{"id":25871,"date":"2026-04-10T22:15:59","date_gmt":"2026-04-10T15:15:59","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/04\/10\/pengamat-nilai-farhan-reaktif-hadapi-cuaca-ekstrem\/"},"modified":"2026-04-10T22:15:59","modified_gmt":"2026-04-10T15:15:59","slug":"pengamat-nilai-farhan-reaktif-hadapi-cuaca-ekstrem","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/04\/10\/pengamat-nilai-farhan-reaktif-hadapi-cuaca-ekstrem\/","title":{"rendered":"Pengamat Nilai Farhan Reaktif Hadapi Cuaca Ekstrem"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\">WACANA BERITA<\/a><\/strong> \u2013 Pengamat Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran (Unpad), Asep Sumaryana, menilai pemerintah masih cenderung bersikap reaktif dalam menghadapi bencana akibat cuaca ekstrem. Menurutnya, langkah antisipasi seharusnya diperkuat sebelum kejadian terjadi.<\/p>\n<p>\u201cJadi kita itu seringkali melakukan aktivitas itu setelah kejadian, bukan bersifat antisipasi atau preventif. Ini yang perlu diubah, jangan sampai setelah ada korban baru kita bergerak,\u201d ujarnya. Saat diwawancarai Jum\u2019at (10\/4\/2026)<\/p>\n<p>Asep menekankan pentingnya perubahan pola pikir di lingkungan birokrasi agar lebih mengutamakan mitigasi risiko. Ia mendorong pemerintah untuk lebih aktif melibatkan para ahli dalam membaca potensi dampak cuaca ekstrem, sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.<\/p>\n<p>Menurutnya, kolaborasi dengan akademisi dan pakar sangat penting untuk memprediksi risiko seperti pohon tumbang, reklame roboh, hingga potensi gangguan keselamatan publik lainnya.<\/p>\n<p>\u201cPerlu memanfaatkan banyak ahli untuk mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi dalam dinamika iklim yang sedang berjalan,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Ia juga menegaskan bahwa pemerintah memiliki kewajiban utama dalam memberikan pelayanan publik yang aman dan nyaman. Karena itu, berbagai potensi ancaman seperti pohon rawan tumbang hingga infrastruktur yang tidak tertata perlu segera ditertibkan.<\/p>\n<p>\u201cBagi pemerintah memiliki kewajiban untuk melayani publik secara maksimal. Sehingga publik itu bisa beraktivitas secara nyaman dengan aman. \u201d ujarnya<\/p>\n<p>Asep turut mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin ekstrem. Warga diimbau segera melapor ke aparat kewilayahan jika menemukan potensi bahaya di lingkungan sekitar agar bisa segera ditindaklanjuti oleh pemerintah.<\/p>\n<p>\u201cMasyarakat perlu belajar menghadapi perubahan iklim yang saat ini terjadi begitu cepat. Karena itu, sikap waspada harus terus ditingkatkan. Jika ada potensi atau hal-hal yang dapat berdampak negatif terhadap kehidupan, segera laporkan kepada aparat kewilayahan agar dapat diantisipasi dan ditindaklanjuti lebih cepat oleh pemerintah.\u201d<\/p>\n<p>Sebelumnya Wali Kota Bandung, Farhan, mengungkapkan dampak cuaca ekstrem yang melanda wilayah Bandung Raya dalam sepekan terakhir awal April 2026. Ia menyebut ratusan pohon tumbang terjadi tidak hanya di Kota Bandung, tetapi juga di wilayah sekitarnya.<\/p>\n<p>\u201cSepanjang minggu lalu, ratusan pohon tumbang, tidak hanya di Kota Bandung tetapi di seluruh Bandung Raya,\u201d kata Farhan, Rabu (8\/4\/2026).<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\/daerah\/216299\/pengamat-nilai-farhan-reaktif-hadapi-cuaca-ekstrem\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>WACANA BERITA \u2013 Pengamat Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran (Unpad), Asep Sumaryana, menilai pemerintah masih cenderung bersikap reaktif dalam menghadapi bencana akibat cuaca ekstrem. Menurutnya, langkah antisipasi seharusnya diperkuat sebelum kejadian terjadi. \u201cJadi kita itu seringkali melakukan aktivitas itu setelah kejadian, bukan bersifat antisipasi atau preventif. Ini yang perlu diubah, jangan sampai setelah ada korban baru [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":25872,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-25871","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news"],"relative_dates":{"created":"5 months ago","modified":"5 months ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25871","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25871"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25871\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25872"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25871"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25871"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25871"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}