{"id":49002,"date":"2026-06-30T21:33:09","date_gmt":"2026-06-30T14:33:09","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/06\/30\/kekerasan-berkedok-romansapsikolog-unisba-jika-ada-rasa-takut-itu-bukan-cinta\/"},"modified":"2026-06-30T21:33:09","modified_gmt":"2026-06-30T14:33:09","slug":"kekerasan-berkedok-romansapsikolog-unisba-jika-ada-rasa-takut-itu-bukan-cinta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/06\/30\/kekerasan-berkedok-romansapsikolog-unisba-jika-ada-rasa-takut-itu-bukan-cinta\/","title":{"rendered":"Kekerasan Berkedok Romansa,Psikolog Unisba: Jika Ada Rasa Takut, Itu Bukan Cinta"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\">WACANA BERITA<\/a><\/strong> \u2013 Psikolog Unit Layanan Psikologi Terpadu (ULPT) Universitas Islam Bandung, Yunita Sari, menilai kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan yang dilakukan TH terhadap YTR selama tiga tahun menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam hubungan sering kali bersembunyi di balik dalih cinta dan kasih sayang.<br \/>\u200e<br \/>\u200eMenurut Yunita, masyarakat perlu memahami bahwa hubungan yang sehat tidak pernah diwarnai rasa takut, penguasaan, maupun pembatasan kebebasan pasangan. Karena itu, ia berharap kasus ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai kekerasan dalam hubungan.<br \/>\u200e<br \/>\u200e\u201dKasus ini harus menjadi tamparan keras bagi bangsa kita,\u201d ujar Yunita.<br \/>\u200e<br \/>\u200eIa menegaskan, korban seperti YTR membutuhkan rehabilitasi psikologis dan fisik dalam jangka panjang. Trauma yang dialami dinilainya sangat kompleks sehingga memerlukan dukungan dari negara maupun masyarakat agar korban dapat membangun kembali kehidupannya.<br \/>\u200e<br \/>\u200eDi sisi lain, Yunita menilai edukasi mengenai kekerasan dalam pacaran masih sangat minim. Menurutnya, masyarakat kerap menganggap kekerasan dalam rumah tangga hanya terjadi setelah pernikahan, padahal perilaku mengontrol, mengisolasi, hingga mengintimidasi pasangan dapat muncul sejak masa berpacaran.<br \/>\u200e<br \/>\u200e\u201dKita sangat terlambat dalam mengedukasi tentang Dating Violence (Kekerasan dalam Pacaran). Masyarakat sering menganggap KDRT baru terjadi jika sudah menikah. Kita harus memasukkan pendidikan mengenali red flags, love bombing, dan coercive control ke dalam kurikulum kesehatan mental remaja dan pra-nikah,\u201d katanya.<br \/>\u200e<br \/>\u200eIa juga mengingatkan pentingnya menghentikan budaya menyalahkan korban. Menurut Yunita, fokus seharusnya diarahkan pada perilaku pelaku, bukan mempertanyakan keputusan korban bertahan dalam hubungan tersebut.<br \/>\u200e<br \/>\u200e\u201dKita harus berhenti menyalahkan korban (victim-blaming) dan mulai bertanya, \u2018Mengapa pelaku merasa berhak melakukan ini?&#8217;\u201d ujarnya.<br \/>\u200e<br \/>\u200eSelain edukasi, Yunita berharap proses hukum dapat memberikan efek jera. Ia menilai pelaku dengan dugaan karakter psikopat atau sadistik memerlukan evaluasi psikologis forensik yang komprehensif untuk menentukan tingkat risiko terhadap masyarakat.<br \/>\u200e<br \/>\u200eSebagai penutup, Yunita mengingatkan bahwa cinta tidak boleh dijadikan pembenaran atas tindakan kekerasan.<br \/>\u200e<br \/>\u200e\u201dKasus ini mengingatkan kita bahwa cinta yang sejati tidak pernah menyakiti, mengurung, atau merampas kemerdekaan. Jika ada rasa takut dalam sebuah hubungan, itu bukan cinta, melainkan kekerasan yang berkedok romansa.\u201d Pungkasnya<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\/daerah\/219457\/kekerasan-berkedok-romansapsikolog-unisba-jika-ada-rasa-takut-itu-bukan-cinta\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>WACANA BERITA \u2013 Psikolog Unit Layanan Psikologi Terpadu (ULPT) Universitas Islam Bandung, Yunita Sari, menilai kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan yang dilakukan TH terhadap YTR selama tiga tahun menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam hubungan sering kali bersembunyi di balik dalih cinta dan kasih sayang.\u200e\u200eMenurut Yunita, masyarakat perlu memahami bahwa hubungan yang sehat tidak pernah diwarnai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":49003,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-49002","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news"],"relative_dates":{"created":"4 months ago","modified":"4 months ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49002","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=49002"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49002\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/49003"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=49002"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=49002"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=49002"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}