
Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memperluas pemasaran dan membuka peluang ekspor ke pasar internasional.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, AI dapat membantu UMKM mengidentifikasi pasar potensial, memahami preferensi konsumen, menerjemahkan deskripsi produk, menyusun materi promosi, hingga merespons pertanyaan calon pembeli.
“Pelaku usaha, termasuk UMKM, harus bisa memanfaatkan AI dengan baik karena sekarang eranya digital. Jika bisa menggunakan teknologi ini untuk mendukung usaha, ada peluang produk-produk Ibu dan Bapak lebih cepat menemukan konsumen,” kata Budi dalam forum bisnis Go Global with AI: Unlocking New Markets with Meta Indonesia, Kamis (15/10/2026).
Forum tersebut berlangsung pada hari kedua Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten.
Budi mengatakan, Kemendag juga menyediakan fasilitas untuk membantu UMKM mengembangkan usaha dan menjangkau pembeli dari luar negeri. Dukungan tersebut antara lain melalui penjajakan bisnis (business matching) dengan pembeli mancanegara serta kemitraan dengan ritel modern.
“Kemendag selalu terbuka untuk mendukung pelaku usaha mengembangkan ekspor, baik yang besar, menengah, maupun yang kecil,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Meta Indonesia menyerahkan Katalog Siap Ekspansi Global kepada Budi. Katalog itu memuat profil UMKM dan produk unggulan peserta program Gapai Pasar Global dengan AI yang telah dipersiapkan untuk memasuki pasar internasional melalui riset produk dan penyusunan materi promosi berbasis AI.
Program tersebut merupakan kolaborasi Kemendag, Meta Indonesia, dan UKMINDONESIA.ID untuk meningkatkan kapasitas UMKM sekaligus memperluas akses pasar luar negeri. Hingga kini, program tersebut telah memberikan pelatihan kepada 200 UMKM di Bandung, Batam, dan Jakarta.
Direktur Kebijakan Publik Meta untuk Asia Tenggara Sarim Aziz mengatakan, pemanfaatan AI dapat membantu UMKM meningkatkan efisiensi operasional, memahami kebutuhan pasar, dan mengalokasikan sumber daya secara lebih tepat.
Menurutnya, penerapan teknologi tersebut tidak selalu membutuhkan investasi besar untuk membuka peluang bisnis baru, termasuk menjangkau konsumen di pasar global.
Sarim mencontohkan Zayya, salah satu UMKM peserta pendampingan, yang mencatat tingkat pengembalian biaya iklan sebesar 8,46 kali dari belanja iklan senilai Rp150 ribu.
“Bagi UMKM, AI bisa mulai menjadi cara untuk bekerja lebih efisien, memahami pasar, dan mengalokasikan sumber daya dengan lebih tepat. Ketika teknologi ini dipadukan dengan solusi bisnis yang sesuai, bahkan investasi yang relatif kecil dapat membuka akses ke pelanggan baru di pasar global,” ujar Sarim.
Sementara itu, pemilik Craftote Gallery & Coffee, Rika Christina, mengatakan AI membantu usahanya mengembangkan materi promosi melalui pendekatan storytelling atau narasi berbasis cerita.
Rika juga telah mengikuti sejumlah program pembinaan Kemendag, termasuk Designers Dispatch Service (DDS) dan Export Coaching Program (ECP). Ia menilai fasilitas business matching untuk pasar Eropa turut mendukung pengembangan usaha karena kawasan tersebut menjadi salah satu target pasarnya.
Rika berharap dukungan pemerintah terhadap UMKM berlanjut hingga pelaku usaha mampu menjalankan ekspor secara mandiri dan berkelanjutan.
“Kami ingin UMKM dapat dibantu penuh dari awal hingga akhir, sejauh UMKM ingin bertumbuh. UMKM perlu didukung hingga bisa ekspor berkelanjutan. Kami harap, Kemendag bisa membantu hingga UMKM mandiri,” kata Rika.
