{"id":116689,"date":"2026-09-29T14:37:25","date_gmt":"2026-09-29T07:37:25","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/09\/29\/bukan-sekadar-estetik-trotoar-gasibu-diminta-lebih-ramah-difabel\/"},"modified":"2026-09-29T14:37:25","modified_gmt":"2026-09-29T07:37:25","slug":"bukan-sekadar-estetik-trotoar-gasibu-diminta-lebih-ramah-difabel","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/09\/29\/bukan-sekadar-estetik-trotoar-gasibu-diminta-lebih-ramah-difabel\/","title":{"rendered":"Bukan Sekadar Estetik, Trotoar Gasibu Diminta Lebih Ramah Difabel"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\">KORAN MANDALA<\/a><\/strong> \u2013 Trotoar di kawasan Gasibu, Kota Bandung, dinilai belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas. Meski secara visual terlihat baik, sejumlah bagian trotoar disebut masih menyulitkan pengguna disabilitas saat melintas.<br \/>\u200e<br \/>\u200eKoordinator Wilayah Kopeka Bandung, Muhammad Fadhil, mengatakan persoalan tersebut terlihat ketika pihaknya bersama komunitas disabilitas melakukan kegiatan tamasya trotoar untuk melihat langsung aksesibilitas trotoar di kawasan Gasibu.<br \/>\u200e<br \/>\u200eMenurut Fadhil, persoalan utama tidak hanya terletak pada tampilan trotoar, tetapi juga pada fungsi dan kemudahan akses bagi penyandang disabilitas.<br \/>\u200e<br \/>\u200e\u201cTrotoar Gasibu mungkin dalam visual mata terlihat bagus, dari segi estetika. Tapi dari segi fungsinya kurang bagi penyandang disabilitas\u201d kata Fadhil saat dihubungi Koran Mandala Selasa (29\/9\/2026)<br \/>\u200e<br \/>\u200eIa menyoroti sejumlah aspek teknis, salah satunya keberadaan ramp yang menurutnya harus terhubung dengan permukaan aspal serta memiliki kemiringan yang sesuai agar dapat dilalui pengguna kursi roda maupun penyandang disabilitas lainnya.<br \/>\u200e<br \/>\u200eFadhil juga menyebut kemiringan pada jalur trotoar perlu memperhatikan aspek keselamatan. Pada bagian yang memiliki kemiringan memanjang, menurutnya, perlu disediakan pegangan untuk membantu penyandang disabilitas ketika melintas.<br \/>\u200e<br \/>\u200e\u201cRamp itu harus menyatu dengan aspal. Dan kemiringan maksimal dari ramp itu 8 persen atau 4 derajat lebih. Di setiap adanya kemiringan memanjang, itu harus disediakan pegangan untuk rekan-rekan disabilitas\u201d ujarnya.<br \/>\u200e<br \/>\u200eSelain persoalan aksesibilitas, Fadhil mempertanyakan proses pembangunan dan revitalisasi kawasan Gasibu. Ia menilai hal tersebut perlu mendapat perhatian karena kawasan tersebut telah mengalami revitalisasi lebih dari satu kali.<br \/>\u200e<br \/>\u200eMenurutnya, setiap pembangunan yang menggunakan anggaran publik semestinya memperhatikan aspek aksesibilitas sejak tahap perencanaan, bukan hanya mengutamakan tampilan fisik setelah proyek selesai.<br \/>\u200e<br \/>\u200e\u201cGasibu ini sudah direvitalisasi hingga dua kali. Dan setiap revitalisasi pasti membutuhkan anggaran publik,\u201d katanya.<br \/>\u200e<br \/>\u200eFadhil juga menyoroti keterbukaan informasi terkait proyek pembangunan di kawasan tersebut. Ia mengaku mempertanyakan dokumen perencanaan dan informasi publik mengenai proyek revitalisasi Gasibu.<br \/>\u200e<br \/>\u200e\u201cUntuk dokumen-dokumen perencanaan, keterbukaan informasi publik tentang proyek pembangunan ini, tidak ada sama sekali. Makanya kami menyoroti hal ini, apa sebenarnya yang terjadi di Gasibu ini\u201dtutur Fadhil.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\/daerah\/223359\/bukan-sekadar-estetik-trotoar-gasibu-diminta-lebih-ramah-difabel\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KORAN MANDALA \u2013 Trotoar di kawasan Gasibu, Kota Bandung, dinilai belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas. Meski secara visual terlihat baik, sejumlah bagian trotoar disebut masih menyulitkan pengguna disabilitas saat melintas.\u200e\u200eKoordinator Wilayah Kopeka Bandung, Muhammad Fadhil, mengatakan persoalan tersebut terlihat ketika pihaknya bersama komunitas disabilitas melakukan kegiatan tamasya trotoar untuk melihat langsung aksesibilitas trotoar di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":116690,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-116689","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news"],"relative_dates":{"created":"5 hours ago","modified":"5 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116689","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=116689"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116689\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/116690"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=116689"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=116689"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=116689"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}