
Fitch Ratings menilai prospek ekonomi Indonesia dibayangi tiga risiko utama, yakni kepercayaan investor yang masih rapuh, tekanan terhadap rupiah, dan ruang fiskal yang terbatas. Ketiganya berpotensi menekan ketahanan ekonomi jika ketidakpastian kebijakan dan tekanan eksternal terus berlanjut.
Dalam laporan, Fitch memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2% sepanjang 2026, di bawah target awal pemerintah sebesar 5,4%. Pertumbuhan diperkirakan melambat pada semester kedua setelah dorongan belanja pemerintah pada paruh pertama mulai berkurang.
“Dampak dukungan fiskal pemerintah diperkirakan memudar setelah belanja dipercepat pada semester pertama 2026,” tulis Fitch Ratings dalam laporannya , Rabu (21/10/2026).
Tekanan juga datang dari tingginya tagihan impor yang mengurangi kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan. Fitch memperkirakan ekonomi tumbuh 4,9% pada 2027 dan 2028, sementara target pertumbuhan jangka menengah pemerintah sebesar 8% dinilai sulit dicapai tanpa reformasi struktural yang lebih signifikan.
Risiko kedua berkaitan dengan kepercayaan investor. Fitch menyoroti kekhawatiran terhadap kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, intervensi negara dalam ekspor komoditas, serta tata kelola pasar modal yang dapat mempengaruhi persepsi investor terhadap Indonesia.
Sorotan pasar modal menguat setelah MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar Indonesia menjadi standalone market. Isu transparansi kepemilikan saham dan keterbukaan informasi free float menjadi perhatian, dengan keputusan akhir diperkirakan pada paruh pertama 2027.
Fitch menilai, respons pemerintah untuk menopang rupiah dan penunjukan calon gubernur bank sentral pada akhir Juli telah meredakan sebagian tekanan. Namun, langkah tersebut belum cukup untuk menghilangkan kehati-hatian investor terhadap arah kebijakan Indonesia.
“Sentimen investor yang rapuh dan intervensi valuta asing yang berkelanjutan dapat semakin membebani penyangga eksternal,” tulis Fitch.
Pernyataan tersebut menyoroti risiko ketika upaya menjaga stabilitas rupiah berlangsung terus-menerus. Jika tekanan pasar bertahan, intervensi valuta asing dapat menambah beban pada penyangga eksternal yang diperlukan untuk menghadapi gejolak global.
Risiko ketiga, berada pada APBN. Fitch memperkirakan defisit pemerintah pada 2026 dan 2027 tetap sedikit di bawah batas 3% PDB, tetapi lebih tinggi daripada target pemerintah. Proyeksi ini dipengaruhi asumsi penerimaan dan pertumbuhan yang lebih rendah serta tekanan belanja energi dan sosial.
Baca Juga: Fitch Naikkan Proyeksi Ekonomi RI Jadi 4,9% di 2026
Baca Juga: Rupiah Loyo ke Rp18.060 per Dolar AS Usai Fitch Rilis Proyeksi Ekonomi RI
Fitch juga menilai, penerimaan pemerintah Indonesia masih terbatas dibandingkan negara-negara berperingkat BBB. Di sisi lain, pembiayaan di luar anggaran melalui Danantara dan lembaga terkait berpotensi menimbulkan risiko fiskal kuasi, terutama jika menambah kewajiban pemerintah tanpa transparansi yang memadai.
Meski demikian, Fitch tetap menilai kinerja makroekonomi Indonesia relatif tangguh. Tantangannya adalah menjaga konsistensi kebijakan, memperkuat penerimaan negara, dan mengendalikan risiko fiskal agar tekanan terhadap kepercayaan investor maupun stabilitas rupiah tidak semakin besar.
