Thursday, October 8News That Matters

Libur Usai, Puncak Tetap Macet: WFA dan Libur Sekolah Uji Konsistensi Rekayasa Lalu Lintas


WACANA BERITA – Jalur Puncak seolah tak pernah benar-benar “sepi” pasca-Lebaran. Meski libur Idulfitri 1447 Hijriah telah berakhir, ribuan kendaraan masih memadati kawasan wisata tersebut hingga sepekan kemudian, Jumat (27/3/2026). Lonjakan ini dipicu kombinasi libur sekolah yang belum usai dan tren Work From Anywhere (WFA) yang dimanfaatkan masyarakat untuk memperpanjang masa tinggal.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan klasik: apakah manajemen lalu lintas di kawasan Puncak benar-benar adaptif terhadap perubahan pola mobilitas, atau masih terpaku pada pola musiman Lebaran semata?

Data di lapangan menunjukkan volume kendaraan masih berada di atas normal. Tak hanya wisatawan, sisa arus balik pemudik juga masih mengalir, membuat beban jalur pegunungan tersebut kian kompleks campuran antara mobilitas rekreasi dan kebutuhan perjalanan jarak jauh.

PKL “Kuasai” Trotoar di Bandung Timur, Perda Jalan di Tempat, Pengawasan Dipertanyakan

Menghadapi kondisi ini, Satlantas Polres Bogor memperpanjang rekayasa lalu lintas hingga akhir pekan. Skema satu arah (one way) tetap menjadi andalan, diberlakukan secara situasional: arah naik pada pagi hari dan arah turun pada siang hingga malam.

“Kami masih memberlakukan rekayasa lalu lintas hingga Minggu, 29 Maret 2026, menyesuaikan kondisi di lapangan,” ujar KBO Satlantas Polres Bogor, Iptu Ardian Novianto.

Namun, ketergantungan pada skema one way kembali menuai sorotan. Di satu sisi, sistem ini efektif mengurai kepadatan sesaat. Di sisi lain, pola yang sama terus berulang setiap musim liburan tanpa solusi jangka panjang untuk mengurangi beban kendaraan di jalur sempit tersebut.

Lebih jauh, fenomena WFA justru memperpanjang “umur” kemacetan. Jika sebelumnya lonjakan hanya terjadi di puncak arus mudik dan balik, kini kepadatan menyebar lebih panjang dan sulit diprediksi.

Meski Operasi Ketupat Lodaya 2026 telah resmi berakhir, kepolisian belum menurunkan intensitas pengamanan. Polres Bogor tetap menggelar Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan (KRYD), dengan jumlah personel setara masa operasi.

Fokus pengamanan diarahkan pada titik-titik rawan seperti Simpang Megamendung dan Pasar Cisarua—dua simpul yang kerap menjadi bottleneck dan memicu antrean panjang.

“Sampai Minggu nanti, personel tetap siaga penuh. Kami tidak ingin ada penumpukan yang tidak terantisipasi,” tegas Ardian.

Langkah ini menunjukkan kesadaran aparat bahwa arus kendaraan di Puncak tidak lagi bisa dibaca dengan pola konvensional. Namun, di sisi lain, pendekatan yang masih mengandalkan rekayasa situasional menandakan belum adanya solusi struktural.

Tanpa pembatasan volume kendaraan, penguatan transportasi publik, atau manajemen destinasi wisata yang lebih terdistribusi, Jalur Puncak akan terus menjadi “titik lelah” setiap musim liburan bahkan setelah libur resmi berakhir.

Polisi pun mengimbau masyarakat untuk memantau jadwal one way melalui kanal resmi TMC sebelum berangkat. Namun pada akhirnya, disiplin pengguna jalan dan keberanian pemerintah mengambil kebijakan strategis tetap menjadi kunci.

Sebab jika tidak, kemacetan di Puncak hanya akan berubah bentuk bukan berkurang.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *