Sunday, October 18News That Matters

PLTS 100 GW Jadi Pasar Baru Industri Baterai Indonesia


Wacana Berita, Jakarta –

Indonesia mendorong pengembangan baterai dan Battery Energy Storage System (BESS) untuk mendukung integrasi energi terbarukan dan meningkatkan keandalan sistem kelistrikan.

Hal ini menjadi fokus International Battery Summit (IBS) 2026 yang digelar pada 26-28 Agustus 2026 di JIEXPO Convention Centre & Theatre, Jakarta. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, industri, akademisi, lembaga riset, investor, dan pelaku teknologi.

Director of Business & Academy Development NBRI sekaligus Executive Director Id Battery, Muhammad Firmansyah, mengatakan kebutuhan baterai ke depan tidak hanya berasal dari kendaraan listrik, tetapi juga energi terbarukan.

“Dengan target pengembangan PLTS hingga 100 GW, kebutuhan terhadap Battery Energy Storage System atau BESS menjadi semakin strategis untuk mengatasi intermitensi energi surya, menjaga keandalan sistem, serta mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan,” kata Firmansyah.

Menurut dia, pengembangan BESS perlu didukung kolaborasi antara industri, akademisi, pemerintah, dan lembaga riset agar teknologi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan sistem energi nasional.

Sementara itu, Founder NBRI dan Chair of International Battery Summit 2026, Evvy Kartini, mengatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk mengambil peran dalam industri baterai global. Namun, peluang tersebut perlu didukung penguatan riset, teknologi, dan sumber daya manusia.

“Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk mengambil peran strategis dalam industri baterai global. Namun, membangun ekosistem baterai yang kompetitif dan berkelanjutan tidak cukup hanya dengan mengandalkan sumber daya alam dan investasi,” ujar Evvy.

Baca Juga: Bahlil Beberkan Potensi PLTS 100 GWp: Bisa Ciptakan 5,52 Juta Lapangan Kerja

Baca Juga: Prabowo Minta Pembangunan PLTS 100 GWp Dipercepat, ini Alasannya

IBS 2026 diselenggarakan NBRI bersama Pamerindo Indonesia dan Id Battery. Forum tersebut diikuti perwakilan 40 negara, 174 asosiasi dan perusahaan, 66 universitas, serta 41 agensi pemerintahan.

Pengembangan ekosistem baterai Indonesia mencakup bahan baku, manufaktur, kendaraan listrik, BESS, battery management system, hingga recycling dan circular economy.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *