{"id":119449,"date":"2026-10-02T18:04:09","date_gmt":"2026-10-02T11:04:09","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/10\/02\/fe-buka-perjalanan-musik-lewat-single-selamat-datang\/"},"modified":"2026-10-02T18:04:09","modified_gmt":"2026-10-02T11:04:09","slug":"fe-buka-perjalanan-musik-lewat-single-selamat-datang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/10\/02\/fe-buka-perjalanan-musik-lewat-single-selamat-datang\/","title":{"rendered":"Fe Buka Perjalanan Musik Lewat Single \u201cSelamat Datang\u201d"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>Fenny Noviarma, atau Fe, membuka perjalanan bermusiknya dengan single debut berjudul \u201cSelamat Datang\u201d. Lagu pop berbahasa Indonesia itu mengangkat pengalaman menghadapi fase hidup yang belum selesai\u2014mulai dari patah hati, kehilangan arah, hingga proses menerima keadaan tanpa harus memaksakan semua persoalan segera menemukan jawaban.<\/p>\n<p>Fe memperkenalkan karya tersebut sebagai ruang refleksi bagi pendengar. Lagu ini tidak diarahkan untuk memiliki satu tafsir tunggal. Menurut Fe, \u201cSelamat Datang\u201d dapat dibaca sebagai kisah seseorang yang sedang mengalami quarter-life crisis, menjalani rumah tangga, menjadi ibu baru, atau menemukan hubungan yang terasa seperti tempat pulang ketika hidup sedang kacau.<\/p>\n<h2>Berangkat dari catatan pribadi<\/h2>\n<p>Gagasan lagu itu bermula dari catatan diary milik Fe. Catatan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi lirik oleh Johannes Febrianto Elyas. Isinya menggambarkan fase ketika seseorang dipaksa tumbuh dalam kondisi yang tidak selalu ideal, menghadapi luka, kehilangan, ketidakpastian, dan perjuangan yang kerap tidak terlihat oleh orang lain.<\/p>\n<p>Salah satu bagian penting dalam lagu itu berbunyi, \u201cSelamat datang di sisa masa yang belum reda.\u201d Bagi Fe, ketidakselesaian bukan sesuatu yang harus selalu disembunyikan atau segera dituntaskan.<\/p>\n<p>\u201cLagu ini, saya ingin menunjukkan bahwa kehidupan tidak harus sepenuhnya selesai untuk bisa diterima. Justru dalam ketidakselesaian, seseorang dapat belajar melepaskan beban dan berdamai dengan dirinya sendiri,\u201d ujar Fe, Jumat (2\/10\/2026).<\/p>\n<p>Pesan tersebut juga tercermin dalam lirik yang sederhana dan reflektif: \u201cDunia tak pernah berjalan seperti yang ku kiraTumbuh meraba semua yang tak pernah ku lihatAtau mungkin tak sempat melambat\u201d. Setelah bagian yang menggambarkan kegamangan itu, lagu bergerak menuju suasana yang lebih lapang melalui penggalan \u201cSelamat datang di sisa masa yang belum reda\u201d.<\/p>\n<p>Aransemen musik ikut berkembang hingga interlude yang megah dan terasa glorious. Perubahan tersebut menggambarkan momen ketika seseorang mulai menerima keadaan dan menemukan kelegaan. Fe mempertemukan nuansa gelap dengan harapan, seperti langit yang dijahit oleh petir\u2014cahaya yang tidak selalu muncul dari kelembutan, tetapi kadang lahir setelah benturan dan kegelapan.<\/p>\n<h2>Dari desain visual menuju musik<\/h2>\n<p>Langkah Fe ke industri musik dibangun dari pengalaman yang telah ia jalani sebelumnya. Perempuan yang kini menjadi ibu dari seorang anak berusia satu tahun itu merupakan lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Ciputra angkatan 2019. Sejak masa kuliah, ia bekerja sebagai graphic designer dan stage photographer.<\/p>\n<p>Pengalaman tersebut menjadi fondasi bagi Fe dalam membentuk identitas visual dan pendekatan artistiknya. Dalam musik, ia masih berada pada tahap eksplorasi dengan inspirasi dari Yungblud, Sir Chloe, dan Nadin Amizah. Selera musiknya mencakup punk rock, ballad, classical, hingga lagu-lagu era 1990-an.<\/p>\n<p>\u201cIni pembuka dalam eksplorasi musik saya,\u201d kata Fe.<\/p>\n<p>Ia juga menyebut dukungan suami sebagai bagian penting dalam keputusan untuk mulai menciptakan karya musik. \u201cBersyukurnya, keputusan saya untuk mulai menciptakan karya musik juga mendapat dukungan penuh dari suami, yang menjadi salah satu sumber inspirasi terbesar dalam perjalanan bermusik saya,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Dengan karakter vokal yang ringan, musik bernuansa hangat, dan aransemen yang terus berkembang, Fe ingin menghadirkan pengalaman mendengar yang intim sekaligus terbuka untuk berbagai pemaknaan. Setelah \u201cSelamat Datang\u201d, ia menargetkan produksi satu lagu baru dalam jangka pendek dan berharap dapat merealisasikan EP sebagai langkah berikutnya.<\/p>\n<p><a target=\"_blank\" href=\"https:\/\/times.co.id\/fe-buka-perjalanan-musik-lewat-selamat-datang\">Source link<\/a><\/p>\n<p>\t\t\t<!-- .entry-footer -->\n\t\t\t\t\t<\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/portalberita.info\/2026\/10\/02\/fe-buka-perjalanan-musik-lewat-single-selamat-datang\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fenny Noviarma, atau Fe, membuka perjalanan bermusiknya dengan single debut berjudul \u201cSelamat Datang\u201d. Lagu pop berbahasa Indonesia itu mengangkat pengalaman menghadapi fase hidup yang belum selesai\u2014mulai dari patah hati, kehilangan arah, hingga proses menerima keadaan tanpa harus memaksakan semua persoalan segera menemukan jawaban. Fe memperkenalkan karya tersebut sebagai ruang refleksi bagi pendengar. Lagu ini tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31685,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-119449","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news"],"relative_dates":{"created":"6 hours ago","modified":"6 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/119449","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=119449"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/119449\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/31685"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=119449"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=119449"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=119449"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}