{"id":114368,"date":"2026-09-26T11:28:44","date_gmt":"2026-09-26T04:28:44","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/09\/26\/mengenang-kiprah-guruh-soekarnoputra-di-dunia-musik-tanah-air\/"},"modified":"2026-09-26T11:28:48","modified_gmt":"2026-09-26T04:28:48","slug":"mengenang-kiprah-guruh-soekarnoputra-di-dunia-musik-tanah-air","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/09\/26\/mengenang-kiprah-guruh-soekarnoputra-di-dunia-musik-tanah-air\/","title":{"rendered":"Mengenang kiprah Guruh Soekarnoputra di dunia musik tanah air"},"content":{"rendered":"<div>\n<p>Jakarta (ANTARA) &#8211; Kabar duka datang dari dunia seni Indonesia. Seniman sekaligus budayawan Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu (26\/9) pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, dalam usia 73 tahun.<\/p>\n<p>Kabar tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto melalui keterangan tertulis pada Sabtu pagi. Guruh yang memiliki nama lengkap Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra merupakan putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati.<\/p>\n<p>Kepergian Guruh bukan hanya meninggalkan keluarga dan orang-orang terdekat, tetapi juga jejak panjang di dunia seni Indonesia. Selama puluhan tahun, ia dikenal sebagai pencipta lagu, komposer, koreografer, penata musik, hingga penggagas berbagai pertunjukan seni berskala besar.<\/p>\n<p>Namanya bahkan tidak bisa dilepaskan dari upaya mempertemukan musik modern dengan kekayaan tradisi Indonesia.<\/p>\n<p>Kecintaan Guruh terhadap seni sebenarnya sudah terlihat sejak masih kecil. Berdasarkan arsip Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Guruh telah mempelajari berbagai tarian tradisional Jawa, Sunda, Bali, Minang, dan sejumlah daerah lain sejak usia dini.<\/p>\n<p>Saat masih duduk di sekolah dasar, ia juga beberapa kali tampil di TVRI bersama kelompok musik yang dibentuknya. Ketika remaja, Guruh mulai menciptakan lagu dan pada 1965 membentuk kelompok musik The Beat-G.<\/p>\n<p>Perjalanannya kemudian berkembang. Pada 1970, ia membentuk The Flower Poetman. Di waktu yang sama, Guruh juga aktif mempelajari seni tradisional, bergabung dengan kelompok gamelan Bali, mengikuti latihan teater, serta mengorganisasi kelompok angklung dan gamelan Jawa di lingkungan Perguruan Cikini.<\/p>\n<p>Ketika sempat menempuh pendidikan di Universiteit van Amsterdam di Belanda pada awal 1970-an, ketertarikannya terhadap kesenian Nusantara tetap berjalan. Guruh bergabung dengan kelompok gamelan Jawa dan Bali di Tropen Museum Amsterdam, bahkan mengajar gamelan Bali dan tari Bali.<\/p>\n<p>Pengalaman tersebut kemudian ikut membentuk cara pandangnya dalam berkarya, bahwa musik modern tidak harus meninggalkan kekayaan tradisi lokal.<\/p>\n<p><strong>Guruh Gipsy dan eksperimen musik yang berani<\/strong><\/p>\n<p>Salah satu tonggak penting dalam perjalanan musik Guruh adalah lahirnya Guruh Gipsy.<\/p>\n<p>Sekembalinya dari Belanda pada 1975, Guruh mulai bereksperimen memadukan gamelan Bali dengan musik Barat. Eksperimen tersebut kemudian melahirkan album <em>Guruh Gipsy<\/em>, sebuah proyek musik yang digarap bersama kelompok Gipsy.<\/p>\n<p>Formasi utamanya diisi oleh Keenan Nasution pada drum dan vokal, Chrisye pada bass dan vokal, Roni Harahap pada piano dan keyboard, Oding Nasution pada gitar, serta Abadi Soesman pada <em>synthesizer<\/em>. Guruh sendiri memainkan piano dan gamelan sekaligus menggarap lirik.