
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, membandingkan kondisi fiskal Indonesia dengan sejumlah negara besar, mulai dari Amerika Serikat, India, Jepang hingga Singapura. Menurutnya, posisi fiskal Indonesia relatif konservatif jika dilihat dari rasio defisit dan utang terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Indonesia punya budget defisit di bawah 3% dan debt to GDP ratio sekarang kita sekitar 41%,” ujar Airlangga, Selasa (6/10/2026).
Ia kemudian membandingkan posisi tersebut dengan sejumlah negara. Amerika Serikat, misalnya, disebut memiliki defisit sekitar 5,8% dengan rasio utang terhadap PDB mencapai 123,3%.
Sementara India memiliki defisit sekitar 4,4% dengan rasio utang terhadap PDB 83,1%. Jepang tercatat memiliki defisit sekitar 0,6%, tetapi rasio utangnya mencapai 248,7% terhadap PDB.
“Bandingkan dengan Amerika yang 5,8% defisitnya, kemudian hutangnya terhadap GDP 123,3%, kemudian India minus 4,4% dan debtnya 83,10%, Jepang defisitnya minus 0,6%, cuman hutangnya 248,7%,” kata Airlangga.
Airlangga juga menyinggung Singapura yang menurutnya mencatat anggaran positif 1,9%, tetapi memiliki rasio utang terhadap PDB hingga 171,3%.
Dengan membandingkan angka tersebut, Airlangga mempertanyakan perhatian sejumlah lembaga pemeringkat terhadap posisi fiskal Indonesia. Dia menilai perlu dilihat kembali apakah standar yang digunakan dalam menilai kondisi makro Indonesia sudah mempertimbangkan perbandingan dengan negara-negara lain.
“Nah pertanyaannya kenapa ada kelompok rating agensi yang heboh dan mematok Indonesia di angka-angka yang dibandingkan negara-negara yang tadi saya sebut makroprudensial kita relatif konservatif,” katanya.
Baca Juga: Airlangga Akui Vietnam Jadi Pesaing RI dalam Merebut Investasi
Baca Juga: Airlangga Tegaskan Tiket Pesawat Tak Masuk dalam Paket Stimulus Ekonomi
Meski demikian, rasio utang dan defisit anggaran bukan satu-satunya penentu peringkat kredit suatu negara. Penilaian lembaga pemeringkat juga berkaitan dengan kemampuan membayar utang, kapasitas penerimaan negara, prospek pertumbuhan ekonomi, serta risiko ekonomi dan kelembagaan.
Perbandingan yang disampaikan Airlangga pun menjadi dasar baginya untuk mempertanyakan penilaian terhadap Indonesia, di tengah klaim bahwa rasio utang dan defisit anggaran nasional relatif terjaga dibandingkan sejumlah negara lain.
