
KORAN MANDALA – Peringatan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216 yang mengusung tema Solidarity in Harmony diwarnai ketidakhadiran Wakil Wali Kota Bandung Erwin dalam salah satu rangkaian acara.
Erwin diketahui meninggalkan lapangan upacara ketika rangkaian peringatan HJKB ke-216 masih berlangsung.
Momen tersebut menjadi sorotan karena terjadi di tengah agenda perayaan hari jadi kota yang mengedepankan pesan solidaritas dan harmoni.
Bukan Sekadar Hantu di Jalanan Bandung, Conjurig Bawa Kisah Luka ke Layar Lebar
Saat dikonfirmasi mengenai ketidakhadirannya dalam sesi foto bersama, Erwin mengatakan dirinya meninggalkan lokasi karena hendak pergi ke toilet.
“Oh, nggak. Saya pengen barusan pengen ke toilet dulu,” ujar Erwin.
Namun, persoalan tidak berhenti pada ketidakhadiran Erwin. Ia juga mengungkap bahwa istrinya tidak hadir dalam upacara HJKB ke-216 karena tidak mendapatkan undangan.
“Termasuk juga ya, mungkin istri saya juga tidak hadir, karena memang tidak diundang,” katanya.
Erwin menegaskan, istrinya tidak akan menghadiri kegiatan apabila tidak mendapatkan undangan.
“Ya, kalau nggak diundang nggak mungkin datanglah. Kalau diundang pasti datang,” ucapnya.
Menurut Erwin, tidak dilibatkannya sang istri dalam agenda tersebut berkaitan dengan pencoretan dari struktur kepengurusan Tim Penggerak PKK.
“Ya, karena dicoret dari PKK-nya,” ujar Erwin.
Ia kemudian mempertanyakan keputusan tersebut. Erwin menyebut, berdasarkan aturan yang ia pahami, istrinya seharusnya secara otomatis menempati posisi wakil ketua dalam struktur PKK. Namun, ia mengaku tidak mengetahui alasan di balik pencoretan tersebut.
“Iya, sudah tidak. Sebetulnya secara undang-undang seharusnya istri itu jadi otomatis wakil ketua, tapi nggak tahu sama wali kotanya dicoret,” katanya.
Bukan hanya PKK, Erwin menyebut istrinya juga tidak lagi dilibatkan dalam sejumlah kegiatan organisasi perempuan lainnya, termasuk Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranas).
“Cuman posisi tidak masuk di Dekranas, di semua lah. Di semua kegiatan perempuan sudah tidak pernah hadir karena memang sudah di-PKK dicoret, di Dekranas juga dicoret, semua,” ungkapnya.
Ketika ditanya lebih jauh mengenai alasan pencoretan tersebut, Erwin mengaku tidak mengetahui secara pasti.
“Nggak tahu saya alasannya seperti apa,” pungkasnya.
Ketidakhadiran di Tengah Pesan Solidaritas
Ketidakhadiran Erwin dan persoalan tidak diundangnya sang istri menambah warna tersendiri dalam peringatan HJKB ke-216. Terlebih, perayaan tahun ini membawa pesan Solidarity in Harmony—sebuah tema yang menempatkan kebersamaan dan harmoni sebagai bagian penting dari wajah Kota Bandung.
Di satu sisi, Erwin menjelaskan bahwa dirinya meninggalkan lokasi karena alasan pribadi. Di sisi lain, ia mengungkap adanya persoalan terkait pelibatan istrinya dalam struktur dan kegiatan organisasi perempuan di lingkungan Pemerintah Kota Bandung.
Dua persoalan tersebut menjadi bagian dari dinamika internal pemerintahan yang muncul ke ruang publik bertepatan dengan momentum hari jadi Kota Bandung.
Pernyataan Erwin mengenai pencoretan istrinya dari PKK dan Dekranas juga masih berupa penjelasan dari satu pihak. Alasan resmi dari pihak Pemerintah Kota Bandung maupun Wali Kota Bandung mengenai keputusan tersebut belum disampaikan dalam keterangan yang dikutip dalam berita ini.
Karena itu, substansi persoalan bukan semata soal siapa yang hadir atau tidak hadir dalam sebuah seremoni. Lebih jauh, publik dapat melihat bagaimana pesan kebersamaan yang diusung dalam HJKB ke-216 berhadapan dengan dinamika hubungan dan pelibatan para pejabat beserta unsur pendukung pemerintahan dalam berbagai kegiatan.
Momentum hari jadi kota semestinya bukan hanya menjadi panggung perayaan, tetapi juga ruang untuk menunjukkan bagaimana semangat kebersamaan itu diterapkan dalam praktik pemerintahan sehari-hari.
