Friday, October 16News That Matters

PENDIDIKAN: PUSAT KEBUDAYAAN  – Koran Mandala


(Kata-kata Bijak Seorang Kakek)

0leh: Prof. Maman Djauhari

Ada aroma tak sedap yang tersisa dari Sidang MK yang viral baru-baru ini. Sidang itu telah meninggalkan jejak yang jauh melampaui zaman dan tak akan terhapus dari sejarah; sebuah noda kelam di wajah Ibu Pertiwi.

Terus terang secuil pun tidak pernah terbersit dalam bangunan pikiran saya ada orang-orang, terlebih kalau mereka adalah saudara kandungku se Ibu Pertiwi, yang berani memperkosa Sang Ibu dan merampok harta kekayaannya atau berani melibatkan diri dalam perbuatan hina itu.

Saudara-saudara kandungku se Ibu Pertiwi yang saya cintai. Manusia dilahirkan dalam keadaan bersih. Hanya pendidikan yang mampu membekali manusia agar dalam hidupnya tetap bersih dan semakin harum. Namun, pergaulan lah yang bisa dengan mudah mengotori manusia, menyesatkan manusia, lalu menghinakan manusia sehina-hinanya.

Pendidikan, di satu pihak, dimaksudkan agar orang menjadi pandai memilih pergaulan sehingga terhindar dari pergaulan yang sesat, yang kotor, apalagi yang hina. Di lain pihak, hanya pendidikan lah yang mampu mengangkat marwah kemuliaan seseorang, sebuah komunitas, sebuah bangsa, dan sebuah negara. Itulah, sebabnya mengapa LEMBAGA PENDIDIKAN ADALAH PUSAT KEGIATAN MEMAJUKAN DAN MENGEMBANGKAN KEBUDAYAAN.

Budaya/kebudayaan bukan benda mati. Ia seperti makhluk hidup; terdiri atas jiwa dan raga. Bagian jiwanya tidak akan pernah mati. Itulah human values yang sifatnya universal; the foremost emanation of AllaaH. Sedangkan bagian raganya akan mengalami kematian tatkala kalah berkompetisi dengan budaya yang lebih unggul. Dan, ini yang kerap dilupakan orang, keunggulan budaya tampak wujudnya dalam bentuk kemajuan PERADABAN.

Sejarah peradaban manusia membuktikan bahwa kemajuan peradaban hanya ditentukan oleh kemajuan SCIENCE & TECHNOLOGY (S&T). Oleh karena itu, hanya S&T lah yang dapat melanggengkan kedua bagian jiwa dan raga kebudayaan kita.

Lagi-lagi, hanya pendidikan lah yang akan membuat budaya kita mampu memenangkan kompetisi di antara budaya-budaya lain di dunia.

Untuk memperkokoh keyakinan bahwa hanya S&T yang akan mampu mencemerlangkan budaya kita di antara semua budaya lain di dunia, sekadar wake up call, di bawah ini saya tuliskan percakapan imaginer yang luar biasa antara seorang anak (A) dan kakeknya (K) yang sungguh bijak tentang makna dari pendidikan. Sumber: https://vt.tiktok.com/ZSbEXXbfV/

A: Kakek, bolehkah aku bertanya tentang sesuatu yang aneh?

K: Tentu saja, sayang. Pertanyaan aneh seringkali justru yang paling penting.

A: Kalau begitu, tolong Kakek katakan kepadaku: “Mengapa aku pergi ke sekolah setiap hari?”

K: Hmm … Sayang, menurutmu mengapa kau pergi ke sekolah?

A: Aku bangun saat masih mengantuk. Aku duduk di kelas selama berjam-jam. Aku belajar, mengerjakan ujian, mengerjakan pekerjaan rumah. Apakah aku melakukan ini hanya karena semua orang melakukannya?

K: Itu pertanyaan yang keren.

A: Keren? Kukira Kakek akan menyuruhku untuk berhenti mengeluh.

K: Tidak, sayangku. Seseorang yang menanyakan jalan sangat mungkin dia akan menemukan ke mana jalan itu mengarah.

A: Kalau begitu, ke manakah sekolah mengarah?K: Baik. Izinkan Kakek bertanya sesuatu terlebih dahulu, sayang. Apa yang kau temukan di sekolah?

A: Guru, teman, buku, pelajaran, terkadang ujian yang sulit.

K: Dan apa yang diberikan oleh itu semua kepadamu?

A: Pengetahuan, kupikir.

K: Bukan hanya pengetahuan.

A: Lalu apa lagi?

K: Sekolah mengajarkanmu cara berpikir ketika tidak ada yang memberimu jawaban, cara mengajukan pertanyaan ketika semua orang diam, dan cara untuk terus mencoba ketika sesuatu terasa sulit. Sekolah memberimu pengalaman cara menajamkan pikiran, mengembangkan akal, memperhalus qalbu, dan memperkuat tenaga.

