
KORAN MANDALA.COM – Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat, Yomnius Untung, mengungkapkan sedikitnya tiga persoalan utama dalam pelaksanaan penerimaan siswa baru Program Sekolah Maung. Hal itu disampaikannya dalam konferensi pers bersama Wakil Ketua Komisi V DPRD Jabar Siti Muntamah serta anggota Komisi V Maulana Yusuf, Erwinsyah, dan Zaini Shofari di Bandung, Kamis (18/6/2026).
Menurut Yomnius, persoalan pertama terjadi pada fase penerimaan siswa Sekolah Maung, khususnya pada jalur kepemimpinan. Ia menyebut terdapat keteledoran dalam sistem penilaian yang memicu gejolak di masyarakat.
“Pada saat scoring jalur kepemimpinan itu terlalu besar. Dari yang di juklaknya 220 ditulis di sistem 305 yang kemudian direvisi di tengah jalan. Karena direvisi di tengah jalan maka timbullah gejolak di publik karena setiap yang jalur kepemimpinan pasti drop. Hitungannya pasti drop,” ujar Yomnius. Kamis 18/6/2026
Ia menilai kekeliruan tersebut menunjukkan penyedia sistem tidak akurat dalam mengelola data yang bersifat sensitif.
“Ini kita anggap menjadi poin kecerobohan karena bagaimana kemudian penyedia sistem itu tidak akurat menyampaikan data-data sensitif,” katanya.
Yomnius mengungkapkan, sejak awal Komisi V sebenarnya telah menyarankan agar Program Sekolah Maung tidak diterapkan secara masif. DPRD hanya merekomendasikan pelaksanaan dalam skala terbatas sebagai proyek percontohan.
“Di komisi sudah menyarankan agar program Sekolah Maung itu tidak masif seperti yang diprogramkan di Dinas Pendidikan. Karena kita hanya menyarankan satu sampai empat untuk pilot project-nya,” ujarnya.
Namun demikian, Dinas Pendidikan Jawa Barat tetap menjalankan program tersebut di 41 sekolah yang sebelumnya berstatus eks-RSBI.
“Kemudian Dinas Pendidikan memutuskan 41 Sekolah Maung yang berangkat dari sekolah-sekolah yang dulu masuk kualifikasi RSBI. Ternyata program Sekolah Maung tidak disupport oleh sistem yang baik sehingga terjadi keteledoran,” katanya.
Persoalan kedua, lanjut Yomnius, berkaitan dengan lemahnya kesiapan sistem dan sumber daya manusia operator sekolah. Menurutnya, sosialisasi yang tidak tuntas membuat banyak operator belum memahami sistem baru yang digunakan.
“Ketidaksiapan human resources operator di satuan pendidikan terjadi karena ternyata sosialisasinya tidak tuntas. Operator di sekolah hanya sekadar tahu ada sistem baru, tapi belum paham,” ujarnya.
Akibatnya, banyak orang tua dan calon siswa tidak memperoleh informasi yang memadai dari sekolah dan akhirnya memadati kantor Dinas Pendidikan.
“Tidak heran kalau kita melihat berbondong-bondong ke Disdik dan di Disdik ternyata responsnya juga tidak proporsional. Timbullah gejolak di masyarakat dan viral negatif yang justru menutupi misi bagus Sekolah Maung,” katanya.
Komisi V juga menemukan tidak adanya simulasi menyeluruh maupun uji kelayakan terhadap sistem sebelum diterapkan.
“Temuan kita tidak ada uji kelayakan sehingga uji cobanya disekaliguskan dengan penerapan di dalam sistem penerimaan siswa Sekolah Maung,” tegasnya.
Yomnius menilai kondisi tersebut menjadi pelajaran bahwa program strategis tidak dapat dijalankan secara tergesa-gesa.
“Sekolah Garuda pun tidak masif. Itu memberikan pesan bahwa mengelola ini tidak bisa ujug-ujug bagus,” ujarnya.
Sementara itu, persoalan ketiga berkaitan dengan peningkatan kualitas guru dan sarana pendukung di Sekolah Maung. Ia menjelaskan, konsep sekolah tersebut menuntut kompetensi guru yang lebih tinggi.
“Di Sekolah Maung itu akan didorong ke C4, C5, C6. Guru harus bisa menganalisis, mengevaluasi, dan menemukan sesuatu yang baru. Sehingga kemudian guru dipaksa untuk naik kompetensinya ke ranah itu,” kata Yomnius.
Karena itu, ia meminta Dinas Pendidikan serius melakukan peningkatan kapasitas guru di seluruh Sekolah Maung.
“Kita berharap Disdik tidak main-main dengan upgrading guru di 41 sekolah,” ujarnya.
Selain kualitas guru, Yomnius juga menyoroti kondisi sarana dan prasarana di sekolah-sekolah eks-RSBI yang menurutnya mulai mengalami penurunan kualitas.
“Kalau ini menjadi program strategis yang sungguh-sungguh dari Pak Gubernur dan Disdik, maka saya melihat support-nya jangan tanggung-tanggung,” pungkasnya.
