{"id":110696,"date":"2026-09-21T21:40:41","date_gmt":"2026-09-21T14:40:41","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/09\/21\/di-balik-gemerlap-industri-film-ada-masalah-finansial-yang-belum-tuntas\/"},"modified":"2026-09-21T21:40:41","modified_gmt":"2026-09-21T14:40:41","slug":"di-balik-gemerlap-industri-film-ada-masalah-finansial-yang-belum-tuntas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/09\/21\/di-balik-gemerlap-industri-film-ada-masalah-finansial-yang-belum-tuntas\/","title":{"rendered":"Di Balik Gemerlap Industri Film, Ada Masalah Finansial yang Belum Tuntas"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n            <span class=\"float-start fw-bold me-1\">Wacana Berita, Jakarta &#8211; <\/span><\/p>\n<p>PT Bank Amar Indonesia (Amar Bank) berkomitmen mendorong kesiapan finansial industri kreatif, khususnya perfilman, melalui penguatan tata kelola berbasis teknologi. Bersama JAFF Market sebagai hub yang menghubungkan ekosistem perfilman nasional, langkah ini ditujukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia secara berkelanjutan.<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p>Besarnya nilai ekonomi industri film belum otomatis membuat para pekerja di balik produksi memiliki profil keuangan yang bankable. Persoalannya bukan semata pada ketersediaan layanan keuangan, melainkan karakter pekerjaan yang belum sepenuhnya dapat diukur secara presisi untuk menilai risiko dan kelayakan pembiayaan.<\/p>\n<p>Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diinisiasi Amar Bank bersama JAFF Market dan sejumlah asosiasi profesi film, yakni Indonesian Film Director Club (IFDC), Penulis Indonesia untuk Layar Lebar (PILAR), Indonesian Film Editor (INAFEd), Indonesian Cinematographers Society (ICS), dan Asosiasi Casting Indonesia (ACI).<\/p>\n<p>Diskusi tersebut membedah tantangan finansial di tingkat profesi yang belum sepenuhnya terhubung dengan layanan keuangan. Persoalan ini kerap luput dari gambaran pertumbuhan industri film secara keseluruhan.<\/p>\n<p>Diskusi lintas industri ini merespons besarnya potensi ekonomi kreatif Indonesia yang berperan penting dalam penyerapan tenaga kerja nasional. Pada 2025, sektor ekonomi kreatif menyerap 27,4 juta pekerja, melampaui target 25,55 juta orang.<\/p>\n<p>Industri film menjadi salah satu subsektor dengan multiplier effect yang luas. Pertumbuhan perfilman nasional tidak hanya membuka peluang bagi sineas dan aktor, tetapi juga penulis, editor, kameramen, kru produksi, vendor, serta berbagai sektor pendukung lainnya.<\/p>\n<p>Melalui diskusi tersebut, Amar Bank melihat bahwa pendekatan finansial bagi industri film perlu disesuaikan dengan karakter industrinya. Senior Vice President MSME Amar Bank, Josua Sloane, menilai penyesuaian tersebut penting agar pertumbuhan industri film berjalan seiring dengan penguatan kondisi finansial para pelakunya.<\/p>\n<p>\u201cIndustri film memiliki siklus yang berbeda dari sektor konvensional. Mulai dari fase pengembangan, kebutuhan investasi di awal, hingga distribusi dan monetisasi. Karena itu, pola pertumbuhan dan arus kasnya tidak bisa disamakan dengan sektor konvensional. Bagi kami, memahami cara industri ini bekerja menjadi penting agar potensi ekonominya dapat dilihat secara lebih utuh,\u201d ujar Josua.<\/p>\n<p>Perbedaan karakter industri tersebut terlihat dalam pola kerja masing-masing profesi. Kondisi ini turut menentukan bagaimana rekam keuangan pekerja film terbentuk dan kemudian dinilai oleh perbankan.<\/p>\n<p>Editor dan penulis skenario umumnya menerima pembayaran dalam beberapa termin sepanjang pengerjaan proyek yang berlangsung berbulan-bulan. Pola tersebut membuat arus pendapatan tidak selalu tercatat secara rutin setiap bulan.<\/p>\n<p>Karena itu, penilaian kemampuan finansial pekerja pada profesi tersebut perlu mempertimbangkan rekam pemasukan dalam periode yang lebih panjang, bukan hanya pendapatan bulanan.<\/p>\n<p>Casting director dan sinematografer kerap menerima dana proyek untuk kebutuhan produksi melalui satu rekening sebelum mendistribusikannya kepada kru maupun talent.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut membuat nilai transaksi yang tercatat dapat lebih besar daripada pendapatan pribadi. Akibatnya, pencatatan penghasilan maupun kewajiban pajak menjadi lebih kompleks.<\/p>\n<p>Penulis dan sutradara dapat memiliki karya atau intellectual property (IP) yang memiliki nilai komersial di luar pendapatan proyek. Namun, nilai tersebut belum selalu diperhitungkan sebagai aset ekonomi yang dapat memperkuat profil keuangan maupun membuka akses pendanaan.