{"id":42380,"date":"2026-06-14T21:17:08","date_gmt":"2026-06-14T14:17:08","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/06\/14\/kapitalisme-algoritma-lahirkan-kelas-sosial-baru-pekerja-digital-yang-rentan\/"},"modified":"2026-06-14T21:17:08","modified_gmt":"2026-06-14T14:17:08","slug":"kapitalisme-algoritma-lahirkan-kelas-sosial-baru-pekerja-digital-yang-rentan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/06\/14\/kapitalisme-algoritma-lahirkan-kelas-sosial-baru-pekerja-digital-yang-rentan\/","title":{"rendered":"Kapitalisme Algoritma Lahirkan Kelas Sosial Baru, \u2018Pekerja Digital yang Rentan\u2019"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"articlePostHeader mb-3\">\n<p>            <time class=\"d-inline-block fs-9 fw-bold mb-3 text-muted\" style=\"min-height: 20px;\">Minggu, 14 Juni 2026, 20:40 WIB<\/time><\/p>\n<p>            <!-- \/\/.articlePostShare -->\n        <\/div>\n<p>        <!-- \/\/.articlePostHeader --><\/p>\n<div class=\"articlePostImg mb-3\">\n                <picture><source type=\"image\/webp\" data-srcset=\"https:\/\/foto.wartaekonomi.co.id\/files\/arsip_foto_2026_06_14\/lsi_denny_ja_202327_big.webp\" srcset=\"https:\/\/foto.wartaekonomi.co.id\/files\/arsip_foto_2026_06_14\/lsi_denny_ja_202327_big.webp\"><source type=\"image\/jpeg\" data-srcset=\"https:\/\/foto.wartaekonomi.co.id\/files\/arsip_foto_2026_06_14\/lsi_denny_ja_202327_big.jpg\" srcset=\"https:\/\/foto.wartaekonomi.co.id\/files\/arsip_foto_2026_06_14\/lsi_denny_ja_202327_big.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"720\" height=\"415\" src=\"https:\/\/foto.wartaekonomi.co.id\/files\/arsip_foto_2026_06_14\/lsi_denny_ja_202327_big.jpg\" alt=\"Denny JA: Kapitalisme Algoritma Lahirkan Kelas Sosial Baru, \u2018Pekerja Digital yang Rentan\u2019\" class=\"img-fluid\"\/><br \/>\n                    <span class=\"d-block fs-9 px-3 px-sm-0 py-2\">Kredit Foto: Istimewa<\/span><br \/>\n                <\/source><\/source><\/picture>\n            <\/div>\n<p>            <!-- \/\/.articlePostImg --><\/p>\n<p>\n            <span class=\"float-start fw-bold me-1\">Wacana Berita, Jakarta &#8211; <\/span><\/p>\n<h3 dir=\"ltr\">Lanskap ketenagakerjaan Indonesia tengah menyaksikan lahirnya cikal bakal kelas sosial baru yang muncul dari revolusi digital. Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA, menyebut kelompok ini sebagai Digitally Vulnerable Class (DVC) atau Pekerja Digital yang Rentan.<\/h3>\n<h3 dir=\"ltr\">\u200bGagasan tersebut dituangkan Denny JA dalam esai terbarunya yang berjudul &#8220;Datangnya Kapitalisme Algoritma dan Cikal Bakal Lahirnya Kelas Baru: Pekerja Digital yang Rentan (DVC)&#8221;, yang dipublikasikan melalui akun media sosial resminya.<\/h3>\n<h3 dir=\"ltr\">\u200bMenurut Denny, dunia kini telah bergeser dari kapitalisme industri abad ke-19 dan kapitalisme finansial abad ke-20 menuju era baru: kapitalisme algoritma.<\/h3>\n<h3 dir=\"ltr\">\u200b\u201cJika kapitalisme industri bertumpu pada mesin dan kapitalisme finansial bertumpu pada modal, maka kapitalisme algoritma bertumpu pada data dan algoritma,\u201d ujar Denny JA.<\/h3>\n<h3 dir=\"ltr\">\u200bDalam sistem baru ini, algoritma memegang kendali penuh. Aturan main yang dibuat oleh platform digital dapat berubah sewaktu-waktu melalui pembaruan sistem, yang secara langsung menentukan akses pekerjaan, penghasilan, reputasi, hingga peluang ekonomi seseorang. Fenomena ini berdampak langsung pada jutaan pengemudi daring (online), kurir digital, pekerja lepas (freelancer), kreator konten, hingga penjual daring.<\/h3>\n<h3 dir=\"ltr\">\u200bSaat ini, estimasi pekerja platform digital di Indonesia telah mencapai sekitar 4 juta orang. Sementara itu, dalam arti yang lebih luas, pekerja ekonomi digital telah berkembang hingga menyentuh angka puluhan juta orang.<\/h3>\n<h3 dir=\"ltr\"><strong>\u200bBukan Proletariat, Bukan Precariat<\/strong><\/h3>\n<h3 dir=\"ltr\">\u200bDenny JA menjelaskan bahwa DVC memiliki karakteristik yang berbeda dari kelas proletariat yang diperkenalkan oleh Karl Marx, maupun kelas precariat yang digagas oleh Guy Standing.<\/h3>\n<h3 dir=\"ltr\">\u200bJika proletariat bergantung pada pemilik pabrik dan precariat bergantung pada pasar kerja yang tidak stabil, maka DVC sepenuhnya bergantung pada sistem kecerdasan buatan.