<\/p>\n<p>Album yang kemudian dikenal dengan tajuk <em>Guruh Gipsy<\/em> itu dirilis pada 1976 dan kerap dianggap sebagai salah satu tonggak penting musik Indonesia. Proses produksinya berlangsung cukup panjang sejak 1975 hingga 1976, dengan materi seperti &#8220;Geger Gelgel&#8221;, &#8220;Barong Gundah&#8221;, &#8220;Smaradhana&#8221;, &#8220;Indonesia Maharddhika&#8221;, &#8220;Janger 1897 Saka&#8221;, dan &#8220;Chopin Larung&#8221;.<\/p>\n<p>Menariknya, karya tersebut tidak sekadar mencampurkan bunyi gamelan dengan rock. Guruh juga membawa gagasan tentang identitas, kebudayaan, dan keresahan terhadap perubahan zaman ke dalam musiknya.<\/p>\n<p>&#8220;Indonesia Maharddhika&#8221;, misalnya, menjadi salah satu karya yang paling dikenal dari proyek tersebut. Sementara &#8220;Smaradhana&#8221; kemudian semakin populer lewat suara Chrisye.<\/p>\n<p>Eksperimen Guruh Gipsy juga menunjukkan bahwa unsur tradisional bisa ditempatkan dalam komposisi musik modern tanpa harus kehilangan karakter aslinya.<\/p>\n<p>Jejak tersebut kembali terlihat ketika Guruh Gipsy tampil di Synchronize Fest 2025. Guruh bersama Keenan Nasution dan Abadi Soesman kembali membawakan karya-karya dari proyek tersebut, termasuk &#8220;Smaradhana&#8221;, &#8220;Janger 1897 Saka&#8221;, &#8220;Barong Gundah&#8221;, dan &#8220;Indonesia Maharddhika&#8221;, dengan dukungan musisi serta seniman lintas generasi.<\/p>\n<p>Momen itu sekaligus menjadi penghormatan bagi para personel Guruh Gipsy yang telah lebih dulu berpulang, seperti Chrisye, Roni Harahap dan Oding Nasution.<\/p>\n<p><strong>&#8220;Renjana&#8221; hingga &#8220;Kembalikan Baliku&#8221;<\/strong><\/p>\n<p>Kiprah Guruh di musik tidak berhenti pada Guruh Gipsy.<\/p>\n<p>Pada 1976, lagu ciptaannya berjudul &#8220;Renjana&#8221; memenangkan Festival Lagu Populer Tingkat Nasional dan kemudian membawa nama Indonesia ke World Popular Song Festival di Tokyo, Jepang.<\/p>\n<p>Setelah itu, berbagai lagu ciptaannya bermunculan dan menjadi bagian dari khazanah musik populer Indonesia, seperti &#8220;Galih dan Ratna&#8221;, &#8220;Gita Cinta&#8221;, &#8220;Anak Jalanan&#8221;, &#8220;Lenggang Puspita&#8221;, &#8220;Sendiri&#8221;, dan &#8220;Marlina&#8221;.<\/p>\n<p>Salah satu karya lainnya yang cukup penting adalah &#8220;Kembalikan Baliku&#8221; yang dibawakan Jopie Latul. Lagu tersebut kembali membawanya ke ajang Festival Lagu Populer Indonesia dan World Popular Song Festival di Tokyo.<\/p>\n<p>Dalam karya itu, Guruh memadukan unsur musik tradisional Bali dengan warna disco dan rock. Pola tersebut memperlihatkan ciri khasnya yang terus muncul dalam berbagai karya: modern, tetapi tetap membawa identitas Indonesia.<\/p>\n<p><strong>Swara Maharddhika dan lahirnya panggung kolosal<\/strong><\/p>\n<p>Pada 1977, Guruh mendirikan Swara Maharddhika, sebuah organisasi yang menjadi wadah kreativitas anak muda dalam bidang seni.<\/p>\n<p>Di tempat inilah berbagai gagasannya mengenai musik, tari dan pertunjukan kemudian berkembang menjadi produksi panggung yang lebih besar. Guruh menggabungkan tari tradisional Indonesia dengan tari modern Barat dan mengemasnya dalam pertunjukan yang lebih populer sehingga dapat diterima masyarakat luas.<\/p>\n<p>Guruh kemudian melahirkan rangkaian Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra.<\/p>\n<p>Dimulai dari Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra I pada 1979, perjalanan tersebut berlanjut melalui &#8220;Untukmu Indonesiaku&#8221; pada 1980, &#8220;Cinta Indonesia&#8221; pada 1984, hingga &#8220;Gilang Indonesia Gemilang&#8221; pada 1986.<\/p>\n<p>Pertunjukan-pertunjukan itu tidak hanya mengandalkan musik. Di dalamnya terdapat tari, koreografi, busana, tata panggung dan unsur teatrikal yang dirancang sebagai satu kesatuan.