{"id":123165,"date":"2026-10-07T14:24:52","date_gmt":"2026-10-07T07:24:52","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/10\/07\/utang-masyarakat-makin-menggunung-di-pinjol-ekonom-minta-utang-dibatasi-30-penghasilan\/"},"modified":"2026-10-07T14:24:52","modified_gmt":"2026-10-07T07:24:52","slug":"utang-masyarakat-makin-menggunung-di-pinjol-ekonom-minta-utang-dibatasi-30-penghasilan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/10\/07\/utang-masyarakat-makin-menggunung-di-pinjol-ekonom-minta-utang-dibatasi-30-penghasilan\/","title":{"rendered":"Utang Masyarakat Makin Menggunung di Pinjol, Ekonom Minta Utang Dibatasi 30% Penghasilan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n            <span class=\"float-start fw-bold me-1\">Wacana Berita, Jakarta &#8211; <\/span><\/p>\n<p>Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menilai pelonggaran batas jumlah platform pinjaman daring (Pindar) perlu diimbangi dengan pembatasan nominal utang berdasarkan kemampuan pendapatan peminjam. Menurutnya, rasio utang terhadap pendapatan sebesar 30 persen lebih penting untuk menjaga kualitas pembiayaan dibandingkan sekadar membatasi jumlah platform yang dapat diakses peminjam.<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p>\u201cSLIK ini justru akan lebih oke ketimbang pembatasan platform. Yang sebenarnya dibutuhkan untuk perbaikan kualitas bukan dari sisi jumlah platform, tapi dari sisi batasan nominal pinjaman diukur dari pendapatan. Itu sebenarnya yang diperlukan, agar kualitas dari pembiayaan bisa dijaga dengan baik,\u201d kata Nailul kepada Wacana Berita, Rabu (7\/10\/2026).<\/p>\n<p>Menurut Nailul, akses terhadap beberapa platform yang semakin longgar juga perlu diikuti pengawasan terhadap potensi praktik gali lubang tutup lubang. Peminjam berpotensi menggunakan pinjaman baru untuk memenuhi kewajiban pada platform lain apabila tidak terdapat batas kemampuan finansial yang memadai.<\/p>\n<p>\u201cSelain itu, harus ada penghindaran praktik gali lubang tutup lubang. Dengan dilonggarkannya jumlah platform, potensi praktik gali lubang tutup lubang bisa terjadi. Jika tidak dibatasi dengan estimasi pendapatan yang baik, TWP90 bisa jebol,\u201d kata Nailul.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read638819\/utang-pinjol-masyarakat-membengkak-capai-rp10694-triliun-kredit-macet-makin-mengkhawatirkan\">Utang Pinjol Masyarakat Membengkak Capai Rp106,94 Triliun, Kredit Macet Makin Mengkhawatirkan<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read637979\/guru-banyak-terjerat-pinjol-p2g-pemerintah-sebenarnya-tahu-ojk-juga-tahu\">Guru Banyak Terjerat Pinjol, P2G: Pemerintah Sebenarnya Tahu, OJK Juga Tahu<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ia menilai penguatan\u00a0<em>credit scoring<\/em>\u00a0perlu berjalan bersama pengukuran pendapatan yang valid. Dengan demikian, kemampuan peminjam dapat menjadi dasar dalam menentukan nominal pinjaman yang diberikan.<\/p>\n<p>\u201cIni yang harus diantisipasi dengan berbagai estimasi di\u00a0<em>credit scoring<\/em>,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p>Menurut Nailul, pendekatan tersebut diperlukan agar pertumbuhan akses terhadap layanan Pindar tidak diikuti akumulasi kewajiban yang melampaui kemampuan finansial peminjam.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read639279\/utang-masyarakat-makin-menggunung-di-pinjol-ekonom-minta-utang-dibatasi-30-penghasilan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wacana Berita, Jakarta &#8211; Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menilai pelonggaran batas jumlah platform pinjaman daring (Pindar) perlu diimbangi dengan pembatasan nominal utang berdasarkan kemampuan pendapatan peminjam. Menurutnya, rasio utang terhadap pendapatan sebesar 30 persen lebih penting untuk menjaga kualitas pembiayaan dibandingkan sekadar membatasi jumlah platform yang dapat diakses peminjam. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":123166,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,2],"tags":[],"class_list":["post-123165","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news","category-business"],"relative_dates":{"created":"2 hours ago","modified":"2 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/123165","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=123165"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/123165\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/123166"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=123165"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=123165"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=123165"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}