
WACANA BERITA – Penanganan banjir di Kota Bandung dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh dengan menggabungkan berbagai pendekatan. Praktisi manajemen kebencanaan, Ir. Bayu Tresna, menegaskan bahwa mitigasi banjir tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan fisik, tetapi juga harus diimbangi dengan kesiapan masyarakat.
Menurutnya, dalam konteks penanganan banjir, terdapat dua pendekatan utama yang harus berjalan beriringan, yakni struktural dan nonstruktural.
“Pendekatan mitigasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu struktural dan nonstruktural,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pendekatan struktural mencakup pembangunan infrastruktur pengendali air seperti tanggul, pintu air, dan sistem drainase. Infrastruktur tersebut berperan penting dalam mengurangi debit air berlebih saat curah hujan tinggi.
Sementara itu, pendekatan nonstruktural lebih menitikberatkan pada aspek nonfisik, seperti edukasi masyarakat, perencanaan tata ruang, serta peningkatan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
“Pendekatan nonstruktural menekankan edukasi, tata ruang, dan kesiapsiagaan masyarakat agar dampak banjir bisa diminimalkan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Bayu memaparkan sejumlah konsep penting dalam pengelolaan banjir yang perlu diterapkan secara berkelanjutan. Di antaranya adalah pengelolaan tata guna lahan (land use management) agar pembangunan tidak memperparah risiko banjir, serta pengelolaan sumber daya air (water resources management) untuk menjaga keseimbangan distribusi air.
Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan banjir terpadu (integrated flood management) yang menggabungkan berbagai sektor dan kebijakan, serta manajemen risiko (risk management) guna mengantisipasi potensi kerugian sejak dini.
Selain itu, Bayu menilai peningkatan sistem drainase menjadi langkah mendesak yang harus dilakukan. Infrastruktur saluran air perlu diperbarui agar mampu menampung debit air yang semakin tinggi.
Ia merinci sejumlah langkah strategis yang perlu diperkuat dalam penanganan banjir, antara lain
1. Peningkatan Sistem Drainase: Memperbarui infrastruktur saluran air untuk meningkatkan kapasitas.
2. Manajemen Banjir : Pengelolaan komprehensif untuk mengurangi dampak banjir.
3. Sistem Peramalan dan Peringatan Banjir: Penerapan teknologi untuk prediksi dan peringatan dini.
4. Kampanye Kesadaran Publik : Edukasi masyarakat mengenai risiko dan kesiapsiagaan bencana.
5. Kolaborasi Antar Lembaga Bencana: Kerja sama berbagai instansi untuk koordinasi respon yang efektif.
Dengan pendekatan terpadu tersebut, Bayu berharap penanganan banjir di Kota Bandung tidak lagi bersifat reaktif, melainkan lebih preventif dan berkelanjutan di tengah ancaman cuaca ekstrem yang kian meningkat.