<\/p>\n<p>Guruh sendiri tidak sekadar menjadi pencipta lagu. Dalam sejumlah pertunjukan, ia berperan sebagai komposer, koreografer sekaligus sutradara.<\/p>\n<p>Karya-karya besar tersebut kemudian berkembang ke sejumlah pertunjukan lain, termasuk penampilan pada pembukaan PON ke-10 di Jakarta pada 1981, pembukaan Pekan Raya Jakarta pada 1982, Gempita Swara Maharddhika pada 1987, serta pertunjukan kolosal &#8220;JakJakJakJak Jakarta&#8221; pada 1989.<\/p>\n<p>Konsepnya relatif konsisten: membawa seni tradisional Indonesia ke panggung besar dengan bahasa pertunjukan yang lebih modern.<\/p>\n<p><strong>Dari Swara Maharddhika ke GSP Production<\/strong><\/p>\n<p>Swara Maharddhika kemudian berkembang menjadi Yayasan Swara Maharddhika pada 1988. Guruh juga mendirikan PT Gencar Semarak Perkasa atau GSP Productions untuk mengembangkan kegiatan seni pertunjukan secara lebih profesional. <\/p>\n<p>Pertunjukan yang dihasilkan tidak hanya digelar di Indonesia, tetapi juga pernah dibawa ke sejumlah negara, termasuk Singapura, Maroko, Tunisia, Yordania, Jerman, Belgia, Denmark, Swedia, Swiss dan Australia.<\/p>\n<p>Dari lingkungan Swara Maharddhika pula muncul sejumlah nama yang kemudian dikenal luas di industri hiburan Indonesia. ANTARA mencatat beberapa di antaranya seperti Titi DJ, Deni Malik, Dewi Gita, Memes, Irianti Erningpraja, Euis Dahlia dan Rico Tampatty.<\/p>\n<p>Artinya, kontribusi Guruh bukan hanya melalui lagu yang ia ciptakan, tetapi juga melalui ruang yang ia bangun bagi generasi seniman dan pekerja seni berikutnya.<\/p>\n<p><strong>Guruh Soekarnoputra tidak berhenti hanya di musik<\/strong><\/p>\n<p>Kiprah Guruh juga merambah dunia film.<\/p>\n<p>Ia terlibat sebagai ilustrator musik untuk sejumlah film, termasuk &#8220;Ali Topan Anak Jalanan&#8221;, &#8220;Gita Cinta dari SMA&#8221; dan &#8220;Puspa Indah Taman Hati&#8221;. Pada 1977, ia juga tercatat mendapat penghargaan ilustrasi musik dalam Festival Film Indonesia.<\/p>\n<p>Di depan kamera, Guruh pernah memerankan Sunan Muria dalam film &#8220;Wali Songo&#8221; pada 1985.<\/p>\n<p>Sementara di dunia tari, ia dikenal sebagai koreografer yang konsisten mengembangkan pertemuan antara gerak tradisional dan modern.<\/p>\n<p>Ketertarikannya pada tari bahkan sudah berkembang jauh sebelum ia dikenal sebagai komposer. Sejak muda, Guruh belajar langsung kepada sejumlah maestro tari dan gamelan Bali, termasuk I Wayan Diya, I Wayan Rindi, Anak Agung Ayu Oka, Ni Ketut Reneng, I Nyoman Kakul, I Gusti Kompyang Raka dan sejumlah seniman lainnya. Ia juga belajar musik dari komponis Mochtar Embut dan Ismail Marzuki.<\/p>\n<p>Karena itu, menyebut Guruh hanya sebagai pencipta lagu sebenarnya tidak cukup untuk menggambarkan perjalanan seninya.<\/p>\n<p>Ia bergerak di antara musik, tari, koreografi, teater, film, tata busana dan pertunjukan kolosal.<\/p>\n<p><strong>Karya yang terus dinyanyikan lintas generasi<\/strong><\/p>\n<p>Menariknya, karya Guruh tetap menemukan jalan untuk dikenalkan kepada pendengar dari generasi yang berbeda.<\/p>\n<p>Pada 2014, misalnya, konser &#8220;Salute to Guruh Soekarno Putra&#8221; menampilkan kembali 25 lagu ciptaannya melalui interpretasi musisi lintas generasi. Lagu-lagu seperti &#8220;Zamrud Khatulistiwa&#8221;, &#8220;Kembalikan Baliku&#8221;, &#8220;Galih dan Ratna&#8221; dan &#8220;Gita Cinta dari SMA&#8221; menjadi bagian dari konser tersebut.<\/p>\n<p>Kemudian pada 2020, Musica Studios merangkum 10 karya Guruh dalam album <em>Puspa Ragam Karya Guruh Sukarno Putra 2020<\/em>. Lagu-lagu tersebut dinyanyikan ulang oleh sejumlah musisi lintas generasi, di antaranya Noah, Iwan Fals, D&#8217;MASIV, Kahitna, Afgan, Geisha, Sheryl Sheinafia dan Vidi Aldiano.