Wednesday, September 16News That Matters

Di Bawah Terik Matahari, Ribuan Warga Purwakarta Berdoa agar Hujan Segera Turun


KORAN MANDALA – Di bawah terik matahari yang menyengat, ribuan warga Kabupaten Purwakarta berkumpul di Alun-alun Taman Pasanggrahan Padjadjaran, Rabu (16/9/2026).

Sajadah terbentang di atas lantai, sementara doa dipanjatkan agar hujan segera turun setelah kemarau panjang mulai berdampak pada kehidupan masyarakat.

Ribuan jemaah mengikuti Salat Istisqa yang digelar di halaman Kantor Pemerintah Kabupaten Purwakarta. Panas matahari tak menyurutkan warga untuk mengikuti rangkaian ibadah hingga doa bersama.

Dua Kali Dipanggil BK, Anggota DPRD Purwakarta MJ Mangkir di Tengah Video Viral

Salat Istisqa dipimpin Ustaz Asep Fitriadi. Sementara Ketua MUI Kabupaten Purwakarta, KH John Dien, bertindak sebagai penceramah sekaligus menyampaikan pesan keagamaan kepada para jemaah.

KH John Dien mengatakan, Salat Istisqa merupakan salah satu bentuk ikhtiar manusia untuk memohon pertolongan Allah SWT di tengah kondisi kekeringan.

Menurutnya, manusia tetap memiliki kewajiban untuk berusaha dan berdoa, sedangkan kapan hujan turun dan doa dikabulkan merupakan kehendak Allah SWT.

“Intinya memohon, mengetuk pintu langit untuk turunnya hujan. Jadi kewajiban kita ikhtiar, dikabulkan kapan-kapannya itu urusan Allah SWT,” ujar KH John Dien.

Kemarau Mulai Menekan Kebutuhan Dasar

Di balik pelaksanaan Salat Istisqa, persoalan kekeringan menjadi perhatian serius. Kemarau yang berlangsung cukup panjang mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Purwakarta, terutama terkait ketersediaan air bersih.

Sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta, Sri Jaya Midan, menyebut kondisi tersebut mulai memberikan dampak terhadap aktivitas warga.

Kebutuhan air untuk minum, mencuci, dan keperluan rumah tangga lainnya menjadi persoalan ketika debit air mulai berkurang.

Keluhan itu salah satunya disampaikan Diah (39), warga yang mengikuti Salat Istisqa. Ia mengatakan aliran air PDAM di rumahnya mulai mengalami penurunan debit. Kondisi air yang keluar pun terkadang terlihat keruh.

“Di rumah saya sudah mulai kesulitan air. Air PDAM pun kini yang keluar agak kecil, bahkan sedikit kotor,” kata Diah.

Keluhan tersebut menunjukkan bahwa kemarau bukan lagi sekadar persoalan cuaca. Ketika pasokan air mulai berkurang, dampaknya langsung menyentuh kebutuhan paling mendasar masyarakat.

Bukan Hanya Berdoa, Warga Diminta Jaga Lingkungan

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah daerah mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan datangnya hujan, tetapi juga meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

Sri Jaya mengatakan kemarau panjang dengan suhu udara yang tinggi juga dapat meningkatkan risiko kebakaran lahan. Karena itu, kewaspadaan masyarakat perlu ditingkatkan.

Ia mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, saluran air, tumbuhan, serta kawasan pegunungan yang memiliki peran penting terhadap keberlangsungan sumber daya air.

Menurutnya, menjaga lingkungan bukan semata-mata tugas pemerintah. Masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan lingkungan tetap terawat.

“Jangan pegawai negeri saja, harapan saya. Karena kebersihan itu bukan tanggung jawab pegawai negeri. Itu adalah elemen masyarakat,” ujar Sri Jaya.

Salat Istisqa di Purwakarta akhirnya bukan hanya menjadi ritual keagamaan di tengah kemarau. Di balik ribuan tangan yang menengadah memohon hujan, terdapat persoalan nyata yang tengah dihadapi warga: berkurangnya ketersediaan air dan meningkatnya ancaman lingkungan.

Doa menjadi bentuk ikhtiar spiritual. Namun, di saat yang sama, menjaga sumber air dan lingkungan menjadi ikhtiar nyata yang perlu dilakukan bersama.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *