
PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) mencatat laba bersih Rp298,85 miliar hingga Agustus 2026. Namun, laba tersebut turun 4,05% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp311,46 miliar.
Penurunan laba terjadi di tengah kinerja operasional Allo Bank yang masih tumbuh. Berdasarkan laporan keuangan publikasi perseroan pada Rabu (30/9/2026), pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) mencapai Rp1,06 triliun, naik 14,50% yoy dari Rp927,76 miliar.
Pertumbuhan NII ditopang oleh pendapatan bunga yang meningkat 13,69% yoy menjadi Rp1,34 triliun. Namun, beban bunga juga naik 10,72% yoy menjadi Rp278,42 miliar.
Pendapatan non-bunga turut mencatat pertumbuhan. Pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi melonjak 529,39% yoy menjadi Rp27,03 miliar. Sementara itu, pendapatan operasional lainnya meningkat 37,68% yoy menjadi Rp302,68 miliar.
Meski pendapatan meningkat, pertumbuhan laba tertekan oleh kenaikan sejumlah beban. Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan atau impairment melonjak 70,90% yoy menjadi Rp394,28 miliar.
Beban tenaga kerja juga naik 7,87% yoy menjadi Rp144,73 miliar. Beban promosi meningkat 30,43% yoy menjadi Rp126,73 miliar, sedangkan beban lainnya tumbuh 20,74% yoy menjadi Rp348,44 miliar.
Kenaikan beban tersebut membuat laba operasional Allo Bank turun 4,37% yoy menjadi Rp383,63 miliar.
Baca Juga: LPS Pertahankan Bunga Penjaminan Bank 3,75% hingga Januari 2027
Baca Juga: NPL Bank Intidana Turun, Direksi Baru Siapkan Jurus Perkuat Kredit
Baca Juga: BCA Diguncang Transaksi Rp621 Miliar! 100 Juta Saham Berpindah di Tengah Isu Haji Isam
Kredit Melaju, DPK Justru Turun
Dari sisi intermediasi, Allo Bank mencatat pertumbuhan kredit yang cukup agresif. Hingga Agustus 2026, penyaluran kredit mencapai Rp9,46 triliun, naik 32,02% yoy dari Rp7,16 triliun pada Agustus 2025.
Namun, pertumbuhan kredit tersebut tidak diikuti peningkatan dana pihak ketiga (DPK). Total DPK justru turun 28,78% yoy menjadi Rp5,24 triliun.
Penurunan DPK terutama berasal dari simpanan deposito yang merosot 41,43% yoy menjadi Rp3,75 triliun.
Di sisi lain, dana murah atau current account savings account (CASA) masih tumbuh positif. Simpanan giro melonjak 208,37% yoy menjadi Rp479,10 miliar, sedangkan tabungan meningkat 26,35% yoy menjadi Rp1,01 triliun.
Kondisi tersebut membuat pertumbuhan kredit dan penurunan DPK semakin mencolok. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) Allo Bank pun melonjak menjadi 180,4% pada Agustus 2026, dari 97,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
