{"id":120723,"date":"2026-10-04T11:23:39","date_gmt":"2026-10-04T04:23:39","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/10\/04\/susah-bab-kebiasaan-mager-bisa-jadi-penyebabnya\/"},"modified":"2026-10-04T11:23:39","modified_gmt":"2026-10-04T04:23:39","slug":"susah-bab-kebiasaan-mager-bisa-jadi-penyebabnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/10\/04\/susah-bab-kebiasaan-mager-bisa-jadi-penyebabnya\/","title":{"rendered":"Susah BAB? Kebiasaan Mager Bisa Jadi Penyebabnya"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\">KORAN MANDALA<\/a><\/strong> \u2013Susah buang air besar (BAB) atau sembelit tidak selalu disebabkan kurangnya asupan serat. Kebiasaan jarang bergerak atau terlalu banyak duduk juga dapat memengaruhi kelancaran sistem pencernaan.<\/p>\n<p>Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, mengatakan aktivitas fisik berperan terhadap pergerakan usus dalam mencerna dan mendorong sisa makanan.<\/p>\n<p>Menurutnya, semakin rutin seseorang bergerak, gerakan peristaltik usus juga dapat bekerja lebih optimal sehingga membantu menjaga kesehatan pencernaan.<\/p>\n<p>\u201cSemakin rutin seseorang bergerak, itu akan membuat usus kita itu menjadi peristaltiknya juga mendekati maksimal alias normal. Sehingga usus kita juga sehat ngikutin pemiliknya,\u201d ujar dr. Tirta dalam unggahan di akun Instagram miliknya, dikutip Minggu (4\/10\/2026).<\/p>\n<p>Sebaliknya, kebiasaan mager atau minim aktivitas fisik dapat membuat gerakan peristaltik usus melambat. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami konstipasi.<\/p>\n<p>\u201cKalau orangnya mager, maka gerak peristaltiknya juga akan cenderung melambat, biasanya. Sehingga selain faktor kurang fiber dan kurang serat, khusus untuk orang-orang yang mager parah, itu kemungkinan besar dia untuk konstipasi juga meningkat,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Karena itu, orang yang tetap mengalami kesulitan BAB meski sudah rutin mengonsumsi sayur dan buah disarankan tidak hanya memperhatikan pola makan. Tingkat aktivitas fisik dan kondisi berat badan juga perlu menjadi perhatian.<\/p>\n<p>\u201cTapi bukan faktor utama ya. Makanya banyak orang bilang \u2018Sudah rutin minum sayur, makan sayur, jus buah, kok tetap susah ee\u2019?\u2019 coba dicek, obesitas enggak? Coba dicek, mager enggak? Rutin olahraga enggak?\u201d tambah dr. Tirta.<\/p>\n<p>Ia juga mengingatkan agar masalah susah BAB tidak dibiarkan terus-menerus. Menurutnya, konstipasi yang berlangsung berkepanjangan dapat berkaitan dengan sejumlah gangguan pada saluran pencernaan.<\/p>\n<p>\u201cKalian-kalian ini ingat, risiko kalau kita susah ee\u2019 itu besar banget. Hemoroid, infeksi, gangguan motilitas pada usus, sampai yang paling parah itu bisa menyebabkan sumbatan pada usus jadi ileus,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Untuk itu, menjaga kelancaran BAB tidak cukup hanya dengan mengandalkan konsumsi makanan berserat. Aktivitas fisik secara rutin juga menjadi salah satu kebiasaan yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan pencernaan.<\/p>\n<p>Dr. Tirta menekankan bahwa gangguan BAB dapat menimbulkan ketidaknyamanan yang besar bagi seseorang apabila dibiarkan.<\/p>\n<p>\u201cMau makan steak harga 9 juta sama steak 2 juta, tahi bentuknya tuh sama. Tapi ketika orang enggak bisa ee\u2019, itu akan menderita seumur hidup,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\/edukasi\/223621\/susah-bab-kebiasaan-mager-bisa-jadi-penyebabnya\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KORAN MANDALA \u2013Susah buang air besar (BAB) atau sembelit tidak selalu disebabkan kurangnya asupan serat. Kebiasaan jarang bergerak atau terlalu banyak duduk juga dapat memengaruhi kelancaran sistem pencernaan. Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, mengatakan aktivitas fisik berperan terhadap pergerakan usus dalam mencerna dan mendorong sisa makanan. Menurutnya, semakin rutin seseorang bergerak, gerakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":120724,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-120723","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news"],"relative_dates":{"created":"6 hours ago","modified":"6 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120723","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=120723"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120723\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/120724"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=120723"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=120723"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=120723"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}