{"id":108266,"date":"2026-09-18T20:32:19","date_gmt":"2026-09-18T13:32:19","guid":{"rendered":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/09\/18\/profesi-clipper-makin-dilirik-sulianto-indria-putra-bangun-konten-com-untuk-hubungkan-brand-dan-kreator\/"},"modified":"2026-09-18T20:32:19","modified_gmt":"2026-09-18T13:32:19","slug":"profesi-clipper-makin-dilirik-sulianto-indria-putra-bangun-konten-com-untuk-hubungkan-brand-dan-kreator","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/2026\/09\/18\/profesi-clipper-makin-dilirik-sulianto-indria-putra-bangun-konten-com-untuk-hubungkan-brand-dan-kreator\/","title":{"rendered":"Profesi Clipper Makin Dilirik, Sulianto Indria Putra Bangun Konten.com untuk Hubungkan Brand dan Kreator"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n            <span class=\"float-start fw-bold me-1\">Wacana Berita, Jakarta &#8211; <\/span><\/p>\n<p>Meraup puluhan juta rupiah dari unggahan potongan video mungkin terdengar seperti <em>clickbait<\/em>. Namun, bagi sebagian anak muda, aktivitas ini mulai berkembang menjadi profesi baru.<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p>Di tengah ledakan konten video pendek, muncul profesi <em>clipper<\/em> yang menarik perhatian. Berbeda dengan <em>influencer<\/em>, <em>clipper<\/em> bekerja di balik layar tanpa harus membangun <em>personal brand<\/em> atau memiliki banyak pengikut untuk menghasilkan uang dari konten.<\/p>\n<p>Fenomena ini tumbuh seiring konsumsi internet yang makin tinggi. <a href=\"https:\/\/data.goodstats.id\/statistic\/mayoritas-warganet-ri-habiskan-4-6-jam-sehari-untuk-mengakses-internet-jNJFU\">Survei APJII 2026<\/a> mencatat 81,72% orang Indonesia telah terhubung ke internet. Besarnya jumlah pengguna ini ikut memperluas ruang bagi konten untuk diproduksi, didistribusikan, dan dimonetisasi.<\/p>\n<p><strong>Mengenal Clipper dan Cara Kerjanya<\/strong><\/p>\n<p>Secara sederhana, <em>clipper<\/em> mengambil materi seperti <em>podcast<\/em>, <em>livestream<\/em>, <em>interview<\/em>, atau video panjang, lalu mengubah bagian paling menarik menjadi konten pendek untuk TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts.<\/p>\n<p>Namun, tugasnya tak hanya memotong video. Clipper perlu memilah momen yang tepat, membuat hook, mengerti konteks, memahami psikologi audiens, mengatur <em>pacing<\/em>, menambahkan elemen visual, serta menyesuaikan konten dengan karakter tiap platform.<\/p>\n<p><strong>Munculnya Tren Clipper Bukan Tanpa Alasan<\/strong><\/p>\n<p>Produksi konten makin membludak, tapi perhatian audiens makin sulit direbut. Kreator dan brand sudah punya banyak materi panjang dari podcast, livestream, hingga interview. Satu podcast berdurasi 1\u20132 jam, misalnya, bisa menyimpan puluhan momen yang siap diolah menjadi konten pendek dengan <em>angle<\/em> berbeda.<\/p>\n<p>Di sisi lain, riset Dr. Gloria Mark dari University of California mencatat rata-rata rentang atensi manusia pada layar digital hanya <a href=\"https:\/\/www.apa.org\/news\/podcasts\/speaking-of-psychology\/attention-spans\">47 detik<\/a>. Konten harus bergerak lebih cepat. Di sinilah clipper mengambil peran, memecah satu materi panjang menjadi banyak konten yang lebih mudah dikonsumsi.<\/p>\n<p><strong>Clipper Tak Dibayar dari Jam Kerja<\/strong><\/p>\n<p>Berbeda dengan editor yang umumnya dibayar berdasarkan pekerjaan, clipper menghasilkan uang dari performa konten. Sejumlah marketplace clipping menawarkan tarif sekitar Rp2.000\u2013Rp7.000 per 1.000 views, tergantung <em>campaign<\/em> dan ketentuan platform.<\/p>\n<p>Artinya, 1 juta <em>views<\/em> berpotensi menghasilkan Rp2 juta\u2013Rp7 juta. Semakin banyak <em>views<\/em> yang dikumpulkan dari berbagai konten, semakin besar pula potensi penghasilannya.<\/p>\n<p><strong>Saat Side Hustle Gen Z Jadi Profesi<\/strong><\/p>\n<p><em>Clipper<\/em> punya <em>entry barrier<\/em> yang relatif rendah. Tak perlu jadi influencer atau punya jutaan pengikut. Mahasiswa, editor pemula, hingga pengguna media sosial bisa mulai mengolah konten dengan bermodalkan gawai, koneksi internet, dan kemampuan editing dasar, tanpa terpaku CV maupun batas usia.<\/p>\n<p>Bagi Gen Z, pekerjaan ini bisa dimulai sebagai <em>side hustle<\/em> tanpa meninggalkan aktivitas utama. Yang awalnya hanya pekerjaan sampingan, perlahan bisa menjadi sumber penghasilan serius jika ditekuni. Bahkan, bagi sebagian <em>clipper<\/em>, aktivitas ini mulai berkembang menjadi pekerjaan utama.<\/p>\n<p>Meski begitu, penghasilan clipper tetap bergantung pada kualitas konten, jumlah <em>views<\/em> yang didapat, serta konsistensi dalam membuat konten.<\/p>\n<p><strong>Konten.com Jadi Wadah Bagi Ribuan Clipper di Indonesia<\/strong><\/p>\n<p><em>Clipping<\/em> tak lagi hanya menjadi aktivitas perorangan. Kebutuhan brand untuk memperluas distribusi konten menciptakan pasar baru. Konten.com, melihat celah ini dan mengubahnya menjadi ekosistem berbasis marketplace.<\/p>\n<p>Konten.com didirikan oleh Sulianto Indria Putra, atau akrab disapa Suli, <em>entrepreneur<\/em> berusia 20 tahun kelahiran Jakarta, 5 Juli 2006. Sulianto Indria Putra dikenal luas lewat komunitas edukasi Trade With Suli dan kiprahnya sebagai <em>trader<\/em>, investor, pegiat aset kripto, serta miliarder Gen Z.<\/p>\n<p>Sulianto Indria Putra memulai perjalanan bisnisnya sejak usia 11 tahun dengan berjualan stik es krim kepada teman sekolah. Saat pandemi, di usia 14 tahun, Sulianto Indria Putra mulai bekerja sebagai <em>freelance designer<\/em>, lalu menggunakan penghasilannya untuk mulai berinvestasi di saham saat usianya baru 15 tahun. Setelah memperdalam literasi finansial dan menekuni dunia <em>trading<\/em> serta kripto, Sulianto Indria Putra berhasil meraih Rp1 miliar pertamanya pada usia 18 tahun.<\/p>\n<p>Bersama rekannya, Andrew Jonathan, Sulianto Indria Putra kemudian mendirikan <a href=\"http:\/\/konten.com\/\">Konten.com<\/a> pada 20 Mei 2026 dengan tujuan menciptakan sebuah <em>clipping marketplace<\/em> yang menjembatani <em>brand<\/em> dengan para kreator konten, khususnya para <em>clipper<\/em>.<\/p>\n<p><strong>Kisah <\/strong><strong><em>Clipper<\/em><\/strong><strong> Hasilkan Rp24 Juta dalam Seminggu<\/strong><\/p>\n<p>Sejumlah <em>clipper<\/em> membuktikan bahwa potongan video yang berhasil menarik views bisa membuka peluang kerja sama hingga menghasilkan jutaan rupiah.<\/p>\n<p>Dilansir dari <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=MlCnR1J7SeA\">CNN<\/a>, Dhimas Izzul awalnya membuat klip video karena hobi. Ia kemudian mengunggahnya ke TikTok hingga salah satu videonya masuk FYP. Setelah itu, sejumlah brand mulai menghubunginya untuk bekerja sama. Dari 12 video, ia mengaku bisa menghasilkan sekitar Rp4 juta.<\/p>\n<p>Di platform Konten.com, angkanya bahkan bisa jauh lebih besar. Salah satu clipper dengan inisial A tercatat menghasilkan sekitar Rp24 juta hanya dalam satu minggu, pada periode 13 sampai 20 Agustus 2026.