{"id":38539,"date":"2026-06-01T23:26:09","date_gmt":"2026-06-01T16:26:09","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/06\/01\/pelaku-umkm-minuman-tradisional-tembus-pasar-mancanegara\/"},"modified":"2026-06-01T23:26:09","modified_gmt":"2026-06-01T16:26:09","slug":"pelaku-umkm-minuman-tradisional-tembus-pasar-mancanegara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/06\/01\/pelaku-umkm-minuman-tradisional-tembus-pasar-mancanegara\/","title":{"rendered":"Pelaku UMKM Minuman Tradisional Tembus Pasar Mancanegara"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n            <span class=\"float-start fw-bold me-1\">Wacana Berita, Surabaya &#8211; <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Tujuh tahun silam, tidak pernah terbayangkan bahwa sebuah usaha minuman tradisional bernama <em>Queen Dawet<\/em>\u00a0akan berkembang menjadi merek yang dikenal hingga mancanegara. Tidak lahir dari ruang rapat korporasi, tidak pula didukung modal besar atau investor berpengalaman, tapi justru dimulai dari tempat yang paling sederhana, yakni dapur rumah milik Sophia Ratnasari di Sidoarjo Jatim. Skala usaha home-industri ini kini sudah masuk pasar Hong Kong dan sedang penjajagan ke beberapa negara tetangga.<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Saat itu, Sophia hanyalah seorang perempuan biasa dengan mimpi besar dan keberanian untuk memulai. Modal yang dimiliki sangat terbatas. Tidak ada mesin produksi moderen, tidak ada tim pemasaran, bahkan tidak ada jaringan distribusi yang luas. Yang Sophia miliki hanyalah resep dawet yang telah lama dia tekuni hingga menjadi minuman enak yang memiliki rasa khas.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Pada masa-masa awal, hampir semua pekerjaan dilakukan sendiri. Sophia memasak, mengemas produk, mengantarkan pesanan, melayani pelanggan, hingga mencatat pembukuan secara manual. Setiap botol yang terjual bukan sekadar produk, melainkan hasil kerja keras, pengorbanan, dan doa yang menyertainya.<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Perjalanan itu tentu tidak selalu mudah. Pasar belum mengenal konsep &#8220;dawet kekinian&#8221;. Banyak yang meragukan apakah minuman tradisional dapat diterima oleh generasi moderen. Pesanan datang tidak menentu. Ada hari-hari ketika semangat diuji oleh kenyataan bahwa usaha belum menghasilkan keuntungan yang berarti. Namun Sophia memilih untuk terus melangkah. Baginya, menyerah bukanlah pilihan.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Di tengah berbagai tantangan, Sophia memegang satu keyakinan sederhana: kesuksesan bukanlah hasil dari keberuntungan sesaat, melainkan buah dari ketekunan yang dilakukan setiap hari. \u201cModal saya hanya keyakinan, sekecil apapun usaha jika ditekuni insyaAllah akan membawa hasil baik. Tentu juga doa,\u201d kata Sophia saat diwawancarai di kediamannya, Minggu (31\/5\/2026).<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Seiring berjalannya waktu, Sophia terus menyempurnakan resep dan kualitas bahan, menguji ketahanan produk, dan mendengarkan setiap masukan dari pelanggan. Setiap kritik dijadikan bahan evaluasi. Setiap komplain menjadi peluang perbaikan. Dan setiap pelanggan yang kembali membeli dianggap sebagai bentuk kepercayaan yang harus dijaga.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Pertumbuhan\u00a0<em>Queen Dawet<\/em>\u00a0terjadi secara organik. Dari lingkungan tetangga, berkembang ke beberapa komunitas, kemudian masuk ke kantin perkantoran, toko \u2013 toko kecil, hingga berbagai jaringan penjualan yang lebih luas. \u201cTidak ada pertumbuhan secara instan. Yang ada adalah proses panjang membangun kepercayaan pasar dari satu pelanggan ke pelanggan berikutnya,\u201d kata perempuan kelahiran 1 Juni 1982 ini.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Sophia percaya bahwa bisnis yang sehat dibangun diatas fondasi ketekunan dan konsistensi. Filosofi itu terus menjadi pegangan hingga hari ini. \u201cJika kualitas dijaga dan pelanggan dihormati, pasar akan datang dengan sendirinya,\u201d katanya.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Salah satu keputusan paling penting yang diambil Sophia adalah tidak memposisikan\u00a0<em>Queen Dawet<\/em>\u00a0sekadar sebagai minuman tradisional biasa. Dia melihat perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin sadar akan kesehatan. Dari situ lahirlah inovasi yang menjadi pembeda utama\u00a0\u00a0yakni\u00a0<em>Queen Dawet<\/em>\u00a0adalah produk tanpa santan dan tanpa bahan pengawet.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Langkah ini bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan bentuk adaptasi terhadap kebutuhan konsumen kekinian. Produk minuman\u00a0<em>Queen Dawet<\/em>\u00a0tetap mempertahankan cita rasa khas dawet nusantara yang segar dan nikmat, namun hadir dalam kemasan botolan keren, format yang lebih sehat, lebih praktis, dan lebih sesuai dengan gaya hidup masa kini.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Strategi tersebut terbukti tepat.\u00a0<em>Queen Dawet<\/em>\u00a0berhasil menarik perhatian kalangan menengah hingga menengah atas yang menginginkan minuman tradisional dengan standar kualitas moderen. Produk ini mulai hadir di berbagai toko dan restauran, autlet kecil, gerai makanan sehat, kafe, hingga berbagai kanal distribusi premium lainnya.