
KORAN MANDALA – Hamparan tanah yang biasanya terendam air kini terbuka di kawasan Waduk Jatiluhur, tepatnya di Tanggul Ubrug, Kabupaten Purwakarta.
Kemarau panjang mengubah bentang waduk menjadi lahan kering yang dimanfaatkan sebagian warga, mulai dari mencari pakan ternak hingga menikmati pemandangan yang tak biasa.
Bagi Agus, seorang peternak yang tinggal di sekitar Ubrug, surutnya air waduk menghadirkan kesempatan untuk mendapatkan pakan bagi delapan ekor domba miliknya.
Polres Purwakarta Razia Lokasi Rawan Narkoba, Tes Urine Digelar untuk Perkuat Pengawasan
Rumput liar yang tumbuh di lahan terbuka menjadi sumber pakan yang bisa dikumpulkan tanpa harus pergi jauh dari rumah.
Setiap hari, Agus mengarit rumput di area waduk yang mengering. Dalam sehari, ia bisa mengumpulkan sekitar dua karung rumput untuk memenuhi kebutuhan ternaknya.
“Alhamdulillah bisa dimanfaatkan untuk pakan domba. Sehari biasanya mengumpulkan dua karung, cukup untuk kebutuhan ternak di rumah,” ujar Agus, Senin (19/10/2026).
Area yang sebelumnya tertutup air kini dapat dijangkau melalui jalur darat. Perubahan itu membuat sebagian warga bisa memanfaatkan lahan yang biasanya tidak terlihat, terutama untuk mencari rumput bagi ternak.
Namun, bukan hanya peternak yang tertarik datang ke kawasan tersebut. Hamparan dasar waduk yang terbuka juga memancing rasa penasaran masyarakat yang ingin melihat langsung perubahan kondisi Waduk Jatiluhur akibat kemarau panjang.
Tanti, salah seorang warga Purwakarta, datang bersama keluarganya untuk menikmati suasana sore sekaligus menyaksikan pemandangan yang berbeda dari biasanya.
“Penasaran karena musim kemarau panjang ini bikin waduk kering. Ternyata sekarang kita bisa berjalan sampai ke area yang biasanya terendam di tengah,” tutur Tanti.
Ada Manfaat, tetapi Penyusutan Air Tetap Perlu Diwaspadai
Bagi sebagian warga, surutnya air waduk memberikan manfaat langsung. Rumput yang tumbuh di lahan kering bisa menjadi pakan ternak, sementara kawasan yang terbuka menawarkan pengalaman berbeda bagi masyarakat yang ingin melihat kondisi waduk dari dekat.
Meski demikian, pemandangan tersebut juga memperlihatkan dampak kemarau terhadap kondisi perairan. Waduk Jatiluhur memiliki peran penting dalam menunjang berbagai kebutuhan, sehingga perubahan volume airnya tidak semata-mata dapat dilihat sebagai peluang bagi warga.
Penyusutan air yang berlangsung selama musim kemarau perlu dicermati dengan melihat kondisi aktual waduk, termasuk ketersediaan air dan kebutuhan pemanfaatannya.
Di Tanggul Ubrug, warga memang menemukan manfaat dari lahan yang mengering. Namun, di balik hamparan tanah yang kini terbuka, kondisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa ketersediaan air tetap menjadi hal penting yang perlu dijaga.