<\/p>\n<p>Banyak pekerja film masih bekerja sebagai individu dengan pencatatan transaksi, kontrak, serta tata kelola finansial dan legal yang belum seragam.<\/p>\n<p>Padahal, rekam keuangan dan tata kelola usaha yang lebih tertata dapat menjadi dasar bagi perbankan untuk menilai kelayakan serta kebutuhan pembiayaan produktif.<\/p>\n<p>Temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan finansial pekerja film tidak hanya berkaitan dengan akses pembiayaan, tetapi juga bagaimana aktivitas keuangan mereka tercatat dan dapat diverifikasi.<\/p>\n<p><span class=\"arabic-inline\"><strong>Teknologi untuk Mendukung Bankability<\/strong><\/span><\/p>\n<p>Kebutuhan tersebut menjadi salah satu fokus Amar Bank melalui Amar Bank Bisnis dengan pendekatan nurturing. Melalui pendekatan ini, teknologi Amar Bank memfasilitasi pelaku usaha untuk membangun rekam jejak transaksi, menata pencatatan keuangan, serta mengelola kebutuhan operasional dalam satu platform digital.<\/p>\n<p>\u201cKami melihat dukungan finansial juga perlu berjalan bersama penguatan tata kelola, agar kreativitas tetap tumbuh dengan fondasi pengelolaan risiko yang lebih kuat. Rekam jejak yang lebih tertata juga membantu perbankan membaca kelayakan kredit pekerja dan pelaku usaha film secara lebih akurat. Inilah langkah konkret Amar Bank untuk mendampingi nasabah agar jadi bankable,\u201d ujar Josua.<\/p>\n<p>Keterlibatan Amar Bank di JAFF Market menjadi bagian dari upaya memperluas akses layanan keuangan yang inklusif bagi pelaku di sepanjang rantai industri film, mulai dari pekerja profesional dan rumah produksi hingga usaha pendukung di belakang produksi.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read635050\/dorong-hiburan-inklusif-pemprov-dki-ajak-pelajar-slb-nobar-film-istimewa\">Dorong Hiburan Inklusif, Pemprov DKI Ajak Pelajar SLB Nobar Film &#8216;Istimewa\u2019<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read634522\/ai-masuk-industri-film-capcut-bawa-10-film-pendek-kreator-indonesia-ke-layar-lebar-lewat-ai-content-fest-2026\">AI Masuk Industri Film, CapCut Bawa 10 Film Pendek Kreator Indonesia ke Layar Lebar Lewat AI Content Fest 2026<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Direktur Bisnis JAFF Market Sekarini Seruni menyampaikan apresiasinya terhadap komitmen Amar Bank untuk memahami karakter kerja industri film secara lebih utuh.<\/p>\n<p>\u201cKami mengapresiasi komitmen Amar Bank untuk memahami karakter kerja industri film secara lebih utuh. Bagi JAFF Market, kolaborasi ini penting karena industri film tidak hanya berbicara tentang karya, tetapi juga tentang bagaimana orang dan usaha di baliknya dapat tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan. Karya yang kuat juga membutuhkan fondasi finansial yang sehat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p>Ke depan, Amar Bank dan JAFF Market akan melanjutkan kolaborasi untuk memperkuat kapasitas profesi di industri film sekaligus membuka diskusi mengenai kekayaan intelektual sebagai aset ekonomi yang dapat memperluas peluang pendanaan produktif di industri kreatif.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read636034\/di-balik-gemerlap-industri-film-ada-masalah-finansial-yang-belum-tuntas\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wacana Berita, Jakarta &#8211; PT Bank Amar Indonesia (Amar Bank) berkomitmen mendorong kesiapan finansial industri kreatif, khususnya perfilman, melalui penguatan tata kelola berbasis teknologi. Bersama JAFF Market sebagai hub yang menghubungkan ekosistem perfilman nasional, langkah ini ditujukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia secara berkelanjutan. Besarnya nilai ekonomi industri film belum otomatis membuat para pekerja [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":110697,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,2],"tags":[],"class_list":["post-110696","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news","category-business"],"relative_dates":{"created":"6 hours ago","modified":"6 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110696","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=110696"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110696\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/110697"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=110696"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=110696"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=110696"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}