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Perlahan tetapi pasti, persepsi masyarakat mulai berubah. Dawet tidak lagi hanya identik dengan minuman tradisional yang dijual di pinggir jalan. Melalui\u00a0<em>Queen Dawet<\/em>, dawet hadir sebagai produk premium yang mampu bersanding dengan berbagai minuman moderen lainnya.\u00a0<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Babak baru ketika produk minuman ini berhasil menembus pasar Hong Kong. Pencapaian tersebut menjadi tonggak penting yang membuktikan bahwa produk berbasis kearifan lokal nusantara memiliki peluang besar untuk diterima oleh pasar internasional. Melalui jaringan distributor dan komunitas diaspora Indonesia di Hong Kong,\u00a0<em>Queen Dawet<\/em>\u00a0mulai hadir di wilayah negara yang berada di bawah otoritas China tersebut.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Bagi Sophia, menembus pasar mancanegara bukan hanya soal transaksi bisnis atau peningkatan penjualan, tapi lebih dari itu adalah bentuk diplomasi budaya. Setiap botol\u00a0<em>Queen Dawet<\/em>\u00a0yang dikirim ke luar negeri membawa cerita tentang Indonesia, tentang kekayaan kuliner nusantara, dan tentang kemampuan UMKM lokal untuk menghasilkan produk berkualitas global. Ini bukti bahwa cita rasa Indonesia tidak hanya dicintai di dalam negeri, tetapi juga memiliki daya tarik bagi konsumen luar negeri.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Seiring meningkatnya kapasitas produksi dan standar kualitas,\u00a0<em>Queen Dawet<\/em>\u00a0mulai mendapatkan kepercayaan dari berbagai kalangan. Sering diundang oleh Pemkab Sidoarjo atau Pemprov Jatim melalui Disperindah masing -masing untuk hadir meramaikan berbagai event bazar dan expo produk UMKM. Produk ini tidak hanya hadir di jaringan ritel, tetapi juga menjadi pilihan banyak perkantoran untuk kebutuhan minuman harian maupun jamuan bagi tamu, terlebih di bulan ramadhan untuk melengkapi menu buka puasa bersama.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Konsistensi rasa, kualitas bahan baku, serta produksi yang higienis menjadikan\u00a0<em>Queen Dawet\u00a0<\/em>sebagai mitra yang dipercaya berbagai institusi. Tidak berhenti di situ,\u00a0<em>Queen Dawet<\/em>juga semakin sering hadir dalam berbagai kegiatan agak besar;\u00a0\u00a0seminar nasional, konferensi, festival budaya, konser musik, kegiatan olahraga, hingga berbagai acara resmi telah menjadikan\u00a0<em>Queen Dawet<\/em>\u00a0sebagai bagian utamanya.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Kemampuan menjaga kualitas dalam produksi skala besar menunjukkan bahwa\u00a0<em>Queen Dawet<\/em>\u00a0bukan sekadar UMKM rumahan, melainkan brand yang terus bertumbuh dengan standar profesional. Di balik pertumbuhan bisnis yang semakin besar, Sophia selalu meyakini bahwa keberhasilan perusahaan harus memberikan manfaat yang lebih luas, yakni menyerap tenaga kerja serta merangkul berbagai mitra usaha dalam rantai pasok usaha.\u00a0<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Produk olahan tangan dingin Sophia ini\u00a0mampu menjual sekitar 300-350 botol per hari atau 9 -10 ribu botol\u00a0per bulan.\u00a0Setiap botol yang diproduksi tidak hanya menciptakan nilai ekonomi bagi dirinya, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak pihak. Inilah yang membuat pertumbuhan\u00a0<em>Queen Dawet<\/em>\u00a0memiliki makna yang lebih daripada sekadar angka penjualan.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">Meski telah mencapai berbagai pencapaian penting, Sophia Ratnasari merasa perjalanan Queen Dawet masih panjang. Dia memiliki mimpi besar yang mungkin terdengar ambisius, tetapi justru itulah yang membuatnya terus bergerak maju: menjadikan\u00a0<em>Queen Dawet<\/em>\u00a0sebagai brand minuman Indonesia yang dikenal dan dicintai masyarakat luas.\u00a0<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">\u201cSebai pengusaha kan harus punya cita \u2013 cita setinggi langit,\u201d tutup kisah Sophia.\u00a0<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\">.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read614443\/pelaku-umkm-minuman-tradisional-tembus-pasar-mancanegara\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wacana Berita, Surabaya &#8211; Tujuh tahun silam, tidak pernah terbayangkan bahwa sebuah usaha minuman tradisional bernama Queen Dawet\u00a0akan berkembang menjadi merek yang dikenal hingga mancanegara. Tidak lahir dari ruang rapat korporasi, tidak pula didukung modal besar atau investor berpengalaman, tapi justru dimulai dari tempat yang paling sederhana, yakni dapur rumah milik Sophia Ratnasari di Sidoarjo [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":38540,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,2],"tags":[],"class_list":["post-38539","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news","category-business"],"relative_dates":{"created":"4 months ago","modified":"4 months ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38539","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=38539"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38539\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/38540"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=38539"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=38539"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=38539"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}