A: Jadi, ujian bukanlah bagian terpenting?

K: Tidak, sayang. Ujian dapat mengukur apa yang kau ingat kemarin. Kehidupan nyata sehari-hari akan mengujimu apa yang dapat kau pahami tentang hari esok.

A: Lalu mengapa orang begitu peduli dengan nilai?

K: Karena nilai mudah dihitung. Sedangkan karakter, keberanian, rasa ingin tahu, dan kebijaksanaan (wisdom) jauh lebih sulit diukur.

A: Jadi, apa yang sebenarnya saya bangun (build) ketika saya bersekolah?

K: Sayang, kau MEMBANGUN DIRIMU SENDIRI.

A: Diriku sendiri?

K: Ya, betul. Setiap buku yang kau baca menambahkan batu bata lain ke bangunan pikiranmu. Setiap kesalahan mengajarkanmu sesuatu; tentang arti ketelitian dan kerja keras. Setiap pelajaran yang sulit memperkuat kesabaranmu, keteguhanmu dan ketangguhanmu. Dan setiap pertanyaan yang berani kau ajukan membuat duniamu mengembang lebih besar. Pikiranmu adalah duniamu dan kosa-katamu adalah batas duniamu.

A: Aku tidak pernah berpikir seperti itu tentang sekolah.K: Kau akan memiliki bangunan pikiran yang megah yang terus kau kembangkan, memiliki keberanian yang terus kau pupuk, dan memiliki kebijaksanaan yang terus kau pelihara, perhalus dan pertajam.

A: Jadi, sekolah bukan berarti pergi ke suatu tempat belajar setiap pagi?

K: Tepat sekali. Bukan itu!

A: Apakah sekolah adalah tentang menjadi seseorang?

K: Kebanyakan orang tidak.

A: Lalu apakah saya bersekolah demi orang tuaku?

K: Bukan.

A: Demi guruku?

K: Bukan.

A: Lalu demi siapa?

K: Demi untuk menjadi orang seperti apa kau kelak, sayang.

A: Aku akan menjadi orang yang seperti apa?

K: Ya, betul sekali. Suatu hari orang tuamu tidak akan bisa selamanya bersamamu. Gurumu tidak akan selalu ada di sampingmu untuk membantumu membuat keputusan. Dan dunia tidak akan dapat memberimu buku teks yang berisi semua jawaban yang kau perlukan.

A: Lalu, dengan bersekolah, apa yang akan aku miliki?

K: Kau akan menjadi seseorang yang bisa berdiri di atas kaki sendiri (BERDIKARI), bisa berpikir sendiri, bisa membuat pilihan sendiri dengan bijak, dan bisa mengejar mimpi tanpa rasa takut walau sendiri.

A: Kakek, kurasa aku akhirnya mengerti.

K: Bagus …! Coba ceritakan padaku.

A: Aku tidak pergi ke sekolah karena semua orang pergi. Aku tidak belajar hanya untuk membuat orang lain bangga. Aku pergi karena setiap pelajaran mempersiapkanku untuk kehidupan yang ingin aku bangun.

K: Wow … Sekarang kau mengerti, sayang.

A: Dan mungkin besok pagi, ketika aku tidak ingin bangun dari tempat tidur …

K: (menyela) Apa yang akan kau katakan pada dirimu sendiri?

A: Aku tidak bangun untuk sekolah. Aku bangun untuk masa depanku.

K: Ya. Ingatlah itu, ya.

A: Akan kuingat, Kakek.

K: Karena pengetahuan tidak hanya mengubah apa yang kau ketahui. Pengetahuan mengubah apa yang kau yakini bisa kau raih.

A: Kalau begitu, kurasa besok bukan hanya hari sekolah biasa.

K: Bukan, sayangku.

A: Besok adalah hari lain untuk MENJADI DIRIKU SENDIRI.

Semoga percakapan imaginer di atas bermanfaat bagi semua pecinta pendidikan dan stakeholders di dunia pendidikan terurama para orang tua, siswa, mahasiswa, Guru, Dosen, dan tentu juga pengurus negara.

CATATAN:

1. Tahun 2029 adalah tahun pertaruhan kita, anak-anak kandung Ibu Pertiwi, mencemerlangkan dan menjaga kemuliaan Ibu Pertiwi. Pertaruhan kita, dengan ijin AllaaH, akan dapat kita menangkan apabila kita tidak salah memilih pemimpin; pilihlah calon pemimpin yang paling mulia dan paling cemerlang di antara anak-anak kandung Ibu Pertiwi. Mari siapkan calon-calon pemimpin itu.

2. Dan, jangan lupa, kita jaga saudara-saudara kita di seluruh pelosok agar terhindar dari pergaulan sesat dan haram seperti pergaulan mereka yang suka melakukan “serangan fajar”.

 

.





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *