Saturday, September 26News That Matters

71.433 Pelajar di Bandung Terindikasi Alami Masalah Mental, Psikolog: Generasi Z dan Alfa Lebih Rentan


WACANA BERITA – Pemerintah Kota mencatat sebanyak 71.433 dari tingkat SD hingga SMA di Kota Bandung terindikasi mengalami masalah kesehatan mental. Angka tersebut diperoleh dari hasil pemeriksaan kesehatan mental yang dilakukan terhadap 148.239 pelajar pada periode Agustus hingga Oktober 2025.

Berdasarkan data tersebut, sekitar 48,19 persen pelajar yang menjalani pemeriksaan menunjukkan indikasi gangguan kesehatan mental.

Secara rinci, pada jenjang Sekolah Dasar (SD) sederajat, sebanyak 53,75 persen siswa terindikasi mengalami masalah kesehatan mental. Pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat sebesar 49,09 persen. Sementara pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat tercatat 25,79 persen siswa mengalami indikasi serupa. Adapun pada Sekolah Luar Biasa (SLB) angkanya mencapai 48,51 persen.

Pemain Persib Bandung yang Kontraknya Habis di Akhir Musim Ini, Ada Kurzawa hingga Frans Putros

Psikolog sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Fitriani Y. Lubis, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan adanya perbedaan cukup mencolok antara kesehatan mental pelajar saat ini dengan generasi sebelumnya.

“Secara umum memang ada kecenderungan bahwa siswa-siswi saat ini lebih rentan kesehatan mentalnya,” kata Fitriani.

Menurutnya, fenomena tersebut tidak terlepas dari perkembangan zaman di era digital yang memengaruhi pola interaksi generasi muda.

Perubahan tersebut turut memengaruhi kondisi sosial, pola pengasuhan, serta pengalaman hidup anak-anak dan remaja, sehingga membuat generasi Z dan generasi Alfa memiliki tingkat kerentanan mental yang lebih tinggi.

Ia menjelaskan dominasi interaksi di dunia digital juga berdampak pada kemampuan fokus serta keterampilan sosial para pelajar.

“Ketika berinteraksi dengan lingkungannya, mereka jadi tidak bisa terlalu mindful dan intens. Akibatnya stimulus sosial yang mereka tangkap bisa saja disalahartikan,” ujarnya.

Fitriani juga menyoroti peran media sosial yang kerap menciptakan standar kehidupan yang tidak realistis bagi generasi muda.

Menurutnya, media sosial sering menghadirkan gambaran kehidupan yang tampak sempurna sehingga membuat pelajar merasa harus mencapai standar tertentu agar dianggap berhasil atau bahagia.

“Media sosial sekarang seperti menjadi ilusi kesempurnaan bagi generasi muda. Mereka melihat bahwa yang harusnya mereka capai adalah seperti yang ada di dunia maya, padahal akurasinya bisa dipertanyakan,” jelasnya.

Melihat kondisi tersebut, Fitriani menyarankan agar orang dewasa di sekitar anak membantu menyeimbangkan kehidupan digital dan kehidupan nyata agar tercipta hubungan sosial yang lebih sehat.

“Harus berteman dengan digital dan media sosial agar tidak ketinggalan zaman, tapi penggunaannya harus dikontrol. Kita yang mengendalikan perilaku digital, bukan sebaliknya,” katanya.

Ia juga mendorong para orang tua untuk memperbanyak aktivitas yang melibatkan interaksi langsung serta melatih anak untuk kembali fokus pada aktivitas dalam durasi waktu yang lebih panjang.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memperbaiki kesehatan mental pelajar yang saat ini semakin tergerus oleh distraksi digital.

“Bantu anak-anak agar lebih sedikit berinteraksi dengan digitalnya dan lebih banyak berinteraksi dengan kehidupan yang riil, sesuatu yang memang ada di sekitar mereka,” pungkasnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *