
Ketua Dewan Pembina Partai Ummat Amien Rais menyampaikan kritik tajam terhadap masa pemerintahan Presiden ke-7 Jokowi periode 2014–2024.
Ia menilai perjalanan satu dekade kepemimpinan Jokowi sebagai “kecelakaan politik” akibat tingginya tingkat inkonsistensi dalam mengambil kebijakan maupun menyampaikan pernyataan publik.
Pernyataan terbuka tersebut disampaikan Amien Rais melalui tayangan video bertajuk JOKOWI THE MOST INCONSISTENT MAN di kanal YouTube resminya.
Amien menilai sikap politik dan narasi yang dibangun Jokowi kerap kali tidak selaras dengan realisasi di lapangan.
Dalam tayangan tersebut, Amien menyinggung berbagai kegiatan Jokowi setelah purnatugas, mulai dari agenda blusukan hingga interaksi dengan masyarakat di daerah, yang dinilainya sebagai bagian dari pencitraan politik.
Ia juga tidak menutupi ‘kekagumannya’ dan memuji Jokowi karena pandai bermain peran di hadapan kamera.
“Jokowi adalah seorang yang berwatak narsis, walaupun penampilannya itu klemar-klemer sambil cengengesan. Dia itu manusia lumayan berbahaya. Nah kehebatan bapaknya Gibran ini antara lain, kalau sedang menipu raut mukanya seolah jujur. Misalnya, ketika lengser mau pulang ke Solo untuk pensiun dan momong cucu ternyata masih main ‘presiden-presidenan’,” kata Amien
Selain itu, Amien memberikan perhatian khusus pada realisasi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia mengkritik klaim pemerintah terdahulu mengenai antrean investasi asing yang dijanjikan akan mendanai pembangunan IKN tanpa membebani APBN.
Menurut Amien, narasi masuknya investor asing dalam jumlah besar tersebut tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan dan dinilai tidak realistis dari sisi perhitungan logis.
Tidak hanya persoalan IKN, Amien juga mengutarakan pandangannya terkait kebijakan pengelolaan lingkungan hidup selama sepuluh tahun terakhir. Ia menilai terjadi kontradiksi antara komitmen pelestarian hutan dan angka deforestasi yang terjadi.
Amien menyoroti dampak kerusakan lingkungan serta maraknya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah strategis, seperti Sumatra dan Kalimantan, yang disebutnya sebagai salah satu tantangan ekologis serius pascamasa jabatan Jokowi.
