{"id":40087,"date":"2026-06-07T22:19:21","date_gmt":"2026-06-07T15:19:21","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/06\/07\/pengamat-upi-soroti-perubahan-skor-spmb-maung-minta-evaluasi-menyeluruh\/"},"modified":"2026-06-07T22:19:21","modified_gmt":"2026-06-07T15:19:21","slug":"pengamat-upi-soroti-perubahan-skor-spmb-maung-minta-evaluasi-menyeluruh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/06\/07\/pengamat-upi-soroti-perubahan-skor-spmb-maung-minta-evaluasi-menyeluruh\/","title":{"rendered":"Pengamat UPI Soroti Perubahan Skor SPMB Maung, Minta Evaluasi Menyeluruh"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\">WACANA BERITA<\/a><\/strong> \u2013 Pengamat kebijakan pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Cecep Darmawan, menyoroti perubahan serta penurunan skor calon murid baru jenjang SMA\/SMK Manusia Unggul (Maung) pada jalur prestasi non akademik dalam sistem SPMB Maung.<\/p>\n<p>Menurutnya, perubahan aturan yang terjadi di tengah proses seleksi berpotensi menimbulkan ketidakadilan bagi peserta didik. Ia menilai kebijakan seperti ini seharusnya dipersiapkan jauh hari sebelum diterapkan.<\/p>\n<p>\u201cMakanya sebelum itu diberlakukan harusnya dikaji lebih jauh. Di Sekolah Maung, pesertanya tanya, segala macam dan dihitung. Aturan seharusnya disosialisasikan sejak jauh-jauh hari, bahkan kalau perlu enam bulan hingga satu tahun sebelumnya,\u201d ujarnya, dikutip Minggu (7\/6\/2026).<\/p>\n<p>Cecep menegaskan, setiap kebijakan pendidikan perlu melalui kajian mendalam dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pihak sekolah, masyarakat, hingga akademisi. Hal ini penting untuk meminimalisasi dampak yang muncul saat kebijakan diterapkan.<\/p>\n<p>Ia juga mengingatkan bahwa perubahan skor di tengah proses seleksi dapat menimbulkan pihak yang diuntungkan maupun dirugikan, bahkan berpotensi memicu keberatan hingga gugatan hukum.<\/p>\n<p>\u201cKalau ada peserta yang berdasarkan aturan lama dinyatakan lolos, lalu setelah aturan berubah menjadi tidak lolos, tentu itu merugikan. Hal-hal seperti ini harus dipertimbangkan dengan matang,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Sebagai solusi, Cecep mengusulkan adanya aturan transisi agar tidak terjadi ketimpangan dalam proses seleksi. Peserta yang sudah mendaftar, menurutnya, sebaiknya tetap menggunakan aturan lama.<\/p>\n<p>\u201cHarus ada aturan transisi. Peserta yang sudah mendaftar tetap menggunakan aturan lama, sedangkan pendaftar berikutnya mengikuti aturan baru. Dengan begitu tidak ada pihak yang dirugikan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Selain itu, ia menekankan pentingnya evaluasi sistem SPMB Maung secara menyeluruh, termasuk kesiapan infrastruktur, data, dan mekanisme verifikasi nilai. Ia juga mendorong adanya keterbukaan dalam menerima masukan dari berbagai pihak.<\/p>\n<p>Cecep bahkan menyarankan agar program Sekolah Maung dijalankan terlebih dahulu sebagai proyek percontohan sebelum diperluas ke seluruh wilayah Jawa Barat.<\/p>\n<p>\u201cKalau saya, seharusnya cukup satu atau dua sekolah dulu sebagai pilot project. Setelah dievaluasi dan diperbaiki, baru diperluas,\u201d Pungkasnya<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\/daerah\/218555\/pengamat-upi-soroti-perubahan-skor-spmb-maung-minta-evaluasi-menyeluruh\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>WACANA BERITA \u2013 Pengamat kebijakan pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Cecep Darmawan, menyoroti perubahan serta penurunan skor calon murid baru jenjang SMA\/SMK Manusia Unggul (Maung) pada jalur prestasi non akademik dalam sistem SPMB Maung. Menurutnya, perubahan aturan yang terjadi di tengah proses seleksi berpotensi menimbulkan ketidakadilan bagi peserta didik. Ia menilai kebijakan seperti [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":24403,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-40087","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news"],"relative_dates":{"created":"4 months ago","modified":"4 months ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40087","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40087"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40087\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24403"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40087"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40087"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40087"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}