Monday, October 26News That Matters

Nyampe Sih! Dedi Mulyadi Sebut Pemimpin yang Baik itu Harus Kuasai Hal Kecil di Lapangan, Biar Tak Ditipu Anak Buah


Wacana Berita, Jakarta –

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa seorang pemimpin harus memahami persoalan secara detail, termasuk hal-hal kecil di lapangan, bukan hanya menguasai gambaran besar atau analisis makro.

Ia juga menyatakan terbuka terhadap kritik masyarakat sebagai bagian dari upaya memperbaiki kinerja pemerintahan.

Pernyataan tersebut disampaikan Dedi melalui akun media sosialnya dan dikutip pada Senin (26/10/2026). Menurutnya, kemampuan memahami persoalan hingga tingkat mikro membuat seorang pemimpin dapat mengawasi kinerja bawahannya secara lebih cermat.

“Pentingnya kemampuan analisis mikro bagi seorang pemimpin, bukan sekadar pemahaman secara makro. Ini saya tahu, saya enggak bisa ditipu sama anak buah,” kata Dedi.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada warganet dan para pemengaruh atau influencer yang memberikan kritik terhadap dirinya.

Dedi menilai kritik tersebut merupakan bagian dari keterbukaan informasi, demokrasi, dan perkembangan ruang digital yang memungkinkan masyarakat ikut menilai kinerja pemerintah.

Dedi menegaskan bahwa pemerintahannya akan terus terbuka terhadap berbagai masukan, baik yang disampaikan dengan bahasa halus maupun kritik keras. Menurutnya, masukan masyarakat dapat menjadi bahan evaluasi agar pembangunan Jawa Barat terus mengalami kemajuan.

“Saya senyum menghadapi ucapan yang kasar karena memang kita makhluk kasar bukan makhluk halus,” tambahnya.

Ia menyatakan kritik tersebut harus menjadi dorongan untuk memperbaiki kekurangan, bukan alasan untuk menutup diri dari masyarakat.

Selain menyinggung kepemimpinan dan kritik publik, Dedi juga menyatakan bahwa penanganan kebakaran di kawasan Gunung Ciremai telah tuntas. Ia menjelaskan bahwa upaya pemadaman dilakukan dengan memanfaatkan peralatan sederhana yang tersedia di lapangan.

Menurut Dedi, penanganan darurat tidak bisa selalu menunggu kedatangan bantuan berskala besar. Selama api masih berpotensi meluas, langkah awal perlu dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.

Ia mencontohkan penggunaan ranting, bambu, cangkul, dan golok untuk membantu memadamkan api. Langkah tersebut, menurutnya, merupakan bentuk penanganan darurat ketika peralatan yang lebih canggih, termasuk bantuan pemadaman udara atau water bombing, belum tersedia.

Dedi mengibaratkan situasi tersebut dengan penanganan medis darurat. Ketika seseorang mengalami gangguan pernapasan, serangan jantung, atau tenggelam, pertolongan awal perlu diberikan sebelum pasien mendapatkan penanganan lanjutan dengan fasilitas medis yang lebih lengkap.

Menurutnya, tindakan sederhana tetap memiliki arti penting ketika fasilitas dan tenaga ahli belum tiba di lokasi.

Menutup pernyataannya, Dedi menyampaikan harapan agar hari Senin membawa kebahagiaan dan upaya pemadaman di Gunung Ciremai berjalan dengan baik. Ia juga menyampaikan pesan reflektif mengenai kebencian yang dinilai lebih sulit diatasi dibandingkan api.

“Semoga hari Senin ini membawa kebahagiaan. Ciremai mudah dipadamkan, tapi kebencian yang ada dalam jiwa sulit dipadamkan,” ujar Dedi.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *