{"id":114072,"date":"2026-09-25T23:40:49","date_gmt":"2026-09-25T16:40:49","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/09\/25\/akamai-soroti-risiko-ai-berbasis-agen-perusahaan-didorong-perkuat-tata-kelola-keamanan\/"},"modified":"2026-09-25T23:40:49","modified_gmt":"2026-09-25T16:40:49","slug":"akamai-soroti-risiko-ai-berbasis-agen-perusahaan-didorong-perkuat-tata-kelola-keamanan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/09\/25\/akamai-soroti-risiko-ai-berbasis-agen-perusahaan-didorong-perkuat-tata-kelola-keamanan\/","title":{"rendered":"Akamai Soroti Risiko AI Berbasis Agen, Perusahaan Didorong Perkuat Tata Kelola Keamanan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n            <span class=\"float-start fw-bold me-1\">Wacana Berita, Jakarta &#8211; <\/span><\/p>\n<p>Perkembangan kecerdasan buatan (AI) berbasis agen mendorong perubahan dalam strategi keamanan siber perusahaan. Kemampuan agen AI untuk menjalankan tugas secara otonom di berbagai aplikasi pemrograman (<em>application programming interface<\/em>\/API) dan sistem digital membuat organisasi perlu memperluas pengawasan, tidak hanya terhadap identitas pengguna manusia, tetapi juga entitas non-manusia yang beroperasi secara mandiri.<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p>Hal tersebut menjadi sorotan Akamai Technologies (NASDAQ: AKAM) melalui laporan <em>State of the Internet<\/em> (SOTI) terbaru berjudul <em>The Agentic Frontier: Speed, Scale, and Nonhuman Identity<\/em>. Laporan tersebut mengulas tantangan keamanan yang muncul seiring meningkatnya penerapan AI berbasis agen, termasuk keterbatasan visibilitas, percepatan eksploitasi kerentanan, dan risiko penggunaan AI di lingkungan perusahaan.<\/p>\n<p>Bagi Chief Information Security Officer (CISO), perubahan ini menuntut pendekatan keamanan yang tidak hanya berfokus pada pemberian akses, tetapi juga pada pemantauan perilaku, kewenangan, dan tindakan yang dilakukan oleh entitas digital secara otonom.<\/p>\n<p>Akamai menyoroti dua tantangan utama, yakni kesulitan menetapkan batasan bagi agen otonom dan kemampuan model AI dalam mengidentifikasi serta menghubungkan kerentanan dengan kecepatan yang berpotensi melampaui siklus pembaruan keamanan secara manual.<\/p>\n<p>Salah satu temuan dalam laporan tersebut berkaitan dengan kesenjangan visibilitas terhadap <em>Model Context Protocol<\/em> (MCP), yaitu protokol yang memungkinkan agen AI berinteraksi dengan berbagai sistem perangkat lunak. Meskipun MCP mendukung tindakan lintas sistem, pengawasan terhadap protokol ini disebut masih menjadi prioritas yang relatif rendah dalam agenda keamanan CISO.<\/p>\n<p>Akamai menyebut kondisi tersebut mencerminkan kesenjangan pengawasan ketika organisasi mulai memberikan kemampuan otonom kepada sistem AI. Laporan itu juga mencatat bahwa para pemimpin keamanan memperkirakan agen AI yang tidak terkendali berpotensi menjadi salah satu ancaman siber utama pada 2030.<\/p>\n<p>Risiko keamanan juga muncul dari penggunaan chatbot AI di lingkungan perusahaan. Berdasarkan temuan yang disampaikan Akamai, lebih dari 6% percakapan chatbot AI yang dianalisis mengandung informasi sensitif, terutama data yang dapat mengidentifikasi individu. Laporan tersebut juga menyebut 47% interaksi yang teridentifikasi berlangsung melalui akun pribadi yang tidak diawasi.<\/p>\n<p>Temuan ini menyoroti pentingnya penguatan kebijakan penggunaan AI, pengawasan akun, serta pengendalian akses terhadap informasi perusahaan. Namun, interpretasi angka tersebut perlu mempertimbangkan cakupan sampel dan metodologi yang digunakan dalam laporan.<\/p>\n<p>Selain risiko kebocoran data, Akamai menggarisbawahi peningkatan kemampuan AI dalam menemukan kerentanan sistem. Melalui inisiatif <em>Frontier AI<\/em>, model-model AI disebut mampu mengidentifikasi dan menghubungkan kelemahan sistem secara cepat, sehingga pendekatan penambalan yang hanya dilakukan setelah kerentanan ditemukan dinilai menghadapi tantangan.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read634702\/akamai-luncurkan-workforce-protector-perkuat-keamanan-ai-di-lingkungan-kerja\">Akamai Luncurkan Workforce Protector, Perkuat Keamanan AI di Lingkungan Kerja<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Akamai merekomendasikan perusahaan mempertimbangkan mekanisme mitigasi secara langsung pada lapisan <em>edge<\/em> untuk membantu mengurangi risiko selama proses penambalan sistem backend berlangsung. Pendekatan tersebut ditujukan sebagai pelengkap, bukan pengganti, pengelolaan kerentanan dan pembaruan keamanan.<\/p>\n<p>Di sisi lain, browser menjadi salah satu titik perhatian dalam pengelolaan keamanan perusahaan. Akamai mencatat lebih dari 40% pengguna korporat telah memasang ekstensi browser berbasis AI, sementara 25% ekstensi tersebut disebut mengubah izin dalam periode 12 bulan.<\/p>\n<p>Dalam laporan itu, ekstensi berbasis AI disebut memiliki kemungkinan 60% lebih besar untuk mengandung kerentanan dan paparan umum (<em>Common Vulnerabilities and Exposures<\/em>\/CVE) yang telah diketahui dibandingkan ekstensi standar. Perbandingan tersebut perlu dibaca sesuai definisi dan cakupan data yang digunakan Akamai, termasuk jenis ekstensi yang dianalisis.