{"id":130861,"date":"2026-10-17T15:54:19","date_gmt":"2026-10-17T08:54:19","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/10\/17\/bandung-photography-month-2026-usung-tema-reclaim-libatkan-28-seniman-dan-13-penulis\/"},"modified":"2026-10-17T15:54:19","modified_gmt":"2026-10-17T08:54:19","slug":"bandung-photography-month-2026-usung-tema-reclaim-libatkan-28-seniman-dan-13-penulis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/10\/17\/bandung-photography-month-2026-usung-tema-reclaim-libatkan-28-seniman-dan-13-penulis\/","title":{"rendered":"Bandung Photography Month 2026 Usung Tema \u201cReclaim\u201d, Libatkan 28 Seniman dan 13 Penulis"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\">KORAN MANDALA<\/a><\/strong> \u2013Festival fotografi Bandung Photography Month (BPM) kembali digelar. Memasuki edisi ke-11 pada 2026, festival ini mengusung tema \u201cReclaim\u201d dan melibatkan 28 seniman atau fotografer serta 13 penulis. Pembukaan berlangsung di Frame Kang Maman, Jalan Alkateri, Bandung, Jumat (16\/10\/2026).<\/p>\n<p>Mengusung semangat <em>\u201cAn Afternoon of Art, Music, and Shared Spaces\u201d<\/em>, BPM 11 menghadirkan karya fotografi, tulisan, dan pertunjukan seni dalam ruang publik. Festival ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya visual, tetapi juga ruang pertemuan untuk berbagi gagasan, cerita, dan sudut pandang mengenai fotografi serta berbagai persoalan sosial.<\/p>\n<p>Pameran berlangsung hingga 16 November 2026. Sejumlah agenda turut meramaikan pembukaan, di antaranya <em>walking tour<\/em> menuju Red Raws Center di Pasar Antik Cikapundung, Lantai 3, Blok FC 01, pemutaran pilihan musik melalui piringan hitam oleh Tanto Sutrisno, serta <em>performance art<\/em> oleh Gatot Gunawan.<\/p>\n<blockquote>\n<p><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\/daerah\/224166\/bandung-terasa-panas-suhu-udara-diprakirakan-capai-34-derajat-celsius\/\">Bandung Terasa Panas, Suhu Udara Diprakirakan Capai 34 Derajat Celsius<\/a><\/p>\n<\/blockquote>\n<p>Perwakilan Bandung Photography Month, Baskara Puraga, menjelaskan bahwa festival ini telah diselenggarakan sejak 2013. BPM sempat terhenti selama pandemi, sebelum kembali digelar secara rutin dengan konsep dan tema berbeda setiap tahunnya.<\/p>\n<p>Menurut Baskara, tema festival dirumuskan dengan mempertimbangkan fenomena sosial dan berbagai persoalan yang relevan untuk direspons melalui fotografi.<\/p>\n<p>\u201cBandung Photography Month adalah sebuah festival foto khusus untuk fotografi yang saat ini selalu kami adakan di ruang publik, jadi kita tidak di galeri,\u201d ujar Baskara.<\/p>\n<p>Penggunaan ruang publik menjadi salah satu karakter BPM dalam menghadirkan pengalaman pameran yang berbeda. Lokasi penyelenggaraan yang berpindah-pindah juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati karya fotografi di luar ruang pamer konvensional.<\/p>\n<p>Pada edisi kali ini, tema \u201cReclaim\u201d menjadi landasan untuk menghadirkan karya yang tidak hanya mengedepankan aspek visual, tetapi juga narasi dan gagasan di baliknya.<\/p>\n<p>Keterlibatan 13 penulis dalam festival ini turut memperluas pembahasan mengenai fotografi. Ekosistem fotografi, menurut Baskara, tidak hanya bergantung pada fotografer, tetapi juga membutuhkan kontribusi penulis, kurator, dan berbagai pihak lain untuk membangun wacana yang lebih luas.<\/p>\n<h3>Museum Gagasan Fotografi Indonesia<\/h3>\n<p>Salah satu program yang dihadirkan dalam BPM 11 adalah Museum Gagasan Fotografi Indonesia. Program ini dirancang sebagai ruang untuk mengarsipkan, menampilkan, dan menuliskan berbagai gagasan mengenai fotografi.<\/p>\n<p>Kehadirannya menjadi upaya membangun dokumentasi pemikiran fotografi sekaligus membuka akses bagi masyarakat untuk mengenal perkembangan gagasan dan pemikiran kritis di bidang tersebut.<\/p>\n<p>\u201cKeinginannya itu membuat museum dari hal kecil dulu, tapi khusus untuk mengarsipkan, menampilkan, dan menuliskan gagasan-gagasan yang berhubungan dengan fotografi,\u201d jelas Baskara.<\/p>\n<p>Dalam proses kurasi, narasi menjadi salah satu pertimbangan utama untuk menentukan karya yang sesuai dengan tema \u201cReclaim\u201d. Dari sekitar 45 peserta yang mengirimkan karya melalui mekanisme <em>open call<\/em>, sembilan di antaranya terpilih untuk ditampilkan.<\/p>\n<p>Pendekatan serupa diterapkan pada karya tulis yang membahas kritik fotografi, arsip, serta berbagai persoalan dalam praktik fotografi.<\/p>\n<p>Bagi Baskara, \u201cReclaim\u201d bukan sekadar tema pameran, melainkan juga berkaitan dengan upaya merebut kembali ruang, gagasan, dan ekosistem fotografi yang lebih ideal.