
Azura Indonesia, social enterprise yang berfokus pada inovasi kelautan ramah lingkungan, mendorong penerapan teknologi mesin perahu listrik untuk meningkatkan efisiensi operasional nelayan skala kecil. Melalui Program Nelayan Lestari di Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali, implementasi awal mesin perahu listrik MantaOne menunjukkan potensi efisiensi biaya operasional hingga 90%, sekaligus mengurangi ketergantungan nelayan terhadap bahan bakar minyak (BBM).
Inisiatif tersebut diperkenalkan dalam kegiatan Jelajah Inovasi bertajuk “Powering the Blue: A Journey into Clean Energy for Sustainable Fisheries” pada 15 Oktober 2026, sebagai bagian dari Pekan Iklim Bali 2026. Azura Indonesia merupakan salah satu co-initiator dan kolaborator Pekan Iklim Bali, yang tahun ini mengangkat tema “Gerakan Iklim Daerah: Memaknai Kembali Arti Transisi untuk Semua”.
Melalui kegiatan yang diikuti 25 peserta dari berbagai kalangan tersebut, Azura Indonesia, yang juga merupakan mitra atau anggota bagian dari Koalisi Bali Emisi Nol Bersih, memperlihatkan bagaimana teknologi energi bersih dapat diterapkan untuk menjawab tantangan ekonomi dan lingkungan yang dihadapi masyarakat pesisir, terutama tingginya ketergantungan terhadap BBM dalam kegiatan penangkapan ikan.
Dikembangkan sejak 2020, MantaOne merupakan mesin perahu listrik yang dirancang untuk kebutuhan nelayan skala kecil. Teknologi ini menggunakan baterai yang dapat diisi ulang melalui stasiun pengisian daya berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sehingga mendukung penggunaan energi terbarukan dalam aktivitas melaut.
Berdasarkan implementasi awal di Kusamba, penggunaan MantaOne menunjukkan potensi penghematan biaya operasional hingga 90%. Perhitungan tersebut didasarkan pada perbandingan biaya operasional mesin konvensional sebesar Rp100.000,- per perjalanan dengan biaya penggunaan MantaOne sebesar Rp10.000,- untuk 3 baterai per perjalanan.
Direktur dan Co-founder Azura Indonesia, Nadea Nabila, mengatakan bahwa transisi energi bagi nelayan skala kecil tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan teknologi rendah emisi, tetapi juga harus memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat.
“Bagi nelayan skala kecil, transisi energi bukan hanya tentang mengganti mesin berbahan bakar minyak dengan mesin listrik, tetapi juga tentang bagaimana teknologi dapat membuat biaya melaut lebih terjangkau dan usaha mereka lebih tangguh. Karena itu, melalui Program Nelayan Lestari, kami tidak hanya memperkenalkan MantaOne, tetapi juga membangun infrastruktur pengisian daya dan ekosistem pendukung agar manfaat teknologi ini benar-benar dapat dirasakan masyarakat pesisir,” ujar Nadea, Rabu (21/10/2026).
Selain efisiensi biaya, penggunaan mesin listrik menghilangkan emisi gas buang langsung dari pembakaran BBM pada mesin perahu saat beroperasi. Dukungan pengisian daya berbasis tenaga surya juga menjadi bagian dari upaya Azura Indonesia untuk mengurangi emisi dan memperluas pemanfaatan energi terbarukan dalam sektor perikanan.
Dampak penerapan teknologi tersebut turut dirasakan Nengah Sudiarta (51), nelayan asal Desa Kusamba yang telah menggunakan MantaOne dalam aktivitas melautnya.
“Sejak menggunakan mesin listrik, saya tetap melaut meski musim paceklik. Karena saya tidak perlu khawatir dengan biaya BBM. Mesinnya juga tidak bising dan membuat telinga sakit saat melaut,” ungkap Nengah.
Membangun Ekosistem Ekonomi Pesisir yang Berkelanjutan
Melalui Jelajah Inovasi, para peserta tidak hanya diperkenalkan pada teknologi MantaOne dan stasiun pengisian daya tenaga surya, tetapi juga diajak mengunjungi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) serta sentra pemindangan ikan di Kusamba. Kegiatan dilanjutkan dengan pengalaman berlayar menggunakan jukung yang dilengkapi mesin listrik MantaOne.
Pendekatan Azura Indonesia juga mencakup penguatan kegiatan ekonomi masyarakat pesisir, termasuk pengembangan usaha olahan hasil perikanan yang melibatkan kelompok perempuan binaan.
Dalam rangkaian Festival Rakyat Pekan Iklim Bali 2026, Azura Indonesia turut memperkenalkan produk olahan berupa risol cakalang dan abon ikan khas Kusamba. Bahan baku produk tersebut berasal dari hasil tangkapan nelayan setempat yang menggunakan MantaOne, sehingga menghubungkan penerapan energi bersih dengan aktivitas penangkapan ikan dan pengembangan usaha masyarakat dalam satu rantai ekonomi lokal.
Baca Juga: Impor Kapal Tembus US$5,3 Miliar, Kemenperin Dorong Industri Lokal
Baca Juga: Biaya Melaut Turun, Kapal Listrik PIS Ubah Ekonomi Nelayan Kelan Bali
Melalui kegiatan tersebut, Azura Indonesia ingin menunjukkan bahwa transisi energi dapat memberikan manfaat yang lebih luas ketika pengembangan teknologi berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat dan penciptaan peluang ekonomi baru.
Ke depan, Azura Indonesia berupaya memperluas implementasi MantaOne ke berbagai wilayah perikanan di Indonesia. Dalam jangka panjang, Azura Indonesia memiliki visi untuk mendistribusikan hingga 10.000 unit MantaOne guna memperluas akses nelayan skala kecil terhadap teknologi energi bersih.
Pengembangan tersebut diharapkan dapat mendukung terbentuknya ekosistem perikanan yang lebih efisien dan rendah emisi, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi komunitas pesisir. Melalui kolaborasi dengan pemerintah, pelaku usaha, lembaga pembangunan, dan masyarakat, Azura Indonesia berkomitmen mendorong transisi energi yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan emisi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial secara berkelanjutan.
