{"id":120355,"date":"2026-10-03T22:32:08","date_gmt":"2026-10-03T15:32:08","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/10\/03\/byd-mulai-produksi-lokal-tkdn-60-persen-masih-pr\/"},"modified":"2026-10-03T22:32:08","modified_gmt":"2026-10-03T15:32:08","slug":"byd-mulai-produksi-lokal-tkdn-60-persen-masih-pr","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/10\/03\/byd-mulai-produksi-lokal-tkdn-60-persen-masih-pr\/","title":{"rendered":"BYD Mulai Produksi Lokal, TKDN 60 Persen Masih PR"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n            <span class=\"float-start fw-bold me-1\">Wacana Berita, Jakarta &#8211; <\/span><\/p>\n<p>BYD mulai memasuki babak baru di pasar otomotif Indonesia. Setelah sebelumnya mengandalkan kendaraan impor untuk membangun pasar, produsen asal China itu kini mulai memproduksi mobil listrik di dalam negeri melalui fasilitas manufaktur di Subang, Jawa Barat.<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p>Namun, produksi lokal bukan menjadi garis akhir bagi BYD. Tantangan berikutnya adalah memastikan keberadaan pabrik tersebut ikut memperdalam industri otomotif nasional, mulai dari penggunaan komponen dalam negeri hingga keterlibatan pemasok lokal.<\/p>\n<p>Hal tersebut menjadi semakin relevan setelah BYD meresmikan fasilitas manufakturnya di Subang Smartpolitan pada September 2026. Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun dan saat ini memproduksi BYD M6 EV, M6 DM, serta Atto 1.<\/p>\n<p>Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan mengatakan produksi lokal menjadi bagian dari upaya perusahaan memenuhi kebutuhan pasar sekaligus memanfaatkan kapasitas manufaktur di Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cKalau ada beberapa produk yang masih ongoing, akan sesegera mungkin diproduksi juga di lokal untuk memenuhi kapasitas yang ada,\u201d ujar Luther dalam keterangannya.<\/p>\n<p>Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ekspansi produksi BYD tidak berhenti pada model yang sudah lebih dulu dirakit di Indonesia. Penambahan model menjadi salah satu cara perusahaan meningkatkan pemanfaatan fasilitas produksi yang telah dibangun.<\/p>\n<p>Namun, semakin besar kapasitas produksi, semakin besar pula pertanyaan mengenai seberapa banyak nilai tambah yang benar-benar tercipta di dalam negeri.<\/p>\n<h3>Produksi Lokal Belum Berarti Seluruhnya Lokal<\/h3>\n<p>BYD sebelumnya menyebut kendaraan yang diproduksi di Indonesia telah memenuhi ketentuan TKDN di atas 40 persen.<\/p>\n<p>Angka tersebut penting karena menjadi batas minimum TKDN kendaraan listrik roda empat pada periode 2022-2026. Setelah itu, persyaratan meningkat menjadi 60 persen pada 2027-2029 dan 80 persen mulai 2030.<\/p>\n<p>Dengan demikian, capaian lebih dari 40 persen bukan merupakan titik akhir lokalisasi. Justru, mulai 2027, produsen kendaraan listrik harus meningkatkan kandungan dalam negeri secara signifikan.<\/p>\n<p>Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao sebelumnya menyatakan perusahaan tengah menyiapkan langkah untuk memenuhi target tersebut, termasuk memperluas aktivitas manufaktur baterai di Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cTanpa proses yang menyeluruh dari produksi, kita tidak bisa bilang bahwa suatu produk sepenuhnya buatan Indonesia. Kami juga merencanakan untuk melakukan beberapa pekerjaan perakitan (assembly) yang berkaitan dengan manufaktur baterai,\u201d kata Eagle saat peresmian pabrik BYD di Subang.<\/p>\n<p>Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kedalaman industri menjadi pekerjaan berikutnya bagi BYD.<\/p>\n<p>Sebab, produksi kendaraan di dalam negeri tidak otomatis membuat seluruh rantai pasok kendaraan ikut berada di Indonesia. Semakin banyak komponen strategis yang dapat diproduksi di dalam negeri, semakin besar pula nilai tambah yang bisa dinikmati industri nasional.<\/p>\n<h3>200 Pemasok Jadi Modal Awal<\/h3>\n<p>BYD menyebut ekosistem manufakturnya di Indonesia telah melibatkan lebih dari 200 mitra rantai pasok. Selain itu, operasional pabrik disebut telah menyerap lebih dari 5.000 tenaga kerja lokal, yang ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 20.000 orang ketika fasilitas mencapai kapasitas penuh.<\/p>\n<p>Jumlah tersebut menunjukkan adanya dampak industri yang lebih luas dibandingkan sekadar aktivitas penjualan kendaraan.<\/p>\n<p>Namun, jumlah pemasok dan tenaga kerja bukan satu-satunya ukuran kedalaman industri.<\/p>\n<p>Komposisi pemasok, jenis komponen yang diproduksi, serta besarnya nilai transaksi di dalam negeri menjadi bagian yang menentukan apakah investasi manufaktur benar-benar menciptakan rantai industri yang lebih panjang.<\/p>\n<p>Hal ini menjadi penting terutama karena kendaraan listrik memiliki struktur komponen yang berbeda dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal. Baterai, motor listrik, sistem elektronika daya, dan komponen elektronik merupakan bagian penting dalam kendaraan listrik.<\/p>\n<p>Karena itu, pengembangan industri kendaraan listrik tidak cukup hanya dengan memperbesar kapasitas perakitan kendaraan.