Tuesday, October 20News That Matters

Massa Kuasai Simpang Lima Bandung, Kritik Masa pemerintahan Prabowo – Gibran


KORAN MANDALA – Ratusan massa gabungan mahasiswa, komunitas, dan warga bergerak menuju Simpang Lima, Kota Bandung, Selasa (20/10/2026).

Pantauan Koran Mandala, Massa kemudian menguasai kawasan simpang lima setelah sebelumnya melakukan perjalanan dari Jalan Braga.

Dalam aksi tersebut, Komunitas inisiator Indung Bandung Ngariung (IBN), Susan Angelica, menyampaikan sejumlah kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang telah berjalan selama dua tahun.

Susan mengatakan, IBN pada dasarnya memiliki tuntutan utama terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, dalam aksi kali ini, pihaknya memilih bergabung dengan elemen massa lainnya untuk menyuarakan tuntutan bersama.

“Kalau kami dari IBN, salah satu tuntutan utama kami itu MBG. Tapi, untuk saat ini, memang kami fokus ikut pada tuntutan umum dalam aksi massa ini,” kata Susan saat diwawancarai koran Mandala Selasa (20/10/2026)

Susan juga menyoroti dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran yang menurutnya terasa sangat berat. Ia menilai berbagai persoalan lingkungan, termasuk kebakaran hutan di sejumlah wilayah di luar Jawa, menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian serius.

“Ini seperti dua tahun, tapi rasanya seperti dua abad. Rasanya seperti neraka. Apalagi buat teman-teman kita di luar Jawa, ya, di Sulawesi, Kalimantan terutama sekarang, Sumatera, dan Papua juga. Hutan-hutan dibakar,” ujarnya.

Massa aksi di Simpang Lima,Kota Bandung Selasa, 20/10/2026 (Sarah/Koran Mandala)
Massa aksi di Simpang Lima,Kota Bandung Selasa, 20/10/2026 (Sarah/Koran Mandala)

Ia menilai, hutan yang seharusnya menjadi paru-paru dunia justru mengalami kerusakan akibat kepentingan kelompok tertentu.

“Hutan-hutan di Kalimantan yang harusnya jadi paru-paru dunia sekarang malah dibakar. Demi apa? Ya, demi memenuhi ego-ego oligarki,” tutur Susan.

Lebih lanjut, Susan menilai perubahan mendasar diperlukan dalam pemerintahan. Ia bahkan meminta Prabowo-Gibran berhenti memimpin apabila tidak mampu mengurus negara.

“Memang tidak ada jalan lain, ya. Harusnya memang revolusi. Harusnya mereka berhenti. Kalau mereka tidak mampu mengurus negara besar ini, ya mereka harus turun. Turun atau diturunkan,” katanya.

Susan juga mengajak masyarakat untuk lebih memahami politik dan mempertimbangkan rekam jejak serta janji kampanye sebelum menentukan pilihan dalam pemilihan umum mendatang.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh politik uang maupun popularitas yang dibangun melalui citra dan hiburan semata.

“Saya berharap kepada masyarakat yang lebih luas untuk bisa lebih melek politik, tidak memilih kembali pemimpin-pemimpin yang zalim seperti ini,” ucapnya.

Susan secara khusus menyinggung Pemilu 2029. Ia berharap masyarakat lebih kritis dalam menilai calon pemimpin, termasuk dengan membaca dan mencermati aspirasi serta janji yang disampaikan selama masa kampanye.

“Nanti di 2029, tolong lebih melek politik lagi. Jangan hanya mudah digoyahkan oleh politik uang, hanya oleh joget-joget. Betul-betul baca aspirasi, baca apa yang mereka janjikan,” katanya.

Menurut Susan, masyarakat yang dahulu memberikan suara kepada pasangan Prabowo-Gibran juga memiliki peran untuk menagih janji-janji kampanye yang telah disampaikan.

“Harusnya, 02 saat itu, mereka yang paling tepat menagih janji-janji kampanye Prabowo-Gibran saat ini,” tandasnya



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *