
Komisi VI DPR RI optimistis kinerja keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) akan terus membaik. Optimisme tersebut muncul setelah Komisi VI menggelar rapat tertutup dengan manajemen Garuda pada Rabu (23/9/2026).
Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Herman Khaeron mengakui Garuda masih mencatatkan kerugian bersih. Namun, ia menilai kondisi keuangan perseroan mulai menunjukkan perbaikan karena kerugian terus menyusut dan pendapatan meningkat.
“Jadi memang masih rugi tetapi kerugiannya semakin menurun, pendapatannya meningkat. Jadi mungkin dari tahun-tahun ke depan ini akan menuju kepada untung,” ujar Herman di Gedung DPR RI, Jakarta, dikutip Kamis (24/9/2026).
Menurut Herman, perbaikan kinerja Garuda terlihat dari semakin kecilnya kerugian. Ia menyebut peningkatan sekitar 5% sebagai perkembangan yang cukup baik dan perlu terus didorong.
“Kerugiannya semakin ditekan, semakin menurun. Artinya ada peningkatan di 5% itu sudah cukup baik. Oleh karenanya hal-hal yang baik coba kita dorong untuk lebih progresif, lebih agresif dalam pengembangan Garuda,” katanya.
Selain kinerja keuangan, Herman melihat kepercayaan publik terhadap Garuda juga mulai meningkat. Hal tersebut, menurutnya, tercermin dari tingkat ketepatan waktu keberangkatan dan kedatangan penerbangan yang saat ini menjadi salah satu yang tertinggi.
Komisi VI juga masih mendalami peluang Garuda untuk meningkatkan layanan penerbangan, baik di dalam negeri maupun internasional.
Herman mengakui persaingan di pasar internasional cukup berat, tetapi Garuda Indonesia tetap didorong untuk meningkatkan konektivitas penerbangan dari dan ke luar negeri.
Baca Juga: Aturan Baru Bagasi Garuda Indonesia dapat Kritik, Penumpang Dinilai Kesulitan
Baca Juga: Sehari Berubah, Status Manajer Kopdes Kini Dipastikan Jadi Pegawai BUMN
Baca Juga: Danantara Siapkan BUMN Tekstil Baru, Bakal Gandeng Perusahaan Eksisting
Di sisi lain, Herman meminta Garuda menyiapkan pesawat berkapasitas lebih kecil untuk melayani rute antarpulau dengan jumlah penumpang yang lebih sedikit.
Menurutnya, masih ada sejumlah rute antarprovinsi yang berpotensi dikembangkan, khususnya di wilayah kepulauan seperti Sulawesi. Ia mencontohkan perjalanan dari Sulawesi Tengah ke Sulawesi Barat atau dari Gorontalo ke Sulawesi Barat yang saat ini masih harus melalui Makassar.
“Rute-rute yang sebetulnya prospektif bagi Garuda jika kemudian ada roadmap ataupun rencana strategis ke depan untuk bisa membangun konektivitas antarprovinsi. Oleh karena itu saya kira banyak hal yang ini harus ditata dulu di Garuda,” pungkas Herman.