<\/p>\n<p>Angka tersebut tentu bukan gambaran pendapatan seluruh <em>clipper<\/em>. Namun, cerita seperti ini menunjukkan bahwa <em>clipping<\/em> punya peluang monetisasi yang nyata, dengan penghasilan yang ikut bergerak mengikuti performa konten.<\/p>\n<p><strong>Tren <\/strong><strong><em>Clipper<\/em><\/strong><strong> Juga Menguntungkan Brand<\/strong><\/p>\n<p>Bagi brand, <em>clipper<\/em> membuka peluang untuk memperpanjang umur dan memperluas jangkauan sebuah campaign. Satu materi bisa diolah menjadi banyak potongan dengan angle yang berbeda, sehingga brand tidak harus terus memproduksi materi baru.<\/p>\n<p>Model berbasis performa juga membuat distribusi lebih terukur. Brand dapat mengalokasikan <em>budget<\/em> berdasarkan performa seperti <em>views<\/em>, bukan sekadar membayar biaya produksi atau placement di awal yang cenderung lebih mahal.<\/p>\n<p>Melalui platform seperti Konten.com, proses ini dapat dilakukan dalam skala besar dengan melibatkan ribuan creator dan clipper di seluruh Indonesia.\u00a0<\/p>\n<p><strong>Masa Depan <\/strong><strong><em>Creator Economy<\/em><\/strong><strong> Ada di Balik Layar<\/strong><\/p>\n<p>Kemunculan <em>clipper<\/em> menandai perubahan dalam <em>creator economy<\/em>. Jika sebelumnya seseorang perlu membuat konten sendiri, membangun audience dari nol, lalu memonetisasinya, kini seseorang bisa menghasilkan dari konten tanpa harus memiliki audience sendiri.<\/p>\n<p>Perubahan ini sekaligus membuka kebutuhan baru bagi brand dan creator untuk mendistribusikan konten secara lebih luas. Konten.com hadir sebagai marketplace yang mempertemukan brand dengan kreator dan <em>clipper<\/em>.<\/p>\n<p><!-- \/\/.adInArticle --><\/p>\n<p>Bagi <em>clipper<\/em>, ini berarti lebih banyak peluang menghasilkan uang dari konten. Bagi <em>brand<\/em>, ini berarti lebih banyak peluang untuk mendapatkan attention.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/wartaekonomi.co.id\/read635628\/profesi-clipper-makin-dilirik-sulianto-indria-putra-bangun-kontencom-untuk-hubungkan-brand-dan-kreator\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wacana Berita, Jakarta &#8211; Meraup puluhan juta rupiah dari unggahan potongan video mungkin terdengar seperti clickbait. Namun, bagi sebagian anak muda, aktivitas ini mulai berkembang menjadi profesi baru. Di tengah ledakan konten video pendek, muncul profesi clipper yang menarik perhatian. Berbeda dengan influencer, clipper bekerja di balik layar tanpa harus membangun personal brand atau memiliki [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":108267,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,2],"tags":[],"class_list":["post-108266","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-breaking-news","category-business"],"relative_dates":{"created":"5 hours ago","modified":"5 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108266","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=108266"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108266\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/108267"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=108266"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=108266"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wacanaberita.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=108266"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}