{"id":36236,"date":"2026-05-26T18:34:04","date_gmt":"2026-05-26T11:34:04","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/05\/26\/kalau-sama-harusnya-sudah-rp33-000\/"},"modified":"2026-05-26T18:34:04","modified_gmt":"2026-05-26T11:34:04","slug":"kalau-sama-harusnya-sudah-rp33-000","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/05\/26\/kalau-sama-harusnya-sudah-rp33-000\/","title":{"rendered":"Kalau Sama Harusnya Sudah Rp33.000"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n            <span class=\"float-start fw-bold me-1\">Wacana Berita, Jakarta &#8211; <\/span><\/p>\n<p>Ekonom Wijayanto Samirin menilai pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.800 per dolar AS saat ini tidak dapat disamakan dengan kondisi krisis moneter 1998.<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p>Menurutnya, perbandingan langsung antara nilai tukar rupiah saat ini dan era krisis 1998 berpotensi menyesatkan karena kondisi inflasi dan struktur ekonomi sudah berbeda jauh.<\/p>\n<p>\u201cKita harus mengurangi perdebatan tentang Rp18.000, Rp19.000, Rp20.000. Kenapa? Karena ini tidak positif dalam konteks membuat masyarakat panik,\u201d ujar Wijayanto kepada Wacana Berita, Selasa (26\/5\/2026).<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p>Wijayanto mengatakan nilai tukar rupiah pada masa krisis 1998 harus dihitung kembali menggunakan penyesuaian inflasi Indonesia dan Amerika Serikat agar dapat dibandingkan secara setara dengan kondisi saat ini.<\/p>\n<p>Ia mencontohkan, ketika Presiden Soeharto lengser pada Mei 1998, kurs rupiah berada di sekitar Rp10.000 per dolar AS dan sempat menyentuh Rp16.800 per dolar AS pada Juni 1998.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read613633\/konflik-as-iran-bayangi-pasar-rupiah-ditutup-nyaris-rp17800-per-dolar-as\">Konflik AS-Iran Bayangi Pasar, Rupiah Ditutup Nyaris Rp17.800 per Dolar AS<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read613572\/rupiah-terpuruk-nyaris-dekati-level-rp18000-jelang-libur-iduladha\">Rupiah Terpuruk, Nyaris Dekati Level Rp18.000 Jelang Libur Iduladha<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Namun, setelah disesuaikan dengan selisih inflasi kedua negara selama hampir tiga dekade terakhir, nilai tukar tersebut setara jauh lebih tinggi dibanding posisi rupiah saat ini.<\/p>\n<p>\u201cRp10.000 di masa lalu itu, kalau kita pindah ke sekarang, di-<span class=\"s1\"><em>adjust<\/em><\/span>\u00a0terhadap selisih inflasi Amerika dan Indonesia, Rp10.000 itu sama dengan Rp33.000,\u201d katanya.<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p>Dengan perhitungan tersebut, Wijayanto menilai tekanan terhadap rupiah saat ini masih relatif berbeda dibandingkan kondisi krisis moneter 1998.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<div>\n<p class=\"fs-7 m-0 p-3\">Mau Berita Terbaru Lainnya dari Wacana Berita? Yuk Follow Kami di <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAiEJQekbu_XfrMeCH3tRfl7kkqFAgKIhCUHpG7v136zHgh97UX5e5J?hl=id&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aid\" class=\"fw-bold\" target=\"_blank\">Google News<\/a> dengan <strong>Klik Simbol Bintang<\/strong>.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read613649\/kenapa-rupiah-sekarang-beda-dengan-98-ekonom-kalau-sama-harusnya-sudah-rp33000\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wacana Berita, Jakarta &#8211; Ekonom Wijayanto Samirin menilai pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.800 per dolar AS saat ini tidak dapat disamakan dengan kondisi krisis moneter 1998. Menurutnya, perbandingan langsung antara nilai tukar rupiah saat ini dan era krisis 1998 berpotensi menyesatkan karena kondisi inflasi dan struktur ekonomi sudah berbeda jauh. \u201cKita harus mengurangi perdebatan tentang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":36237,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,2],"tags":[],"class_list":["post-36236","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news","category-business"],"relative_dates":{"created":"4 months ago","modified":"4 months ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36236","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36236"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36236\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36237"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36236"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36236"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36236"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}