<\/p>\n<p>Temuan ini menunjukkan perlunya perusahaan memperkuat visibilitas dan kontrol terhadap perangkat lunak yang digunakan karyawan melalui browser, khususnya ketika ekstensi memiliki akses terhadap data atau sistem organisasi.<\/p>\n<p>Chief Security Officer Akamai, Boaz Gelbord, mengatakan perkembangan AI menghadirkan tantangan keamanan di berbagai lapisan operasional perusahaan.<\/p>\n<p>\u201cAI menghadirkan momen \u2018everything, everywhere, all at once\u2019 atau situasi yang sangat merepotkan karena banyak hal muncul secara bersamaan bagi ekosistem keamanan secara keseluruhan,\u201d ujar Boaz.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, terdapat tiga area utama yang perlu diperhatikan organisasi, yakni penggunaan AI secara internal, integrasi AI ke dalam produk dan beban kerja cloud, serta serangan yang didorong AI untuk menargetkan perusahaan.<\/p>\n<p>Menurut Boaz, perubahan tersebut mendorong program keamanan untuk beradaptasi dengan profil risiko yang berkembang cepat. Ia menilai isu keamanan AI akan semakin relevan bagi dewan direksi, pelanggan, dan regulator.<\/p>\n<p>Advisory CISO Akamai, Steve Winterfeld, menambahkan bahwa perkembangan web berbasis agen membawa perubahan terhadap cara nilai bisnis dan logika operasional diciptakan.<\/p>\n<p>\u201cSeiring dengan perkembangan AI otonom dari sekadar menjawab pertanyaan menjadi pelaksanaan strategi bisnis bertahap, kepemimpinan di bidang keamanan harus berkembang sejalan dengan hal tersebut,\u201d kata Steve.<\/p>\n<p>Dalam laporan tersebut, Akamai merumuskan empat pendekatan strategis bagi pemimpin keamanan untuk menghadapi perkembangan AI berbasis agen.<\/p>\n<p>Pertama, perusahaan disarankan menerapkan tata kelola <em>edge<\/em> yang adaptif melalui perlindungan runtime berbasis <em>edge<\/em>, penyaringan API, dan mekanisme isolasi. Langkah tersebut ditujukan untuk membantu menetralkan kerentanan secara cepat, sementara proses penambalan sistem backend tetap berjalan.<\/p>\n<p>Kedua, pengamanan browser perlu diperkuat melalui visibilitas dan pengendalian perilaku terhadap ekstensi AI yang tidak dikelola serta model AI yang di-hosting di web dan digunakan tenaga kerja.<\/p>\n<p>Ketiga, perusahaan perlu memperluas perlindungan terhadap informasi dan reputasi merek dalam ekosistem digital yang semakin dipengaruhi sistem AI. Akamai menyoroti pentingnya strategi <em>Generative Engine Optimization<\/em> (GEO), termasuk pemantauan kutipan, akurasi informasi, sentimen, dan pengelolaan bot.<\/p>\n<p>Seiring meningkatnya penggunaan agen AI untuk menemukan informasi dan produk, perusahaan perlu memperhatikan bagaimana data merek diproses dan disajikan oleh sistem berbasis AI. Konsep pelanggan sintetis atau <em>synthetic customers<\/em> dalam laporan tersebut berkaitan dengan perubahan pola interaksi digital yang melibatkan agen AI dan lalu lintas otomatis.<\/p>\n<p>Keempat, tingkat otonomi agen AI perlu disesuaikan dengan kemampuan organisasi dalam memverifikasi tindakan dan membalikkan dampak kegagalan. Akamai merekomendasikan penerapan keterlibatan manusia (<em>human-in-the-loop<\/em>) untuk tindakan yang memiliki risiko tinggi.<\/p>\n<p>Pendekatan tersebut menempatkan kemampuan verifikasi, tingkat risiko, dan reversibilitas tindakan sebagai pertimbangan dalam pemberian kewenangan kepada agen AI. Dengan demikian, perusahaan dapat mengembangkan pemanfaatan AI sambil mempertahankan mekanisme pengawasan terhadap keputusan dan tindakan yang berpotensi memengaruhi operasional.<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p>Memasuki tahun ke-12, laporan SOTI Akamai menyajikan analisis mengenai perkembangan keamanan siber dan performa web berdasarkan data serangan yang terdeteksi di infrastruktur keamanan siber perusahaan. Temuan terbaru ini menyoroti kebutuhan organisasi untuk memperkuat tata kelola perilaku, pengawasan identitas non-manusia, dan pengamanan AI berbasis agen sebagai bagian dari strategi keamanan digital di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read637068\/akamai-soroti-risiko-ai-berbasis-agen-perusahaan-didorong-perkuat-tata-kelola-keamanan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wacana Berita, Jakarta &#8211; Perkembangan kecerdasan buatan (AI) berbasis agen mendorong perubahan dalam strategi keamanan siber perusahaan. Kemampuan agen AI untuk menjalankan tugas secara otonom di berbagai aplikasi pemrograman (application programming interface\/API) dan sistem digital membuat organisasi perlu memperluas pengawasan, tidak hanya terhadap identitas pengguna manusia, tetapi juga entitas non-manusia yang beroperasi secara mandiri. Hal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":114073,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,2],"tags":[],"class_list":["post-114072","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news","category-business"],"relative_dates":{"created":"5 hours ago","modified":"5 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/114072","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=114072"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/114072\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/114073"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=114072"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=114072"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=114072"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}