Thursday, September 17News That Matters

MUNDUR karena APA ? – Koran Mandala


Oleh : Widi Garibaldi

Tatkala Mohammad Hatta tak sudi lagi duduk di kursi Wakil Presiden RI, mudah ditebak penyebabnya. Bung Hatta yang terkenal kejujuran dan kebersihannya itu, ikhlas menanggalkan gelar RI 2 karena merasa tak mungkin lagi bergandengan tangan sebagai “Dwi Tunggal” dengan Bung Karno yang mencanangkan Demokrasi Terpimpin yang ternyata kemudian sangat otoriter dan korup. Sebagai seorang yang bersih “luar dalam”, kedua proklamator kemerdekaan RI itu terpaksa berpisah jalan.

Bung Hatta pada tanggal 1 Desember 1956 menyatakan diri mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Ia ikhlas meninggalkan kursi Wakil Presiden nan empuk, menjadi rakyat jelata.

Sejarah mencatat bahwa pengunduran diri pejabat itu terjadi lagi hampir setengah abad kemudian. Kalau dulu dilakukan oleh Bung Hatta seorang maka 42 tahun kemudian, tepatnya tanggal 20 Mei 1998 dilakukan berjamaah. Di bawah pimpinan Ginanjar Kartasasmita, 14 Menteri kabinet Pembangunan VII, mengundurkan diri.

Krisis moneter yang parah dan KKN yang merajalela, menjadi penyebabnya. Suharto yang telah 32 tahun berkuasa sebagai Presiden, sehari kemudian juga terpaksa mengumumkan pengunduran dirinya. Soalnya, kepercayaan rakyat sudah sirna.

Jelang HUT ke 81

Hari-hari menjelang peringatan HUT ke 81 Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus yang akan datang, sejarah pemerintahan negeri tercinta ini ditandai oleh peristiwa pengundran diri beberapa pejabat.

Adalah Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah yang pertama tama menyatakan mengundurkan diri dari “jabatan kunci” di Kejaksaan Agung.

Walaupun alasannya “amat keren”, yakni untuk menjaga integritas,obyektivitas dan netralitas tetapi masyarakat akhirnya makfum bahwa pengunduran diri itu terpaksa dilakukannya karena terlibat dalam perkara korupsi yang justru harus diberantasnya.

Lain lagi dengan Nanik S.Deyang. Ibu yang satu ini, baru 45 hari diberi kepercayaan oleh Presiden sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang mengelola MBG (Makan Bergizi Gratis).

Tiba-tiba saja, tanggal 22 Juli yang baru lalu, ia menyatakan mengundurkan diri dari jabatan sebagai kepala badan primadona itu. Alasannya, sakit jantung. Segera akan berangkat ke Singapura untuk menemui dokter pembanding.

Sulit ditebak kebenarannya, tetapi alasan kesehatan itu mungkin perlu dibeberkan daripada harus menyingkap tabir sebenarnya di balik program Presiden Prabowo yang ternyata dijadikan bancakan itu.

Belum lagi jelas terjawab teka teki penyebab mengapa Kepala BGN itu terpaksa mengundurkan diri, perbuatan yang sama dilakukan pula oleh Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjito. Kalau Ibu Deyang belum lagi “setahun jagung” menduduki jabatan Kepala BGN,

Perry sudah dipercayai menduduki jabatan strategis, Gubernur Bank Indonesia, selama 7 tahun ini. Resminya, jabatan sebagai Gubernur BI itu baru akan berkahir tahun 2028.

“Alasan pribadi” yang dikatakannya sebagai penyebab mengundurkan diri, amat mencengangkan karena lembaga yang dipimpinnya sungguh sangat penting, sebagai penjaga kebijakan monoter bangsa dan negara ini.

Atau barangkali mereka termasuk pula “Londo Ireng” yang dimaksud Presiden Prabowo dalam pidatonya baru-baru ini ? ***

 



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *