{"id":135329,"date":"2026-10-23T10:19:23","date_gmt":"2026-10-23T03:19:23","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/10\/23\/identifikasi-burung-pemangsa-diperkenalkan-dalam-kegiatan-pengamatan-megamendung\/"},"modified":"2026-10-23T10:19:23","modified_gmt":"2026-10-23T03:19:23","slug":"identifikasi-burung-pemangsa-diperkenalkan-dalam-kegiatan-pengamatan-megamendung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/10\/23\/identifikasi-burung-pemangsa-diperkenalkan-dalam-kegiatan-pengamatan-megamendung\/","title":{"rendered":"Identifikasi Burung Pemangsa Diperkenalkan dalam Kegiatan Pengamatan Megamendung"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p><iframe title=\"PERJALANAN MELINTASI BENUA : Bird Migration Watch 2026\" width=\"810\" height=\"456\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/fTClrFKhqwU?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Perlindungan keanekaragaman hayati di Jawa Barat menjadi kebutuhan mendesak di tengah maraknya alih fungsi lahan dan aktivitas pemburuan. Dalam konteks ini, Yayasan Paseban menekankan pentingnya pengawasan lebih ketat dari pemerintah provinsi, khususnya dengan memberlakukan kebijakan tegas berupa pelarangan perburuan burung liar di berbagai kawasan. Kebijakan seperti ini tidak hanya akan melindungi populasi burung, tetapi sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem yang sangat rentan terhadap gangguan manusia.<\/p>\n<p>Langkah konkret telah diambil Yayasan Paseban melalui penyampaian rekomendasi resmi kepada Gubernur Jawa Barat. Dalam surat tersebut, Yayasan Paseban mengajukan permohonan agar diterbitkan surat edaran mengenai larangan perburuan burung serta peraturan yang memajukan perlindungan satwa liar di seluruh Jawa Barat. Tidak berhenti di tingkat provinsi, mereka juga mengajak pemerintah desa untuk merumuskan peraturan lokal yang dapat melindungi flora dan fauna di wilayah masing-masing. Dengan demikian, konservasi satwa dapat ditingkatkan secara lebih menyeluruh, melibatkan unit administratif terkecil di daerah.<\/p>\n<p>Langkah ini diperkuat melalui kegiatan Megamendung Bird Migration Watch 2026 yang dilaksanakan selama tiga hari, mulai 16 hingga 18 Oktober 2026. Kolaborasi antara Yayasan Paseban, Burung Indonesia, dan Raptor Indonesia (RAIN) berhasil memperkaya data tentang burung migran yang mampir di kawasan Megamendung, Kabupaten Bogor. Tak kurang dari 915 kali pengamatan burung pemangsa migran berhasil dicatat, terdiri dari 828 pengamatan elang-alap Cina (Accipiter soloensis), 76 pengamatan sikep-madu Asia (Pernis ptilorhynchus), dan 11 pengamatan elang-alap Nipon (Accipiter gularis).<\/p>\n<p>Jumlah pengamatan tersebut belum merepresentasikan jumlah individu burung, sebab kemungkinan pengamatan ganda sangat mungkin terjadi, tetapi tetap memberikan indikasi aktivitas migrasi yang mencolok di Megamendung. Selain itu, para pengamat juga mencatat kehadiran 47 jenis burung lokal, serta beberapa spesies amfibi dan reptil. Dua raptor yang menetap di wilayah itu, yaitu elang-ular bido (Spilornis cheela) dan elang Jawa (Nisaetus bartelsi), juga termonitor keberadaannya. Data tersebut sangat bermanfaat sebagai bahan evaluasi sekaligus perencanaan strategi pelestarian ke depan.<\/p>\n<p>Hutan Paseban sendiri berperan krusial dalam ekologi migrasi burung, sebagaimana diungkapkan Ady Kristanto, Direktur Konservasi Yayasan Paseban. Area hutan tersebut menjadi tempat strategis burung migran untuk beristirahat selama malam hari dalam perjalanan panjangnya. Namun, menurut Ady, kawasan sekitar Hutan Paseban yang mulai berubah fungsi menjadi hunian dan vila harus menjadi perhatian agar habitat yang vital ini tidak hilang.<\/p>\n<p>Ady menambahkan, \u201cMendokumentasikan jenis dan jumlah burung yang singgah tiap malam sangat penting agar langkah-langkah konservasi berbasis data dapat dilaksanakan dengan tepat.\u201d Manfaat data ini juga dirasakan para penggiat lingkungan untuk meningkatkan pemahaman tentang spesies burung yang tergantung pada Megamendung sebagai titik singgah migrasi.