
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pada perdagangan Selasa (27/10/2026). Indeks sempat anjlok 3,08% ke level 5.207,76 hingga pukul 15.01 WIB, sebelum akhirnya memangkas pelemahan dan ditutup di level 5.266,13.
Pada penutupan perdagangan, IHSG turun 106,96 poin atau 1,99% dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai tekanan terhadap IHSG dipengaruhi kombinasi sentimen global, arus dana asing, dan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap pasar modal Indonesia.
“Secara umum, tekanan terhadap IHSG perlu dilihat dari kombinasi sentimen global, arus dana asing, dan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap pasar modal domestik,” ujar Nafan dalam keterangannya, Selasa (27/10/2026).
Menurutnya, aksi jual agresif investor asing berpotensi memperbesar tekanan terhadap saham-saham berkapitalisasi besar. Pasalnya, pergerakan saham-saham tersebut memiliki pengaruh signifikan terhadap arah IHSG secara keseluruhan.
“Ketika investor asing melakukan aksi jual secara agresif, tekanan terhadap saham-saham berkapitalisasi besar dapat semakin kuat dan menyeret indeks secara keseluruhan,” jelasnya.
Selain arus dana asing, ketidakpastian terkait evaluasi MSCI terhadap klasifikasi pasar saham Indonesia juga menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi sentimen investor.
Di tengah proses pembenahan transparansi dan tata kelola pasar modal, sebagian investor dinilai dapat memilih bersikap hati-hati atau wait and see sebelum kembali meningkatkan investasinya di pasar saham domestik.
Nafan juga menyoroti pelemahan rupiah dan ketidakpastian pasar global yang dapat meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk saham.
Tekanan Jual Bisa Diperkuat Faktor Teknikal
Selain sentimen fundamental dan makroekonomi, penurunan IHSG juga berpotensi diperparah oleh faktor teknikal. Beberapa di antaranya adalah aksi ambil untung (profit taking), penembusan level support, serta mekanisme cut loss yang dapat memicu aksi jual lanjutan.
“Koreksi IHSG yang mencapai sekitar 3% juga dapat diperkuat oleh faktor teknikal, seperti aksi profit taking, penembusan level support, dan mekanisme cut loss yang memicu penjualan lanjutan,” ungkap Nafan.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa faktor yang paling dominan memicu pelemahan IHSG pada perdagangan hari itu masih perlu dikonfirmasi melalui data pasar.
Investor perlu mencermati pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar, luasnya koreksi di berbagai sektor, serta data transaksi dan aksi jual bersih (net sell) investor asing.
Baca Juga: IHSG Ambruk Hampir 2%, Rupiah Ikut Loyo ke Rp18.135 per Dolar AS
Baca Juga: IHSG Ambruk 1,99% ke Level 5.266,13, Ratusan Saham Berguguran!
Baca Juga: IHSG Terjun Bebas 3,08%, Nyaris Jebol Level 5.200
“Namun, untuk memastikan sentimen yang paling dominan pada perdagangan hari ini, perlu dicermati pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar, keluasan koreksi di berbagai sektor, serta data transaksi dan net sell investor asing,” katanya.
Nafan menegaskan, pelemahan IHSG tidak serta-merta menunjukkan bahwa fundamental seluruh perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut memburuk.
Menurutnya, koreksi indeks juga dapat mencerminkan meningkatnya premi risiko dan melemahnya kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik.
“Dengan demikian, pelemahan IHSG tidak serta-merta mencerminkan penurunan fundamental seluruh emiten, tetapi juga dapat menunjukkan tingginya premi risiko dan melemahnya kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik,” pungkas Nafan.
