
WACANA BERITA – Sisa hujan masih membasahi jalanan Dago, Kota Bandung, malam hari. Di bawah lampu jalan, asap tipis mengepul dari panci cilok yang kembali dipanaskan.
Di balik gerobak sederhana itu, Raja Saut Martua Sinaga (26), perantau asal Majalengka, tak hanya melayani pembeli. Ia juga membuka lembar demi lembar buku, sementara beberapa pengunjung tampak duduk membaca di dekat lapaknya.
Pemandangan itu menjadi hal yang tak biasa lapak cilok yang sekaligus menjadi ruang baca gratis, dari pukul 19.00 WIB – 00.00 WIB.
Raja bercerita, ide tersebut berawal dari kebiasaan pribadinya yang gemar membaca. Ia kerap membawa buku saat berjualan, meski tak selalu sempat dibaca.
“Awalnya sederhana, saya memang suka baca. Bukan pembaca yang spesifik, tapi baca apa saja komik, novel, apa pun,” ujarnya saat ditemui di lapaknya Rabu, (8/4/2026)
Namun kebiasaan itu justru memunculkan respons yang tak terduga dari pembeli. Banyak yang mengira dirinya berasal dari kalangan akademisi hanya karena terlihat membaca buku di sela berjualan.
“Orang suka nanya, ‘Kuliah di mana, A?’ Seolah-olah kalau baca buku itu pasti dari golongan tertentu, Mungkin karena Satu buku itu harganya lumayan. Kalau dilihat dari saya yang tukang cilok dengan pendapatan enggak seberapa, satu buku itu bisa setara dengan satu hari saya jualan” ujarnya
Dari situlah Raja menyadari adanya stigma di masyarakat bahwa buku identik dengan kelompok tertentu, baik dari sisi pendidikan maupun ekonomi.
“Dari situ lahir stigma bahwa buku itu seolah milik kalangan tertentu akademisi, mahasiswa, atau orang dengan kondisi ekonomi yang mampu menjangkaunya. Akhirnya buku terkesan eksklusif. Jadi terasa aneh ketika tukang cilok membaca buku.”

1. Perubahan terjadi saat Ramadan.
Ia tak lagi berjualan keliling, melainkan menetap di satu titik di Jl kawasan Dago, Dari situ muncul gagasan sederhana, membuka lapak baca agar buku-buku koleksinya tidak hanya menumpuk di kontrakan.
Sejak saat itu, lapaknya tak hanya menjual cilok, tetapi juga menyediakan berbagai buku gratis untuk dibaca siapa saja. Koleksinya pun beragam, mulai dari novel, buku sejarah, hingga bacaan umum tanpa genre khusus.
Dari pengalaman tersebut, Raja melihat persoalan literasi dari sudut pandang yang lebih luas. Ia juga menilai rendahnya minat baca tidak semata-mata disebabkan oleh harga buku.
“Akses ke buku juga masih terbatas, lingkungan juga berpengaruh. Kalau di sekitar kita enggak ada yang suka baca, kita juga jadi bingung mau mulai dari mana,” katanya.
Bahkan, menurutnya, banyak orang sebenarnya ingin mulai membaca, namun terkendala dalam menentukan pilihan.
“Banyak yang nanya ke saya, harus mulai baca dari buku apa. Itu menunjukkan sebenarnya minatnya ada, kepeduliannya ada, tapi orang masih ragu. Mereka takut salah pilih buku, karena sekali beli itu butuh biaya,” ujarnya.
2. Menolak Donasi Buku
Meski lapaknya mulai dikenal dan mendapat banyak respons positif, Raja tetap menjaga konsep sederhana yang ia bangun. Ia bahkan mengaku kerap menolak donasi buku demi menjaga kualitas dan kuantitas pengalaman membaca.
Ia ingin orang datang bukan sekadar ramai, tetapi benar-benar membaca dan kembali lagi karena kebutuhan akan literasi.
“Makanya saya bikin lapak ini bukan sekadar biar buku saya numpuk, tapi juga biar orang lain bisa ngerasain bahwa baca itu bisa dimulai dari mana saja. Enggak harus langsung beli, enggak harus punya banyak uang,” katanya.
Di tengah ramainya pengunjung yang datang ke lapaknya, Raja Saut Martua Sinaga juga kerap membagikan cara sederhana bagi siapa saja yang ingin mulai membaca.

3. Tips Membaca Ala Raja Saut Martua Sinaga
1. Mulai dari keresahan pribadi
Mulai membaca dari hal yang sedang dirasakan. Saat sedih atau butuh jawaban, cari buku yang relevan dengan perasaan tersebut.
2. Cari referensi sebelum memilih buku
Sebelum membeli, lihat ulasan atau rekomendasi dari orang lain agar tidak salah memilih bacaan.
3. Pilih buku yang “ngena” secara emosional
Buku yang sesuai dengan kondisi emosi akan lebih mudah dinikmati dan membuat pembaca lebih terhubung.
4. Bangun kebiasaan secara perlahan
Jika sudah menemukan buku yang cocok, keinginan membaca akan tumbuh dengan sendirinya tanpa perlu dipaksakan.
5. Jangan takut memulai dari hal sederhana
Mulai saja dari apa yang dirasakan dan yang tersedia, tanpa harus menunggu kondisi ideal.
Bagi Raja, membaca bukan hanya soal kebiasaan, tetapi juga soal cara pandang terhadap ilmu dan kehidupan. Ia berharap stigma tentang buku sebagai barang eksklusif bisa perlahan hilang
“Kalau menurut saya, buku itu bukan milik golongan tertentu, bukan milik kasta tertentu. Buku itu milik semua orang. Kita semua punya hak yang sama untuk membaca. Membaca itu bukan sekadar hobi, tapi keharusan. Kita memang perlu membaca untuk memahami banyak hal dalam hidup, bukan sekadar menjadikannya sebagai pilihan.” Tegasnya
