{"id":72942,"date":"2026-08-03T16:59:12","date_gmt":"2026-08-03T09:59:12","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/08\/03\/kopdes-itu-bukan-koperasi-tapi-warung-politik\/"},"modified":"2026-08-03T16:59:12","modified_gmt":"2026-08-03T09:59:12","slug":"kopdes-itu-bukan-koperasi-tapi-warung-politik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/08\/03\/kopdes-itu-bukan-koperasi-tapi-warung-politik\/","title":{"rendered":"Kopdes Itu Bukan Koperasi, tapi Warung Politik"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n            <span class=\"float-start fw-bold me-1\">Wacana Berita, Jakarta &#8211; <\/span><\/p>\n<p>Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) atau Kopdes Merah Putih kembali menjadi sasaran kritik. Pengamat Kebijakan Publik Muhammad Syukur Mandar menilai program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto itu tidak memenuhi prinsip koperasi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p>Dalam pandangannya, KDMP justru lebih tepat disebut sebagai instrumen politik ketimbang lembaga koperasi yang dikelola berdasarkan keanggotaan.<\/p>\n<p>\u201cItu permen aja. Kopdes itu sebenarnya bukan Kopdes kok, itu mah warung politik. Kios politik yang dibikin,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p>Syukur menjelaskan bahwa konsep koperasi memiliki landasan hukum yang jelas dan berpusat pada anggota, bukan dibentuk dengan pola seperti yang dijalankan saat ini.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read626263\/pengamat-prabowo-seperti-mau-bubarin-negara-ini-dari-caranya-memimpin\">Pengamat: Prabowo Seperti Mau Bubarin Negara Ini dari Caranya Memimpin<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cKalau bicara Kopdes, maka rujukanya Undang-Undang Koperasi. UU Koperasi itu prinsipnya membership, keanggotaan. Partnership, dan regulasi koperasi itu bergantung pada kehendak anggota,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia bahkan mempertanyakan skema operasional KDMP yang dinilainya tidak sesuai dengan prinsip koperasi.<\/p>\n<p>\u201cTidak ada koperasi di republik ini yang dibuat oleh model Presiden Prabowo. Yang minjam koperasi, yang nampung uangnya Agrinas. Yang operasikan di bawah oknum tentara, SOP-nya nggak jelas, kemudian minjam ke bank dijaminkan pakai barang negara. Dijaminkan pakai aset negara. Dimana tuh?\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Selain mengkritik KDMP, Syukur juga menyinggung dugaan penyimpangan dalam sejumlah program pemerintah. Menurutnya, seorang pemimpin yang mengetahui adanya pelanggaran seharusnya mengambil tindakan tegas.<\/p>\n<p>\u201cPertanyaan sederhananya, kalau orang tidak punya motif membenarkan kamu mencuri sesuatu, dia akan memotong tanganmu. Kalau orang punya motif membiarkan kamu mencuri sesuatu, dia akan bikin UU melindungi kamu,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Ia kemudian mengaitkan pernyataan tersebut dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.<\/p>\n<p>\u201cKenapa dia membiarkan proyek MBG itu berjalan? Presdien tahu ada korupsi di situ, motifnya presiden tahu yang mencuri siapa. Presiden tahu siapa yang menyalahgunakan Koperasi Desa Merah Putih,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Syukur juga menyampaikan kritik yang lebih luas terhadap pemerintahan Prabowo. Ia menilai arah kepemimpinan saat ini justru membawa Indonesia ke situasi yang mengkhawatirkan.<\/p>\n<p>\u201cDibawa ke jurang kehancuran. Nggak dibawa kemana-mana. Mau dibubarin negara ini, dibubarin oleh Presiden Prabowo sendiri dari caranya memimpin,\u201d kata Syukur.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read626243\/eks-wamenkumham-bongkar-jalan-mulus-memecat-gibran-kuncinya\">Eks Wamenkumham Bongkar &#8216;Jalan Mulus&#8217; Memecat Gibran, Kuncinya&#8230;<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Olehnya itu, ia mengaku sulit bersikap optimistis melihat kondisi saat ini. Menurutnya, persoalan utang, kebijakan pemerintah, hingga kinerja kabinet dan DPR menjadi alasan utama.<\/p>\n<p>\u201cApa yang membuat saya optimis? Utang banyak, kebijakan amburadul, presiden nggak punya visi, kabinet gemuk nggak ada guna, DPR banyak nggak ada guna, yang jadi pejabat begundal, maling semua. Brengsek semua,\u201d sebutnya.<\/p>\n<p>Meski menilai masyarakat semakin cerdas, Syukur menyayangkan belum banyak pihak yang berani mengambil langkah menghadapi berbagai persoalan tersebut.<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p>\u201cRakyat makin pintar, tapi nggak ada yang bergerak. Yang bodoh juga tambah bodoh, yang pintar tapi nggak memelihara kejujuran. Banyak para kiai dan ulama, mau terima kebodohan ini. Mau palsukan kebenaran di depan mata. Apa yang saya mau optimis?\u201d tutupnya.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<div>\n<p class=\"fs-7 m-0 p-3\">Mau Berita Terbaru Lainnya dari Wacana Berita? Yuk Follow Kami di <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAiEJQekbu_XfrMeCH3tRfl7kkqFAgKIhCUHpG7v136zHgh97UX5e5J?hl=id&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aid\" class=\"fw-bold\" target=\"_blank\">Google News<\/a> dengan <strong>Klik Simbol Bintang<\/strong>.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read626332\/pengamat-kopdes-itu-bukan-koperasi-tapi-warung-politik\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wacana Berita, Jakarta &#8211; Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) atau Kopdes Merah Putih kembali menjadi sasaran kritik. Pengamat Kebijakan Publik Muhammad Syukur Mandar menilai program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto itu tidak memenuhi prinsip koperasi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang. Dalam pandangannya, KDMP justru lebih tepat disebut sebagai instrumen politik ketimbang lembaga koperasi yang dikelola [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":51947,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,2],"tags":[],"class_list":["post-72942","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news","category-business"],"relative_dates":{"created":"2 months ago","modified":"2 months ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/72942","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=72942"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/72942\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/51947"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=72942"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=72942"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=72942"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}