
WACANA BERITA – Proyek Infrastruktur Pasif Telekomunikasi (IPT) atau ducting kabel udara saat ini telah memasuki tahap 4 pada awal April 2026. Proyek ini menjadi salah satu program penataan yang berfokus pada kerapian jaringan kabel sekaligus peningkatan keamanan ruang publik di sejumlah ruas jalan utama.
Sebelumnya, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandung, Henryco Arie Sapiie, menegaskan bahwa seluruh proses pengerjaan tidak hanya dikejar dari sisi penyelesaian, tetapi juga wajib memenuhi standar keselamatan agar tidak menimbulkan risiko bagi masyarakat pengguna jalan.
“Pastinya kita kawal, jangan sampai penyelesaiannya kurang baik sehingga bisa membahayakan keselamatan warga. Itu yang akan terus kita awasi agar ke depan hasilnya lebih baik,” ujarnya, Kamis (9/4/2026)
Pantauan Koran Mandala Pukul 13.08 WIB, di kawasan Jalan Kebon Jati, Memasuki periode pengerjaan 6 – 17 April 2026, sejumlah titik pembangunan IPT terlihat aktif dikerjakan. Jalur tersebut dikenal sebagai jalur padat kendaraan sekaligus aktivitas perdagangan dan transportasi.
Di lapangan, respons masyarakat cukup beragam. Sejumlah pengguna jalan mengaku memahami pentingnya proyek ini untuk jangka panjang, namun tetap menyoroti dampak sementara berupa kemacetan dan penyempitan jalur.

Seorang pengemudi ojek online berinisial AA (37) mengatakan bahwa dirinya kerap melintasi kawasan tersebut setiap hari sehingga merasakan langsung dampak pekerjaan proyek.
“Kalau siang memang agak tersendat, karena ada alat dan material yang mengambil sebagian badan jalan. Tapi saya paham ini untuk kebaikan ke depan. Cuma memang harus lebih diperhatikan keselamatannya, terutama saat jam ramai, jangan sampai ada kecelakaan akibat proyek tersebut terulang kembali” ungkapnya.
AA juga menambahkan bahwa koordinasi di lapangan perlu ditingkatkan, terutama dalam pengaturan arus kendaraan agar tidak terjadi penumpukan yang berpotensi membahayakan pengendara roda dua.
Sementara itu, Dewi (34), warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi proyek, menyoroti kondisi pejalan kaki yang terkadang harus berhati-hati saat melintas di area pengerjaan.
“Jalannya jadi lebih sempit, kadang kalau malam juga penerangannya kurang. Saya sebagai pejalan kaki harus ekstra hati-hati. Harapannya ada pengaturan yang lebih jelas supaya tidak membahayakan warga,” tuturnya.
Ia berharap pihak pelaksana proyek dapat menyediakan jalur aman sementara bagi pejalan kaki, terutama di titik-titik yang berdekatan dengan aktivitas pengerjaan berat.
Dengan masuknya tahap 4, proyek ini diharapkan dapat berjalan lebih tertib dan minim gangguan, sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan masyarakat tanpa mengorbankan keselamatan pengguna jalan maupun warga sekitar.
