham-saham berkapitalisasi besar yang likuid dan memiliki kepemilikan asing tinggi berpotensi menghadapi tekanan lanjutan.
Investor juga akan mencermati rilis data jumlah uang beredar atau M2 money supply pada Jumat (23/10/2026). Data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kondisi likuiditas perekonomian domestik. Namun, pengaruhnya terhadap IHSG perlu dicermati bersama perkembangan sentimen MSCI dan pergerakan pasar global.
Dari eksternal, kekhawatiran terhadap besarnya belanja investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) turut membayangi pasar. Sejumlah perusahaan teknologi besar memang membukukan laba kuartal III yang melampaui ekspektasi, tetapi investor semakin memperhatikan ketidakpastian tingkat pengembalian investasi AI serta kenaikan belanja modal (capital expenditure atau capex).
Sentimen geopolitik juga menambah ketidakpastian setelah serangan kelompok Houthi terhadap sasaran di Arab Saudi mendorong harga minyak Brent sempat menembus US$113,9 per barel dalam perdagangan intrahari. Lonjakan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan membuat ruang pelonggaran kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) semakin terbatas.
Baca Juga: IHSG Bangkit dari Zona Merah, Ditutup Menguat 1,12% ke Level 5.387
Baca Juga: Dino Patti Djalal: MSCI Tak Mungkin Jadi Alat Singapura Rebut Aset Indonesia
Baca Juga: Bukan Soal Indeks atau Free Float, MSCI Soroti Bad Actors di Pasar Saham RI
Di sisi lain, klaim awal tunjangan pengangguran di Amerika Serikat yang masih berada di sekitar level terendah dalam beberapa dekade menunjukkan pasar tenaga kerja negara tersebut relatif solid. Kondisi ini mendukung konsumsi, tetapi juga dapat membuat The Fed lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga apabila tekanan inflasi kembali meningkat.
Kecemasan investor terhadap volatilitas pasar tercermin dari kenaikan CBOE Volatility Index (VIX) sebesar 14,09% ke level 19,03. Kenaikan indeks volatilitas tersebut menunjukkan meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap potensi gejolak harga saham.
Di tengah kondisi tersebut, Nafan menyarankan investor untuk mengakumulasi saham-saham pilihan yang memiliki fundamental solid, neraca keuangan sehat, prospek pertumbuhan jelas, serta likuiditas perdagangan kuat. Investor juga diimbau menerapkan manajemen risiko secara disiplin, mengingat peluang pemulihan IHSG masih dibayangi tekanan jual asing dan ketidakpastian global.