<\/p>\n<p>Daftar lagunya mencakup &#8220;Kala Cinta Menggoda&#8221;, &#8220;Aji Mumpung&#8221;, &#8220;Sendiri&#8221;, &#8220;Kala Sang Surya Tenggelam&#8221; dan &#8220;Zamrud Khatulistiwa&#8221;.<\/p>\n<p>Karya-karya itu memperlihatkan bahwa lagu Guruh tidak berhenti pada satu periode musik tertentu. Lagu-lagu tersebut terus mendapatkan interpretasi baru ketika dinyanyikan oleh musisi dari generasi berbeda.<\/p>\n<p><strong>Warisan Guruh untuk musik Indonesia<\/strong><\/p>\n<p>Menjelang akhir hayatnya pun Guruh masih berbicara tentang seni dan kebudayaan. Pada Januari 2026, ia hadir dalam temu media musikal &#8220;Bukan Cinta Galih\/Ratna&#8221; dan menekankan pentingnya seni sebagai medium untuk menyampaikan nilai serta membentuk karakter generasi muda.<\/p>\n<p>Jika melihat perjalanan panjangnya, ada satu benang merah yang cukup jelas dari karya-karya Guruh: keinginan untuk membawa identitas Indonesia ke dalam bentuk seni yang bisa diterima zamannya.<\/p>\n<p>Ia tidak menempatkan tradisi dan modernitas sebagai dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dipertemukan dalam musik, tari, busana dan pertunjukan.<\/p>\n<p>Dari eksperimen Guruh Gipsy pada era 1970-an, panggung Swara Maharddhika, lagu-lagu populer seperti &#8220;Galih dan Ratna&#8221; serta &#8220;Zamrud Khatulistiwa&#8221;, hingga kemunculan kembali Guruh Gipsy di panggung Synchronize Fest 2025, jejak tersebut masih bisa ditemukan.<\/p>\n<p>Guruh Soekarnoputra kini telah berpulang. Namun, musik dan karya seni yang ia tinggalkan masih memiliki ruang untuk terus didengar, dipentaskan dan ditafsirkan oleh generasi berikutnya.<\/p>\n<p>Bagi dunia musik Indonesia, warisan Guruh bukan semata-mata daftar lagu atau pertunjukan. Lebih dari itu, ia meninggalkan gagasan bahwa musik populer pun bisa menjadi ruang untuk merawat identitas, memperkenalkan kembali tradisi, dan berbicara tentang Indonesia dengan bahasa yang terus berubah mengikuti zaman.<\/p>\n<p class=\"text-muted mt-2 small\">Pewarta: Raihan Fadilah<br \/>Editor: Maria Rosari Dwi Putri<br \/>Copyright \u00a9 ANTARA 2026<\/p>\n<p class=\"alert alert-info mt-2 small\">Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/5759460\/mengenang-kiprah-guruh-soekarnoputra-di-dunia-musik-tanah-air\">Source<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta (ANTARA) &#8211; Kabar duka datang dari dunia seni Indonesia. Seniman sekaligus budayawan Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu (26\/9) pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, dalam usia 73 tahun. Kabar tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto melalui keterangan tertulis pada Sabtu pagi. Guruh yang memiliki nama [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":114369,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,3,16],"tags":[],"class_list":["post-114368","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news","category-entertainment","category-news"],"relative_dates":{"created":"5 hours ago","modified":"5 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/114368","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=114368"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/114368\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":114370,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/114368\/revisions\/114370"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/114369"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=114368"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=114368"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=114368"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}