
Hampir semua media di Tanah Air memberitakan peristiwa peresmian LRT Jakarta rute Kelapa Gading–Manggarai oleh Presiden Prabowo Subianto, Rabu (16/9). Dari berbagai berita tersebut, yang paling menarik perhatian saya adalah judul yang digunakan koran The Jakarta Post untuk foto peristiwa tersebut: “Along a new line.”
Pertama-tama, tentu judul tersebut harus dimaknai secara denotatif, alias apa adanya. Prabowo memang sedang menjajal jalur baru LRT Jakarta, didampingi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan sejumlah pejabat.
Tetapi tiga kata pada judul tersebut bisa pula terasa “bersayap”, konotatif. “New line” seperti menawarkan tafsir lain: jangan-jangan yang sedang dijajal Prabowo bukan hanya jalur baru LRT, melainkan juga suatu jalur baru dalam arah dan perjalanan politiknya.
Tafsir itu tentu terlalu spekulatif jika hanya bertumpu pada satu judul foto. Namun, menjadi menarik ketika disandingkan dengan pidato Prabowo, yang bukan sekadar memberikan apresiasi protokoler kepada gubernur tuan rumah. Ia secara terbuka mengatakan, “Saya harus akui kalau ada gubernur yang hebat, ya, saya akui dia hebat,” ujar Prabowo, yang tentu merujuk kepada Pramono.
Pujian itu tidak datang dari ruang kosong.
Jalur LRT yang baru diresmikan ini memang telah dimulai pada era sebelum Pramono, tetapi penyelesaian dan pengoperasiannya berlangsung pada masa pemerintahan politikus kawakan PDI Perjuangan itu. Tentu ini menjadi pencapaian penting bagi Pramono sebagai pemimpin yang menuntaskan pekerjaan yang sebelumnya masih menggantung.
Pramono juga telah membukukan sejumlah pencapaian lain, untuk menyebut beberapa di antaranya: membereskan tiang-tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said, kawasan Kuningan, yang lebih dari dua dasawarsa tak tersentuh; memperluas layanan transportasi umum; serta, yang terbaru, menyiapkan penerbitan obligasi daerah sebagai alternatif pembiayaan pembangunan Jakarta.
Jadi, ketika Prabowo menyebut Pramono sebagai seorang gubernur hebat, itu setidaknya dapat dibaca dalam konteks sejumlah pekerjaan yang telah dilakukan Pramono selama sekitar 1,5 tahun mengemban amanah.
Satu Gerbong, Dua Politisi
Foto The Jakarta Post semakin menarik karena bahasa visualnya tampil benderang. Prabowo dan Pramono duduk berhadapan dan berbincang santai.
Tentu saja, hal itu tidak serta-merta menjadi bukti adanya kesepakatan politik tertentu. Tetapi secara jurnalistik, foto tersebut menawarkan simbol yang kaya: dua politisi dari lingkungan partai yang berbeda berada dalam satu gerbong, dalam satu perjalanan menuju tujuan yang sama.
Pada konteks inilah judul “Along a new line” memperoleh pengayaan makna yang bahkan barangkali tidak sepenuhnya diniatkan oleh pihak redaksi.
Kisah di gerbong ini menjadi lebih menarik jika disandingkan dengan peristiwa 13 Juli 2019.
Pada saat itu, seusai pertarungan sengit dalam pemilihan presiden, Jokowi dan Prabowo bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus, lalu naik MRT bersama menuju Senayan. Keduanya duduk berdampingan dan berbincang. Pertemuan tersebut kemudian dikenang sebagai simbol rekonsiliasi antara dua mantan pesaing.
Menariknya, Pramono juga berada dalam peristiwa tersebut. Sebagai Sekretaris Kabinet ketika itu, ia termasuk yang menyambut Prabowo sebelum Jokowi tiba dan kemudian menjelaskan kepada publik proses pertemuan tersebut.
Pada 2019, Jokowi adalah Presiden dan Prabowo merupakan rival yang baru dikalahkannya dalam Pilpres. Mereka duduk bersama di gerbong MRT.
Lima tahun kemudian, Prabowo menggantikan Jokowi sebagai Presiden.
Tujuh tahun setelah foto di MRT tersebut, Prabowo kembali berada di dalam gerbong kereta perkotaan Jakarta. Bedanya, sekarang ia telah menjadi Presiden. Dan yang berada di hadapannya adalah Pramono, sosok yang ternyata juga menjadi bagian dari cerita MRT tujuh tahun sebelumnya.
Apakah Ini Sebuah “Jalur Baru”?
Tentu tidak ada pakem yang menjadi rujukan bahwa seseorang yang duduk satu gerbong dengan Presiden kelak akan mendapat giliran menjadi Presiden.
Tetapi sejarah terkadang menghadirkan kebetulan-kebetulan yang menarik untuk direnungkan.
Pada Juli 2019 pun hampir tidak ada yang dapat memastikan bahwa lima tahun kemudian Prabowo akan menggantikan Jokowi.
Maka, ketika September 2026 beredar foto Prabowo sebagai Presiden duduk berdampingan dalam satu gerbong dengan Pramono, cukup menarik untuk mengajukan pertanyaan tentang ke mana perjalanan politik Pramono beberapa tahun mendatang.
Apakah Prabowo memang sedang membuka jalur politik baru?
Apakah Pramono kelak akan menjadi bagian dari jalur baru tersebut dan memainkan peran yang penting?
Apakah foto di gerbong LRT ini suatu hari akan dikenang seperti foto Jokowi–Prabowo di MRT pada 2019?
Tidak ada jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu sekarang.
Prabowo dan Permainan Nama
Ada pula selingan kecil yang menarik.
Ketika menyebut nama lengkap sang gubernur—Pramono Anung Wibowo—Prabowo sempat bermain otak-atik-gathuk: “Ada Wibowo-nya… ada Bowo-nya. Orang baik. Ada Pra-nya juga, Pramono, Pra.”
Prabowo sebetulnya tidak perlu terlalu jauh mencocok-cocokkan. Ia tak perlu bersusah payah mencari “Pra” pada Pramono atau “Bowo” pada Wibowo.
Sebab, PRABOWO dan PRAMONO hanya berbeda dua huruf: B menjadi M dan W menjadi N. Lima huruf lainnya bahkan berada persis pada posisi yang sama.
Tentu kemiripan semacam ini juga tidak memiliki arti politik apa pun. Tetapi di tengah berbagai kebetulan dalam cerita ini, permainan nama tersebut menjadi bumbu kecil yang sayang dilewatkan.
Biarlah Waktu Menjawab
Saat ini, tak seorang pun dapat memberikan jawaban pasti atas sejumlah pertanyaan yang diajukan dalam catatan ini.
Kemiripan adegan Prabowo–Pramono di dalam gerbong LRT dengan adegan Jokowi–Prabowo di gerbong MRT beberapa tahun silam bisa saja semata-mata merupakan kebetulan—sebuah peristiwa yang kebetulan diabadikan secara fotografis oleh para awak media.
Namun, tetap terbuka pula kemungkinan bahwa adegan ini kelak memperoleh makna lain.
Biarlah waktu yang menjadi penentu.
Sebab saat ini, kita memang tidak mungkin mendahului sesuatu yang sepenuhnya berada dalam wilayah prerogatif Sang Maha Kuasa.
