{"id":110408,"date":"2026-09-21T13:55:06","date_gmt":"2026-09-21T06:55:06","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/09\/21\/benih-menurun-produksi-stroberi-garut-terancam-mandek\/"},"modified":"2026-09-21T13:55:06","modified_gmt":"2026-09-21T06:55:06","slug":"benih-menurun-produksi-stroberi-garut-terancam-mandek","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/09\/21\/benih-menurun-produksi-stroberi-garut-terancam-mandek\/","title":{"rendered":"Benih Menurun, Produksi Stroberi Garut Terancam Mandek"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\">KORAN MANDALA<\/a><\/strong> \u2013\u00a0Potensi stroberi di Kabupaten Garut belum sepenuhnya berkembang. Di tengah permintaan buah stroberi yang terus ada, petani di sentra produksi justru menghadapi persoalan kualitas benih yang mulai menurun.<\/p>\n<p>Dinas Pertanian Kabupaten Garut mencatat, saat ini luas tanaman stroberi di daerah tersebut baru sekitar 140 hektare. Sentra produksi yang paling masif berada di Desa Barudua, Kecamatan Malangbong.<\/p>\n<p>Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut Ardhy Firdian mengatakan tanaman stroberi sebenarnya sudah lama dibudidayakan masyarakat Desa Barudua. Namun, pengembangan komoditas tersebut masih menghadapi kendala, terutama dari sisi kualitas benih.<\/p>\n<blockquote>\n<p><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\/daerah\/222947\/tanah-bergerak-dua-ruang-kelas-mi-tegalkoneng-bandung-barat-ambruk\/\">Tanah Bergerak, Dua Ruang Kelas MI Tegalkoneng Bandung Barat Ambruk<\/a><\/p>\n<\/blockquote>\n<p>\u201cPopulasinya atau luasan tanamnya itu hanya mencapai 140 hektare dan itu hanya ada di Kecamatan Malangbong, Desa Barudua. Hasil pengamatan kita, stroberi ini memang sudah sejak lama diusahakan oleh masyarakat di wilayah tersebut,\u201d kata Ardhy, Senin (21\/9\/2026).<\/p>\n<p>Menurut dia, kualitas benih yang digunakan petani saat ini menunjukkan kecenderungan menurun. Jika sebelumnya satu kali penggunaan benih dapat menopang tanaman hingga 3-5 tahun, kini daya tahannya disebut hanya sekitar 1-2 tahun.<\/p>\n<p>\u201cMemang informasinya ada sedikit penurunan terkait dengan kualitas benih yang mereka gunakan. Benih yang mereka tanam biasanya bisa bertahan 3-5 tahun, sekarang paling kuat hanya 1-2 tahun,\u201d ujarnya.<\/p>\n<h3>Bibit Turun-temurun Jadi Persoalan<\/h3>\n<p>Ardhy menilai salah satu penyebabnya adalah belum berkembangnya teknologi atau metode pembenihan untuk memperbaiki kualitas benih stroberi di tingkat petani.<\/p>\n<p>Selama ini, petani masih banyak menggunakan benih yang diperbanyak secara turun-temurun sejak awal budidaya stroberi dikembangkan di wilayah tersebut.<\/p>\n<p>\u201cSaya kira memang di sana belum dikembangkan kultur untuk perbaikan pembenihan. Mereka masih menggunakan benih yang turun-temurun. Jadi benih yang sudah lama, ketika awal mereka mulai mengembangkan stroberi, terus digunakan sampai sekarang dan belum ada perbaikan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Menurut Ardhy, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produktivitas tanaman. Sebab, tanaman stroberi yang diperbanyak berkali-kali dari sumber benih yang sama dapat mengalami penurunan kualitas generatif.<\/p>\n<p>\u201cNah, memang kelemahannya itu. Kalau sudah beberapa kali digunakan, pasti ada penurunan kualitas generatif, jadi secara otomatis menurunkan produktivitas tanaman itu sendiri,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Dampaknya terlihat dari produksi stroberi di Desa Barudua yang saat ini rata-rata hanya berkisar 20-30 kilogram per hari.<\/p>\n<p>Meski demikian, Ardhy menyebut kondisi geografis Desa Barudua menjadi salah satu faktor yang membuat budidaya stroberi di wilayah tersebut relatif lebih stabil dibandingkan daerah lain. Desa tersebut memiliki sumber air yang cukup sehingga tanaman tetap mendapat pasokan air meski memasuki musim kemarau.<\/p>\n<p>\u201cUntuk hasil panen stroberi di Desa Barudua rata-rata 20-30 kilogram per hari dengan luas tanah yang memang kecil. Di sana merupakan sumber air, jadi relatif aman walaupun dalam kondisi kemarau dan lebih konsisten produksinya,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<h3>Pemkab Buka Peluang Teknologi dari Jepang dan Korea<\/h3>\n<p>Persoalan benih kini menjadi perhatian Pemkab Garut. Pemerintah daerah bahkan membuka peluang kerja sama teknologi pembenihan dengan pihak dari Jepang dan Korea Selatan untuk memperbaiki kualitas benih stroberi di sentra produksi.<\/p>\n<p>Ardhy mengatakan, jika kerja sama tersebut terealisasi dan berkaitan dengan pengembangan teknologi pembenihan, pemerintah daerah siap memberikan pendampingan.<\/p>\n<p>\u201cIni juga menjadi pemikiran bagi kita. Makanya ketika ada penawaran kerja sama teknologi terkait pembenihan dengan pihak Jepang atau Korea, kita siap menerima. Artinya, kalau memang ini berkaitan dengan perbaikan benih yang ada di wilayah tersebut, itu akan kita dampingi oleh pemerintah daerah,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Saat ini, Desa Barudua masih menjadi wilayah penghasil stroberi paling masif di Kabupaten Garut. Budidaya stroberi memang terdapat di sejumlah wilayah lain, tetapi skalanya belum sebesar di Malangbong.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.koranmandala.com\/daerah\/222950\/benih-menurun-produksi-stroberi-garut-terancam-mandek\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KORAN MANDALA \u2013\u00a0Potensi stroberi di Kabupaten Garut belum sepenuhnya berkembang. Di tengah permintaan buah stroberi yang terus ada, petani di sentra produksi justru menghadapi persoalan kualitas benih yang mulai menurun. Dinas Pertanian Kabupaten Garut mencatat, saat ini luas tanaman stroberi di daerah tersebut baru sekitar 140 hektare. Sentra produksi yang paling masif berada di Desa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":110409,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-110408","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news"],"relative_dates":{"created":"5 hours ago","modified":"5 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110408","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=110408"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110408\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/110409"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=110408"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=110408"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=110408"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}