<\/p>\n<p>Senada, Dian Agista selaku Ketua Burung Indonesia menggarisbawahi pentingnya keberadaan habitat yang sehat dan pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan. Ia mengatakan, tanpa ekosistem yang tetap terjaga, kelangsungan migrasi dan kehidupan burung-burung tersebut akan terancam. Burung butuh tempat istirahat dan sumber pakan sepanjang perjalanan migrasinya, sehingga keberadaan habitat alami tak tergantikan.<\/p>\n<p>Perlindungan terhadap habitat dan satwa liar memerlukan kolaborasi berbagai pihak. Ketua Raptor Indonesia, Zaini Rakhman, menyoroti pola migrasi burung pemangsa yang mengandalkan arus panas pada siang hari untuk terbang jarak jauh. Zaini berharap kegiatan pemantauan seperti ini bisa diadakan secara rutin setiap tahun guna memetakan pola pergerakan burung migran lebih komprehensif.<\/p>\n<p>Selain pengamatan lapangan, Megamendung Bird Migration Watch 2026 turut menggelar sesi edukasi dan diskusi mengupas seluk-beluk migrasi burung, jalur lintasan global, hingga teknik identifikasi burung pemangsa. Pesertanya datang dari latar belakang profesi yang beragam, memperkaya sudut pandang diskusi dan memperluas jejaring kolaborasi.<\/p>\n<p>Pada momen itu pula, Yayasan Paseban menjalin perjanjian kolaborasi dengan Burung Indonesia dan Cikananga Wildlife Center. Kerja sama ini diharapkan memperkuat sinergi tata kelola dan rehabilitasi habitat berbagai spesies. Secara paralel, Yayasan Paseban juga menjalankan program pengembangbiakan beberapa burung endemik Jawa dan rusa Timor, serta pembibitan ribuan pohon langka endemik pulau Jawa, sebagai bentuk nyata upaya pelestarian alam.<\/p>\n<p>Wiratno, penasihat Yayasan Paseban yang pernah menjabat Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, mengingatkan posisi kawasan Megamendung yang berada pada zona transisi Cagar Biosfer Cibodas. Menurutnya, langkah-langkah seperti restorasi hutan, terutama yang terletak di pegunungan dengan ketinggian di atas 1.000 meter, sangat penting dalam mempertahankan ekosistem yang berkelanjutan.<\/p>\n<p>Seluruh tindakan mulai dari kebijakan tingkat provinsi dan desa, pengumpulan data lapangan, hingga rehabilitasi habitat, hendaknya dapat menjadi inspirasi bagi semakin banyak pemangku kepentingan untuk bergerak bersama dalam menjaga keanekaragaman hayati Jawa Barat. Kolaborasi dan upaya berkelanjutan diharapkan akan membawa dampak signifikan terhadap pelestarian burung dan ekosistemnya di masa depan.<\/p>\n<p>\nSumber: <a target=\"_blank\" href=\"https:\/\/tribunmerdeka.net\/2026\/10\/22\/usulan-larangan-berburu-burung-jabar-perlindungan-satwa-desa\/\">Usulan Larangan Berburu Burung Di Jabar Disertai Dorongan Perlindungan Satwa Hingga Tingkat Desa<\/a><br \/>Sumber: <a target=\"_blank\" href=\"https:\/\/www.detik.com\/jabar\/berita\/d-8716443\/yayasan-paseban-dorong-larangan-berburu-burung-di-jawa-barat\">Yayasan Paseban Dorong Larangan Berburu Burung Di Jawa Barat<\/a>\n<\/p>\n<p>\t\t\t<!-- .entry-footer -->\n\t\t\t\t\t<\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/portalberita.info\/2026\/10\/23\/identifikasi-burung-pemangsa-diperkenalkan-dalam-kegiatan-pengamatan-megamendung\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perlindungan keanekaragaman hayati di Jawa Barat menjadi kebutuhan mendesak di tengah maraknya alih fungsi lahan dan aktivitas pemburuan. Dalam konteks ini, Yayasan Paseban menekankan pentingnya pengawasan lebih ketat dari pemerintah provinsi, khususnya dengan memberlakukan kebijakan tegas berupa pelarangan perburuan burung liar di berbagai kawasan. Kebijakan seperti ini tidak hanya akan melindungi populasi burung, tetapi sekaligus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31685,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-135329","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news"],"relative_dates":{"created":"5 hours ago","modified":"5 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/135329","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=135329"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/135329\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/31685"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=135329"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=135329"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=135329"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}