{"id":122598,"date":"2026-10-06T19:59:05","date_gmt":"2026-10-06T12:59:05","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/10\/06\/jababeka-dorong-model-baru-kawasan-industri-berbasis-human-capital-dan-entrepreneurship\/"},"modified":"2026-10-06T19:59:05","modified_gmt":"2026-10-06T12:59:05","slug":"jababeka-dorong-model-baru-kawasan-industri-berbasis-human-capital-dan-entrepreneurship","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/10\/06\/jababeka-dorong-model-baru-kawasan-industri-berbasis-human-capital-dan-entrepreneurship\/","title":{"rendered":"Jababeka Dorong Model Baru Kawasan Industri Berbasis Human Capital dan Entrepreneurship"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n            <span class=\"float-start fw-bold me-1\">Wacana Berita, Jakarta &#8211; <\/span><\/p>\n<p>Founder dan Chairman PT Jababeka Tbk Setyono Djuandi (SD) Darmono menilai pembangunan kawasan industri Indonesia perlu bergeser dari sekadar penyediaan lahan dan infrastruktur menuju pengembangan ekosistem yang mengintegrasikan industri, pendidikan, inovasi, dan kewirausahaan.<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p>Menurut Darmono, kawasan industri yang ingin bertahan dalam jangka panjang tidak cukup hanya menyediakan jalan, listrik, air, dan bangunan pabrik. Ketersediaan sumber daya manusia berkualitas dan kemampuan menciptakan bisnis baru justru menjadi faktor yang semakin menentukan daya saing kawasan.<\/p>\n<p>Pengalaman membangun Kota Jababeka menjadi salah satu dasar pandangan tersebut. Darmono mengatakan kawasan industri harus berkembang menjadi kota yang mampu mengintegrasikan tempat bekerja, belajar, tinggal, hingga aktivitas bisnis dalam satu ekosistem.<\/p>\n<p>\u201cItulah sebabnya sejak awal kami tidak melihat Kota Jababeka hanya sebagai tempat berdirinya pabrik. Kami ingin membangun sebuah kota tempat orang bisa bekerja, belajar, tinggal, membangun keluarga, berinovasi, dan akhirnya menciptakan perusahaan baru,\u201d kata Darmono.<\/p>\n<p>Darmono mencontohkan perkembangan kawasan industri Cikarang yang kemudian menciptakan kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan keterampilan lebih spesifik. Perusahaan yang masuk ke kawasan tersebut tidak hanya membutuhkan lahan dan infrastruktur, tetapi juga tenaga kerja dengan pengetahuan, kemampuan teknologi, bahasa, disiplin, dan pengalaman di lingkungan industri.<\/p>\n<p>Kebutuhan tersebut menjadi salah satu alasan pendirian yayasan pendidikan yang kemudian melahirkan President University pada 2001. Darmono juga merupakan\u00a0<em>founder<\/em>\u00a0President University.<\/p>\n<p>Menurut dia, keberadaan perguruan tinggi di tengah kawasan industri memungkinkan dunia usaha terlibat lebih dekat dalam proses pendidikan. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman melalui\u00a0<em>internship<\/em>\u00a0sekaligus memahami kebutuhan industri sebelum memasuki dunia kerja.<\/p>\n<p>\u201cDengan pengalaman tersebut, hubungan antara universitas dan dunia kerja menjadi lebih dekat. Universitas mengetahui apa yang dibutuhkan industri. Industri bisa mengenal talenta sebelum mereka lulus. Mahasiswa memperoleh pengalaman sebelum memasuki dunia kerja,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Darmono melihat hubungan tersebut membentuk siklus pertumbuhan yang saling memperkuat. Industri menciptakan lapangan kerja, pendidikan menghasilkan talenta, talenta mendorong inovasi, inovasi melahirkan bisnis baru, dan bisnis baru kembali menciptakan lapangan kerja.<\/p>\n<p>Tantangan berikutnya, menurut Darmono, adalah mengubah orientasi pendidikan dari sekadar menghasilkan pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja.<\/p>\n<p>Ia menilai Indonesia membutuhkan lebih banyak\u00a0<em>job creators<\/em>\u00a0agar penciptaan lapangan kerja tidak hanya bergantung pada pemerintah maupun perusahaan besar.<\/p>\n<p>\u201cDi President University, kami ingin agar mahasiswa tidak hanya bertanya: \u2018Setelah lulus saya bekerja di perusahaan apa?\u2019 Tetapi juga berani bertanya: \u2018Perusahaan apa yang dapat saya bangun?\u2019\u201d katanya.<\/p>\n<p>Darmono bahkan menilai Indonesia perlu berani menargetkan pertumbuhan jumlah\u00a0<em>entrepreneur<\/em>\u00a0hingga 10% dari masyarakat yang memiliki semangat dan kemampuan menciptakan usaha produktif.<\/p>\n<p>Menurut dia, perusahaan baru, usaha kecil dan menengah,\u00a0<em>startup<\/em>, industri kreatif, serta generasi baru pengusaha dapat menjadi sumber pertumbuhan lapangan kerja berikutnya.<\/p>\n<p>\u201cKarena itu, saya selalu melihat\u00a0<em>entrepreneurship<\/em>\u00a0bukan sekadar mata kuliah.