<\/h3>\n<h3 dir=\"ltr\">\u200b\u201cJika pasar menentukan nasib precariat, maka algoritma menentukan nasib DVC. Seorang pengemudi ojek online bisa kehilangan penghasilannya seketika hanya karena satu notifikasi aplikasi. Ia tidak dipecat oleh manusia, melainkan dihentikan oleh algoritma,\u201d tutur Denny.<\/h3>\n<h3 dir=\"ltr\">\u200bLebih lanjut, Denny mengidentifikasi tiga ciri utama yang melekat pada DVC:<\/h3>\n<h3 dir=\"ltr\">\u200bKerentanan Algoritmik: Kelangsungan pekerjaan dan pendapatan dapat berubah drastis akibat keputusan sistem digital yang tidak transparan.<\/h3>\n<h3 dir=\"ltr\">\u200bIdentitas Kolektif Digital: Meskipun bekerja secara terisolasi di lokasi yang berbeda, para pekerja ini terhubung kuat melalui aplikasi dan komunitas daring yang membentuk solidaritas baru.<\/h3>\n<h3 dir=\"ltr\">\u200bKerawanan Harapan: Ketergantungan psikologis yang tinggi pada harapan bahwa satu unggahan akan viral atau satu perubahan algoritma akan memperbaiki nasib mereka.<\/h3>\n<h3 dir=\"ltr\"><strong>\u200bDesakan Regulasi Setara Uni Eropa<\/strong><\/h3>\n<h3 dir=\"ltr\">\u200bMeskipun belum menjadi kelas sosial yang sepenuhnya mapan, DVC dinilai sebagai cikal bakal paling kuat yang akan mewarnai struktur sosial abad ke-21. Denny menegaskan, pemerintah dan penyedia platform tidak boleh lagi berlindung di balik tameng inovasi untuk menghindari tanggung jawab.<\/h3>\n<h3 dir=\"ltr\">\u200bSebagai langkah konkret, Indonesia didesak untuk merancang regulasi perlindungan sosial yang sepadan dengan risiko algoritmik ini, mencontoh langkah Uni Eropa yang telah menetapkan Platform Work Directive demi menjamin hak-hak pekerja digital.<\/h3>\n<h3 dir=\"ltr\">\u200b\u201cAbad ke-19 melahirkan proletariat. Abad ke-20 melahirkan precariat. Abad ke-21 mungkin akan dikenang sebagai abad yang melahirkan manusia yang hidup di bawah bayang-bayang algoritma,\u201d pungkas Denny. Ia memperingatkan bahwa pertarungan terbesar masa depan bukan lagi antara buruh dan pemilik modal, melainkan antara manusia dan sistem teknologi yang diciptakannya sendiri.<\/h3>\n<\/p>\n<p>        <!-- \/\/.articlePostContent --><\/p>\n<div class=\"articlePostDisclaimer border mb-4 rounded\">\n<p class=\"fs-7 m-0 p-3\">Mau Berita Terbaru Lainnya dari Wacana Berita? Yuk Follow Kami di <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAiEJQekbu_XfrMeCH3tRfl7kkqFAgKIhCUHpG7v136zHgh97UX5e5J?hl=id&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aid\" class=\"fw-bold\" target=\"_blank\">Google News<\/a> dengan <strong>Klik Simbol Bintang<\/strong>.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p>        <!-- \/\/.articlePostDisclaimer --><\/p>\n<p>        <!-- \/\/.articlePostAuthor --><\/p>\n<p>        <!-- \/\/.articlePostTag --><\/p>\n<p>        <noscript>Please enable JavaScript to view the <a href=\"https:\/\/disqus.com\/?ref_noscript\">comments powered by Disqus.<\/a><\/noscript><\/p>\n<p><!-- \/\/.row -->    <\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read616965\/denny-ja-kapitalisme-algoritma-lahirkan-kelas-sosial-baru-pekerja-digital-yang-rentan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Minggu, 14 Juni 2026, 20:40 WIB Kredit Foto: Istimewa Wacana Berita, Jakarta &#8211; Lanskap ketenagakerjaan Indonesia tengah menyaksikan lahirnya cikal bakal kelas sosial baru yang muncul dari revolusi digital. Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA, menyebut kelompok ini sebagai Digitally Vulnerable Class (DVC) atau Pekerja Digital yang Rentan. \u200bGagasan tersebut dituangkan Denny JA dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":42381,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,2],"tags":[],"class_list":["post-42380","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news","category-business"],"relative_dates":{"created":"4 months ago","modified":"4 months ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42380","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42380"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42380\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/42381"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42380"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42380"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42380"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}