Friday, October 2News That Matters

Maskapai RI Makin Tertekan, INACA Desak Pajak Sparepart Pesawat 0%


Wacana Berita, Bandung –

Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesian National Air Carriers Association (INACA) berharap kebijakan pajak 0% untuk impor suku cadang pesawat (sparepart) dapat segera diterapkan. Terlebih pihak maskapai kini tengah diberatkan oleh lonjakan harga avtur (bahan bakar pesawat) hingga fluktuasi nilai tukar alias kurs rupiah.

Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja mengatakan, pihaknya telah menemui Direktur Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan guna memohon stimulus tersebut agar bisa terlaksana.

Terlebih pemerintah telah mengatur tentang pemanfaatan skema khusus insentif fiskal berupa penurunan tarif bea masuk atas impor suku cadang dalam Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 16 Tahun 2026. 

“Kemarin saya dan INACA sudah diterima oleh Dirjen Bea Cukai untuk menjelaskan tentang Permen Perindustrian Nomor 16, tentang pembebasan bea pajak sparepart masuk,” ungkapnya dalam sesi lokakarya di Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (2/10/2026).

Denon menyatakan, pihaknya juga tengah menanti aturan turunan soal itu dalam bentuk Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

“Tentu ini harus kita kawal sampai ke level Bea Cukai karena level eksekutornya di lapangan dan yang belum terbit itu PMK-nya. Nah, PMK-nya ini lagi kita kejar, mudah-mudahan nanti part 0% ini bisa menjadi bagian dari penurunan biaya operasional maskapai,” serunya.

Direktur Safety Pelita Air Service Erriza Muslim menambahkan, pihak maskapai pun tengah diberatkan oleh lonjakan harga bahan bakar pesawat alias avtur. Oleh karena, dia mengapresiasi kebijakan Kementerian Perhubungan menambah batas maksimal Fuel Surcharge (FS) menjadi 40%.

Baca Juga: Kemenhub Siap Kasih Diskon Tiket Pesawat untuk Libur Nataru

Baca Juga: Antisipasi Kebakaran Kapal, Kemenhub Periksa 8 Pelabuhan

Baca Juga: Indonesia Kejar Kursi Dewan ICAO, Menhub Galang Dukungan Internasional

“Sebetulnya kalau bilang dari operasi memang fuel sekarang ini 60% Pak dari biaya operasi kita,” ungkap Erriza.

Sebagai solusi untuk menghemat penggunaan avtur, maka diusulkan skema continuous design operation (CDO) yang sudah diterapkan beberapa negara semisal Singapura dan Australia. Dengan beberapa konsep seperti lepas landas langsung menanjak yang mampu melakukan penghematan bahan bakar secara signifikan. 

“Jadi itu untuk mengurangi cost kita di penggunaan bahan bakar, seperti masuk Jakarta juga dengan speed control yang ketat. Seperti kita ketahui, awal muasalnya dari penumpukan kepadatan lalu lintas udara di Jakarta karena ketidakdisiplinan pilot. Mudah-mudahan seperti revitalisasi dari AirNav bisa membantu. Jadi itu yang bisa kita kuatkan, paling tidak bisa mengurangi penggunaan bahan bakar,” tutupnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *