Monday, September 21News That Matters

PLTSa Jabar Dinilai Tak Cukup Tanpa Perubahan Budaya


WACANA BERITA – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah PLTSa di Jawa Barat kembali mengemuka setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan kesepakatan pengelolaan sampah menjadi energi listrik.

Kesepakatan tersebut dicapai dalam rapat antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kementerian Lingkungan Hidup, dan sejumlah kepala daerah di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang, Minggu (5/4/2026).

“Hari ini kita sudah menyelesaikan problem yang puluhan tahun nggak selesai-selesai, yaitu ngurus sampah dirubah menjadi energi listrik,” ujar Dedi Mulyadi melalui akun Instagram pribadinya.

Menanggapi hal tersebut, Pengamat Politik Universitas Pasundan (Unpas), Fahmy Iss Wahyudy, menilai bahwa gagasan PLTSa bukan hal baru, namun menjadi langkah positif jika benar-benar terealisasi.

“Saya kira usulan pembangkit listrik tenaga sampah itu sudah berlangsung selama puluhan tahun. Dan syukurnya hari ini mulai terealisasi,” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (9/4/2026).

Meski demikian, ia menegaskan bahwa PLTSa bukan solusi utama dalam jangka panjang.

“Saya kira ini solusi, tapi kalau secara konseptual itu lebih bersifat jangka pendek atau temporer,” tegasnya.

Fahmy menjelaskan, persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan pengolahan, tetapi juga erat dengan perilaku dan budaya masyarakat.

“Seberapapun dikurangi, kalau volume sampahnya tetap tinggi, maka ini hanya akan menjadi solusi sementara saja,” katanya.

Ia pun menekankan pentingnya pendekatan berbasis budaya sebagai solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan sampah.

“Solusi jangka panjang itu membangun budaya partisipatif masyarakat, misalnya dengan mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah organik dan non-organik, serta kebiasaan hidup yang lebih ramah lingkungan,” ungkapnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut telah terbukti berhasil di sejumlah daerah, bahkan di negara maju.

“Kalau kita lihat negara seperti Jepang, itu berhasil karena budaya masyarakatnya sudah terbentuk. Mereka tertib dalam mengelola sampah,” ujarnya.

Fahmy menilai, tanpa perubahan budaya di tingkat masyarakat, program PLTSa berpotensi tidak efektif dalam jangka panjang.

“Kalau tidak dibarengi dengan perubahan budaya, PLTSa tidak akan menjadi solusi jangka panjang karena volume sampah akan terus meningkat,” pungkasnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *