
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot dibuka melemah pada awal perdagangan hari ini. Kamis (24/9/2026). Mata uang Garuda dibuka di level Rp17.871 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,3% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya di level Rp17.818 per dolar AS.
Gubernur BI, Destry Damayanti, mengatakan ketidakpastian global masih tinggi. Konflik di Timur Tengah kembali meningkat dan sempat mendorong harga minyak menyentuh US$132 per barel sebelum turun ke bawah US$100 per barel pada 22 September 2026.
Di sisi lain, kebijakan moneter Amerika Serikat juga semakin ketat. Destry menyebut Federal Reserve menaikkan Fed Fund Rate menjadi 3,75%-4% pada September 2026, dengan kemungkinan kenaikan kembali yang masih tinggi. Imbal hasil US Treasury turut meningkat seiring ekspektasi kenaikan suku bunga dan besarnya defisit anggaran pemerintah AS.
Kondisi tersebut membuat preferensi investor global terhadap investasi portofolio di negara emerging market tertahan. Dampaknya turut terasa pada nilai tukar rupiah yang mengalami tekanan.
“Dengan langkah-langkah tersebut, nilai tukar rupiah menguat pada bulan Agustus hingga pertengahan September 2026, meskipun pada pertengahan terakhir mengalami tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian kondisi global,” kata Destry dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (23/9/2026).
Tekanan global tersebut ikut tercermin pada pergerakan rupiah. Destry mengatakan rupiah sempat menguat pada Agustus hingga pertengahan September 2026. Namun, tekanan kembali muncul pada periode setelahnya seiring meningkatnya ketidakpastian kondisi global.
Baca Juga: BI Perkuat Jaga Rupiah di Tengah Ancaman Fed dan Ketegangan Timur Tengah
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.817 per Dolar AS Ditopang Keputusan BI Tahan Suku Bunga
Per 22 September 2026, rupiah berada di sekitar Rp17.855 per dolar AS, atau melemah 0,78% dibandingkan level akhir Agustus 2026.
Untuk merespons tekanan tersebut, BI akan mengoptimalkan berbagai instrumen moneter. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memperkuat ketahanan eksternal Indonesia.
“Bank Indonesia akan terus memperkuat berbagai strategi dengan mengoptimalkan seluruh instrumen moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Destry.
