
Aktivis sekaligus pendiri Great Institute yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Syahganda Nainggolan, menilai pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan berkaitan dengan kebutuhan Presiden Prabowo Subianto menjaga stabilitas pemerintahan dan mengejar target ekonomi nasional.
Dalam wawancara bersama jurnalis senior Darmawan Sepriyossa di Forum Keadilan TV pada 18 September 2026, Syahganda menjelaskan bahwa Purbaya menghadapi enam variabel konflik selama menjabat. Konflik tersebut meliputi kekuatan finansial global seperti IMF dan Bank Dunia, oligarki yang diduga mengemplang pajak, pemerintah daerah terkait dana transfer, kelompok neoliberal, gesekan dengan pejabat eselon I Kementerian Keuangan, serta persaingan politik menuju Pilpres 2029.
Menurut Syahganda, tekanan dari berbagai arah membuat posisi Purbaya semakin berat, meskipun ia menilai mantan bendahara negara itu memiliki kemampuan untuk menjalankan tugasnya.
“Ini kan ibarat tim sepak bola. Ada orang yang sudah exhausted (kelelahan). Walaupun dia sebenarnya pemain bagus, tapi dia sudah kecapekan karena bertarung di enam variabel konflik tersebut,” kata Syahganda.
Ia juga menilai konflik internal pemerintahan tidak serta-merta menunjukkan bahwa Prabowo sengaja mengadu domba para pembantunya. Gesekan, termasuk dugaan perlawanan dari dua direktur jenderal di Kementerian Keuangan terhadap Purbaya, menurut dia, dapat dipengaruhi perbedaan usia dan gaya politik para pejabat yang ingin menarik perhatian Presiden.
Prabowo disebut prioritaskan target ekonomi
Syahganda menjelaskan, konflik yang berkepanjangan berpotensi mengganggu pencapaian target makroekonomi Presiden. Ia menggambarkan gaya kepemimpinan Prabowo sebagai pendekatan seorang komandan yang berorientasi pada pencapaian sasaran.
Menurut dia, Purbaya telah menjalankan peran penting selama setahun dengan mendorong pembongkaran berbagai persoalan yang dikaitkan dengan praktik oligarki dan neoliberalisme. Namun, ketegangan yang menyertainya dinilai berisiko menghambat agenda pemerintah berikutnya.
“Misi untuk menghancurkan neoliberalisme dan membongkar kejahatan oligarki hitam itu sudah selesai di tangan Purbaya selama satu tahun ini. Dobrakannya dahsyat, skandal-skandal raksasa terbongkar. Tapi kalau kegoncangan akibat enam variabel konflik tadi dibiarkan, target Presiden bisa hilang,” ujarnya.
Atas dasar itu, Syahganda menilai pemerintahan Prabowo perlu memasuki fase baru yang lebih mengutamakan stabilitas dan ketenangan. Ia memandang penggantian Purbaya oleh Suahasil sebagai pilihan jalan tengah untuk meredakan ketegangan.
Baca Juga: Peluang Purbaya Kembali ke Pemerintahan Prabowo, Syahganda: 70 Persen, Mau Kursi Gubernur BI
Suahasil, menurut Syahganda, merupakan teknokrat yang memiliki pendekatan lebih tenang dibandingkan Purbaya, tetapi tidak sepenuhnya mewakili kelompok neoliberal seperti Chatib Basri.
Syahganda menegaskan, pergantian tersebut tidak harus dimaknai sebagai hilangnya kepercayaan atau rasa suka Prabowo terhadap Purbaya. Dalam pandangannya, pertimbangan utama Presiden adalah memastikan target pemerintahan tetap tercapai.
“Prabowo bukan tidak sayang kepada Pak Purbaya. Tapi di kepala beliau adalah ‘target aku ini bagaimana?’,” kata Syahganda.