\u00a0<em>Entrepreneurship<\/em>\u00a0adalah\u00a0<em>mindset<\/em>. Seorang\u00a0<em>entrepreneur<\/em>\u00a0melihat masalah sebagai peluang. Ia berani mengambil risiko yang terukur. Ia menciptakan produk, pekerjaan, dan akhirnya menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat,\u201d ujar Darmono.<\/p>\n<p>Darmono juga melihat koridor Bekasi-Cikarang-Karawang memiliki posisi strategis sebagai laboratorium industrialisasi Indonesia. Kawasan tersebut memiliki konsentrasi industri, tenaga kerja, perumahan, perguruan tinggi, logistik, infrastruktur, perdagangan, dan berbagai jasa pendukung.<\/p>\n<p>Model tersebut, menurut dia, dapat menjadi referensi untuk membangun pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah lain dengan menyesuaikan potensi masing-masing daerah.<\/p>\n<p>\u201cTidak semua harus menjadi seperti Jakarta. Tidak semua harus menjadi seperti Cikarang. Setiap wilayah harus berkembang berdasarkan keunggulannya sendiri, yakni manufaktur,\u00a0<em>agro-industry<\/em>,\u00a0<em>mineral processing<\/em>,\u00a0<em>tourism<\/em>,\u00a0<em>maritime industry<\/em>,\u00a0<em>digital economy<\/em>, atau kombinasi beberapa sektor,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Karena itu, Darmono merumuskan lima elemen yang perlu dibangun secara bersamaan, yakni\u00a0<em>Industry, Infrastructure, Education, Innovation,<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>Entrepreneurship<\/em>.<\/p>\n<p>Ia menilai pembangunan infrastruktur fisik tetap penting, tetapi kualitas manusia menjadi faktor yang lebih menentukan dalam ekonomi berbasis pengetahuan.<\/p>\n<p>\u201cJalan bisa dibangun dalam beberapa tahun. Pabrik dapat dibangun dalam beberapa bulan. Tetapi membangun manusia membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang. Karena itu, industrialisasi dan pendidikan harus direncanakan bersama sejak awal,\u201d ujar Darmono.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read638670\/jababeka-caplok-51-kawasan-industri-kendal-siapkan-ekspansi-besar-di-jateng\">Jababeka Caplok 51% Kawasan Industri Kendal, Siapkan Ekspansi Besar di Jateng<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read636270\/jababeka-gandeng-pertamina-siapkan-energi-hijau-untuk-2000-perusahaan\">Jababeka Gandeng Pertamina, Siapkan Energi Hijau untuk 2.000 Perusahaan<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read635088\/jababeka-gandeng-18-perusahaan-lulusan-smk-disiapkan-sesuai-kebutuhan-industri\">Jababeka Gandeng 18 Perusahaan, Lulusan SMK Disiapkan Sesuai Kebutuhan Industri<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Menurut dia, transformasi kawasan industri pada akhirnya bukan hanya mengenai jumlah pabrik yang berhasil dibangun, tetapi juga kemampuan kawasan tersebut melahirkan talenta, inovasi, dan perusahaan baru.<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p>\u201cKarena pada akhirnya, masa depan industrialisasi Indonesia tak hanya akan ditentukan oleh berapa banyak pabrik yang kita bangun. Masa depan kita akan ditentukan oleh berapa banyak manusia berkualitas yang kita lahirkan, berapa banyak inovasi yang kita ciptakan, dan berapa banyak\u00a0<em>entrepreneur<\/em> baru yang berani membangun perusahaan dan membuka lapangan pekerjaan,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read639152\/jababeka-dorong-model-baru-kawasan-industri-berbasis-human-capital-dan-entrepreneurship\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wacana Berita, Jakarta &#8211; Founder dan Chairman PT Jababeka Tbk Setyono Djuandi (SD) Darmono menilai pembangunan kawasan industri Indonesia perlu bergeser dari sekadar penyediaan lahan dan infrastruktur menuju pengembangan ekosistem yang mengintegrasikan industri, pendidikan, inovasi, dan kewirausahaan. Menurut Darmono, kawasan industri yang ingin bertahan dalam jangka panjang tidak cukup hanya menyediakan jalan, listrik, air, dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":122599,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,2],"tags":[],"class_list":["post-122598","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news","category-business"],"relative_dates":{"created":"5 hours ago","modified":"5 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122598","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=122598"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122598\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/122599"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=122598"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=122598"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=122598"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}