{"id":25724,"date":"2026-04-09T16:14:55","date_gmt":"2026-04-09T09:14:55","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/04\/09\/gaslah-di-bandung-terbentur-lahan-sempit-program-jalan-tertatih-di-permukiman-padat\/"},"modified":"2026-04-09T16:14:55","modified_gmt":"2026-04-09T09:14:55","slug":"gaslah-di-bandung-terbentur-lahan-sempit-program-jalan-tertatih-di-permukiman-padat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/04\/09\/gaslah-di-bandung-terbentur-lahan-sempit-program-jalan-tertatih-di-permukiman-padat\/","title":{"rendered":"Gaslah di Bandung Terbentur Lahan Sempit, Program Jalan Tertatih di Permukiman Padat"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\">WACANA BERITA<\/a><\/strong> \u2013Ambisi Pemerintah Kota Bandung menuntaskan persoalan sampah melalui program Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah) belum sepenuhnya berjalan mulus. Di lapangan, program ini masih terseok-seok menghadapi persoalan klasik: keterbatasan lahan.<\/p>\n<p data-start=\"459\" data-end=\"696\">Situasi ini tergambar jelas di Kelurahan Kebon Jayanti, Kecamatan Kiaracondong. Wilayah padat penduduk tersebut nyaris tak memiliki ruang untuk fasilitas pengolahan sampah. Namun di tengah keterbatasan, program tetap dipaksakan berjalan.<\/p>\n<p data-start=\"698\" data-end=\"861\">Lurah Kebon Jayanti, Wiwin Haryani, mengakui sejak awal Gaslah sudah dihadapkan pada persoalan mendasar. Mayoritas lahan di wilayahnya bukan milik pemerintah kota.<\/p>\n<blockquote>\n<p data-start=\"698\" data-end=\"861\"><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\/politik\/216116\/gaslah-dipertanyakan-muhamad-syahlevi-nilai-program-pengelolaan-sampah-belum-siap-jadi-solusi\/\">Gaslah Dipertanyakan, Muhamad Syahlevi Nilai Program Pengelolaan Sampah Belum Siap Jadi Solusi<\/a><\/p>\n<\/blockquote>\n<p data-start=\"863\" data-end=\"1084\">\u201cKita sangat minim lahan. Sebagian besar ini milik PT KAI dan PT Pindad. Lahan Pemkot hampir tidak ada, paling hanya untuk fasilitas umum dan kantor RW, tidak bisa dipakai pengolahan sampah,\u201d ujar Wiwin, Kamis (9\/4\/2026).<\/p>\n<p data-start=\"1126\" data-end=\"1262\">Kondisi tersebut memaksa pengelolaan sampah bergantung pada izin pihak ketiga. Saat ini, pengolahan hanya mengandalkan dua rumah maggot.<\/p>\n<p data-start=\"1264\" data-end=\"1442\">Satu berada di RW 02 dengan memanfaatkan lahan milik PT KAI yang belum digunakan. Sementara satu lagi di RW 12 berdiri di atas lahan Perumda Pasar Juara melalui skema kerja sama.<\/p>\n<p data-start=\"1444\" data-end=\"1560\">Namun, ketergantungan ini menyimpan risiko. Keberadaan fasilitas pengolahan tidak memiliki kepastian jangka panjang.<\/p>\n<p data-start=\"1562\" data-end=\"1704\">\u201cYang agak permanen di RW 12 karena sudah ada MoU. Tapi yang di RW 02 bisa saja pindah kalau sewaktu-waktu lahannya diminta kembali,\u201d katanya.<\/p>\n<p data-start=\"1740\" data-end=\"1967\">Minimnya ruang membuat pengolahan sampah hanya bisa dilakukan dalam skala terbatas. Rumah maggot yang tersedia hanya berukuran 25\u201330 meter persegi, jauh dari standar ideal Pemkot Bandung yang mencapai minimal 100 meter persegi.<\/p>\n<p data-start=\"1969\" data-end=\"2059\">\u201cMakanya kita ambil yang skala plasma, karena memang tidak punya lahan besar,\u201d ujar Wiwin.<\/p>\n<p data-start=\"2061\" data-end=\"2287\">Meski serba terbatas, aktivitas tetap berjalan. Setiap hari, petugas Gaslah di 14 RW mampu mengangkut 250 hingga 300 kilogram sampah rumah tangga. Dari jumlah itu, sekitar 150\u2013200 kilogram berhasil diolah menjadi pakan maggot.<\/p>\n<p data-start=\"2289\" data-end=\"2404\">\u201cSaya minta program ini tetap jalan. Jadi dipaksakan, walaupun lahannya sedikit, jangan sampai berhenti,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p data-start=\"2447\" data-end=\"2589\">Di tingkat warga, program ini tak langsung mendapat sambutan positif. Ketua RW 04 Kebon Jayanti, Yayah, mengungkapkan awalnya banyak keraguan.<\/p>\n<p data-start=\"2591\" data-end=\"2705\">\u201cDulu sempat pro kontra. Banyak yang bilang program ini tidak akan jalan di daerah padat seperti ini,\u201d kata Yayah.<\/p>\n<p data-start=\"2707\" data-end=\"2852\">Namun seiring waktu, konsistensi petugas mulai mengubah persepsi warga. Penanganan sampah yang lebih teratur membuat kepercayaan perlahan tumbuh.<\/p>\n<p data-start=\"2854\" data-end=\"2962\">Untuk memperkuat program, kelurahan juga berencana menambah sarana pendukung berupa ember sampah di tiap RW.<\/p>\n<p data-start=\"2964\" data-end=\"3074\">\u201cAda rencana bantuan 30 ember per RW. Nanti titik-titik sampah jadi lebih tertib dan tidak tercecer,\u201d ujarnya.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\/daerah\/216228\/gaslah-di-bandung-terbentur-lahan-sempit-program-jalan-tertatih-di-permukiman-padat\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>WACANA BERITA \u2013Ambisi Pemerintah Kota Bandung menuntaskan persoalan sampah melalui program Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah) belum sepenuhnya berjalan mulus. Di lapangan, program ini masih terseok-seok menghadapi persoalan klasik: keterbatasan lahan. Situasi ini tergambar jelas di Kelurahan Kebon Jayanti, Kecamatan Kiaracondong. Wilayah padat penduduk tersebut nyaris tak memiliki ruang untuk fasilitas pengolahan sampah. Namun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":25725,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-25724","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news"],"relative_dates":{"created":"6 months ago","modified":"6 months ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25724","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25724"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25724\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25725"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25724"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25724"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25724"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}