<\/p>\n<p>Ia berharap BPM dapat menginspirasi komunitas di kota-kota lain untuk menyelenggarakan festival serupa tanpa harus bergantung pada skala besar maupun konsep yang mewah.<\/p>\n<p>\u201cHarapannya mudah-mudahan bisa men-trigger teman-teman di kota-kota lain juga untuk membuat festival,\u201d tuturnya.<\/p>\n<h3>Ruang Alternatif bagi Karya Fotografi<\/h3>\n<p>Pandangan mengenai pentingnya ruang pamer alternatif juga disampaikan Ncis, salah satu fotografer yang karyanya ditampilkan dalam BPM 11.<\/p>\n<p>Dalam pameran tersebut, Ncis menghadirkan karya tentang Hari Rusli, sosok yang dikenalnya sejak masih duduk di bangku SMP. Melalui foto-foto yang ditampilkan, ia menggambarkan sosok Hari Rusli sebagai pribadi yang unik dan jahil, tetapi juga memiliki sisi lembut.<\/p>\n<p>Menurut Ncis, daya tarik BPM terletak pada keberaniannya menghadirkan pameran di lokasi yang tidak biasa. Pendekatan tersebut memberikan alternatif bagi masyarakat untuk menikmati fotografi tanpa harus selalu datang ke galeri formal.<\/p>\n<p>\u201cBandung Photography Month dari tahun ke tahun selalu unik, di luar nalar pameran yang biasa,\u201d ungkap Ncis.<\/p>\n<p>Ia menilai Bandung masih membutuhkan lebih banyak ruang terbuka untuk menampilkan karya visual. Keberadaan ruang pamer alternatif dinilai dapat memperluas kesempatan bagi fotografer dan penyelenggara kegiatan seni untuk menjangkau masyarakat.<\/p>\n<h3>Menerjemahkan \u201cReclaim\u201d melalui Pertunjukan Seni<\/h3>\n<p>Semangat \u201cReclaim\u201d juga diterjemahkan melalui pertunjukan seni oleh Gatot Gunawan. Seniman <em>performing arts<\/em> tersebut menghadirkan gerak tari yang terinspirasi dari sejumlah foto dalam pameran.<\/p>\n<p>Karya-karya yang berkaitan dengan seni tari keraton Yogyakarta, Patrice Lumumba, Palestina, hingga Peristiwa Bandung Lautan Api menjadi sumber inspirasinya.<\/p>\n<p>Gatot melihat foto-foto tersebut sebagai representasi pengorbanan, penderitaan, dan perjuangan. Melalui gerak tubuh, ia berupaya menghubungkan dokumentasi visual dengan cerita sejarah serta pengalaman manusia yang dapat dipahami oleh generasi muda.<\/p>\n<p>\u201cPada intinya, yang saya tangkap dari keseluruhan ini, foto-foto ini ngomongin tentang pengorbanan sama penderitaan,\u201d jelas Gatot.<\/p>\n<p>Ia berharap pameran fotografi tidak selalu identik dengan ruang eksklusif atau galeri formal. Jalanan dan berbagai ruang publik lainnya, menurutnya, dapat menjadi alternatif untuk menghadirkan karya sekaligus menciptakan pengalaman seni yang lebih dekat dengan masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cPara fotografer ini bisa melebarkan sayapnya, bikin ruang-ruang pameran yang out of the box. Kita nggak mesti bikin di satu ruangan yang eksklusif,\u201d kata Gatot.<\/p>\n<p>Melalui BPM 11, fotografi dihadirkan bukan hanya sebagai medium untuk merekam peristiwa, tetapi juga sebagai sarana menyampaikan gagasan, membaca persoalan sosial, dan membangun interaksi antara karya seni dengan masyarakat. Tema \u201cReclaim\u201d menjadi titik berangkat untuk memperluas ruang apresiasi sekaligus mendorong perkembangan ekosistem fotografi yang lebih terbuka di Bandung.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\/daerah\/224178\/bandung-photography-month-2026-usung-tema-reclaim-libatkan-28-seniman-dan-13-penulis\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KORAN MANDALA \u2013Festival fotografi Bandung Photography Month (BPM) kembali digelar. Memasuki edisi ke-11 pada 2026, festival ini mengusung tema \u201cReclaim\u201d dan melibatkan 28 seniman atau fotografer serta 13 penulis. Pembukaan berlangsung di Frame Kang Maman, Jalan Alkateri, Bandung, Jumat (16\/10\/2026). Mengusung semangat \u201cAn Afternoon of Art, Music, and Shared Spaces\u201d, BPM 11 menghadirkan karya fotografi, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":130862,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-130861","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news"],"relative_dates":{"created":"5 hours ago","modified":"5 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/130861","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=130861"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/130861\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/130862"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=130861"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=130861"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=130861"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}