<\/p>\n<p>Anggota Komisi XII DPR RI Irsan Sosiawan Gading sebelumnya menekankan pentingnya transfer teknologi seiring peningkatan TKDN BYD.<\/p>\n<p>\u201cTransfer teknologi harus tetap kita utamakan, terutama pekerja-pekerja lokal. Kita harus mendorong agar transfer knowledge ini berjalan dan tidak terjadi ketergantungan kepada pihak luar,\u201d ujar Irsan saat meninjau pabrik BYD di Subang.<\/p>\n<p>Artinya, manfaat investasi manufaktur tidak hanya diukur dari jumlah mobil yang diproduksi atau tenaga kerja yang terserap, tetapi juga dari kemampuan industri dalam negeri menguasai teknologi dan meningkatkan kapasitas pemasok.<\/p>\n<h3>Kapasitas 150.000 Unit Jadi Tantangan Berikutnya<\/h3>\n<p>Di sisi lain, pembangunan pabrik dengan kapasitas hingga 150.000 unit per tahun membuat BYD memiliki pekerjaan lain: menjaga agar fasilitas tersebut terus mendapatkan volume produksi yang memadai.<\/p>\n<p>Data Gaikindo menunjukkan produksi BYD di Indonesia mencapai 24.877 unit sepanjang April-Agustus 2026. Produksi meningkat dari 198 unit pada April menjadi 9.736 unit pada Agustus.<\/p>\n<p>Pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur BYD mulai meningkat secara bertahap sejak produksi lokal berjalan.<\/p>\n<p>Tetapi, kapasitas pabrik dan realisasi produksi tentu berada pada skala yang berbeda. Karena itu, ekspansi model menjadi salah satu strategi untuk mengisi kapasitas yang tersedia.<\/p>\n<p>Luther sebelumnya juga mengatakan model dengan volume penjualan tinggi akan diprioritaskan untuk diproduksi di dalam negeri.<\/p>\n<p>\u201cYang dipastikan saat ini M6 DM dan EV kita produksi di lokal. Atto 1 juga kita produksi saat ini di lokal,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Strategi tersebut membuat perkembangan pasar domestik menjadi semakin penting bagi BYD. Semakin besar permintaan, semakin besar peluang perusahaan meningkatkan produksi lokal sekaligus memperluas basis pemasok.<\/p>\n<p>BYD mencatat penjualan 40.700 unit sepanjang Januari-Agustus 2026 dan mengklaim menguasai sekitar 37 persen pasar kendaraan listrik nasional. Angka tersebut menjadi modal bagi perusahaan untuk meningkatkan produksi domestiknya.<\/p>\n<p>Namun, ekspansi produksi juga harus berjalan beriringan dengan pendalaman industri. Jika produksi meningkat sementara komponen bernilai tambah tinggi masih banyak berasal dari luar negeri, manfaat investasi terhadap rantai pasok domestik tentu berbeda dibandingkan ketika semakin banyak komponen strategis dibuat di Indonesia.<\/p>\n<h3>Bukan Lagi Sekadar Memindahkan Produksi<\/h3>\n<p>Masuknya BYD ke manufaktur Indonesia pada akhirnya mengubah pertanyaan mengenai perusahaan tersebut.<\/p>\n<p>Pada tahap awal, perhatian publik tertuju pada seberapa cepat BYD dapat menjual mobil listrik di Indonesia. Setelah pabrik beroperasi, ukurannya menjadi lebih luas: seberapa besar investasi tersebut mampu menciptakan industri baru di dalam negeri.<\/p>\n<p>BYD sendiri menargetkan TKDN 60 persen mulai 2027. Perusahaan juga menyiapkan aktivitas perakitan baterai di Indonesia sebagai bagian dari upaya meningkatkan kandungan lokal.<\/p>\n<p>Dengan target tersebut, fase berikutnya akan menjadi ujian terhadap kedalaman manufaktur BYD.<\/p>\n<p>Produksi lokal menjadi langkah awal. Pekerjaan yang lebih besar adalah memastikan semakin banyak komponen, teknologi, pemasok, dan nilai tambah yang ikut tumbuh di Indonesia.<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p>Dengan begitu, keberadaan pabrik BYD tidak hanya mengubah lokasi produksi mobil dari luar negeri ke Subang, tetapi juga memperluas rantai industri kendaraan listrik di dalam negeri.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read638590\/byd-mulai-produksi-lokal-tkdn-60-persen-masih-pr\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wacana Berita, Jakarta &#8211; BYD mulai memasuki babak baru di pasar otomotif Indonesia. Setelah sebelumnya mengandalkan kendaraan impor untuk membangun pasar, produsen asal China itu kini mulai memproduksi mobil listrik di dalam negeri melalui fasilitas manufaktur di Subang, Jawa Barat. Namun, produksi lokal bukan menjadi garis akhir bagi BYD. Tantangan berikutnya adalah memastikan keberadaan pabrik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":97013,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,2],"tags":[],"class_list":["post-120355","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news","category-business"],"relative_dates":{"created":"5 hours ago","modified":"5 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120355","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=120355"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120355\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/97013"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=120355"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=120355"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=120355"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}